Skip to main content

The Art of Art

Saya baru menghadiri sebuah galeri titik Oranje yang kebetulan berada di rumah saya sendiri. Tadi sore adalah acara pembukaan bahwa galeri ini resmi dibuka. Karya yang ditampilkan adalah hasil para seniman yang dihimpun menjadi satu kelompok. Cukup banyak yang datang.

Dari sekian banyak seniman, saya suka dengan karya ini pada kesan pertama.


Karya ini membuat saya bertanya-tanya darimana ia mendapatkan inspirasi membuat karya ini. Saya, yang sebelumnya saling komentar dengan saudara saya tentang karya ini, mengeluh, "Mana sih senimannya? Katanya enggak datang ya?". Tiba-tiba seorang perempuan disebelah saya berkata, "Saya senimannya!"

Haduh. Malu. Ternyata dari tadi ia ada disebelah saya dan mendengarkan komentar saya. Kenapa enggak bilang dari tadi sih? Untung saya komentar yang baik-baik.

Namanya Tisa Granisia. Ia lahir pada tahun 1981 dengan pendidikan terakhir magister seni rupa ITB. Dengan meluangkan waktunya, ia menjawab pertanyaan-pertanyaan saya terutama pertanyaan darimana ia dapat inspirasi karya ini.

Tisa sedang menceritakan inspirasi dan proses pembuatan

Tisa menjawab bahwa ini terinspirasi pada identitas gender. Ia mengimajinasikan dirinya sebagai binatang yang ada di hutan. Ini seperti metafora dirinya tentang bagaimana bertahan dalam dunia seni kontemporer di Indonesia.

Jawaban Tisa cukup mengecewakan saya karena tidak sesuai dengan jawaban yang saya harapkan. Saya mengharapkan Tisa menjawab bahwa ia membuat ini tanpa alasan, hanya karena inspirasi yang datang sebuah mimpi. Karena, jujur, ketika pertama kali saya melihat patung ini, saya menangkap rasa ganjil, aneh, dan tidak nyata. Dan justru itu yang membuat saya suka.

Kemudian saya melongok karya lainnya, sebuah karya Fery Pharama - seorang instruktur klinik teknologi keramik.


Saya suka karya ini. Ketika saya membaca labelnya, lagi-lagi mengecewakan saya karena menceritakan tentang matahari, bulan, dan manusia yang sejajar. Saya pikir ini mengenai alam mimpi atau tentang manusia yang sedang melamun karena kedua bulatan yang di atas sebagai bentuk lamunan.

Anehnya mengapa saya harus kecewa? Saya pernah membahas tentang seni bersama teman-teman saya. Seni, yang mengangkat hasil perasaan dan pengalaman seniman, tentunya bisa dipersepsikan berbeda oleh yang melihatnya. Seni tidak memaksakan rasa penikmat harus sesuai dengan rasa seniman - begitu juga sebaliknya.

Galeri pun ditutup dengan kedatangan seorang kurator yang akan membeli karya Tisa seharga puluhan juta. Saya terkaget-kaget tentang bagaimana sebuah ide dihargai sedemikian mahalnya.

Pernah saya berbicara dengan teman-teman saya tentang hak cipta. Ada yang berkata, "Coba bayangkan jika dunia tanpa hak cipta". Saya tidak terbayang rasa jengkel dan kesal jika karya-karya saya di ambil orang lain (apalagi dia dapat penghargaan atas itu). Namun salah satu teman saya berkata, "Sebenarnya ada yang tidak bisa diambil, yaitu ide. Orang boleh ambil karya kita, tapi mereka tetap tidak akan bisa mengambil ide kita". Setelah itu saya jadi terpikirkan bahwa memang betul juga. Silahkan ambil karya saya karena saya masih bisa menciptakan ratusan bahkan ribuan karya lainnya karena saya memiliki sesuatu yang tidak bisa diambil: ide.

Kadang, jika saya melihat karya seni walaupun tidak mengerti, saya berpikir sebenarnya ide itu bisa diambil dari sehari-hari. Tapi yang membuat ide biasa menjadi luar biasa dan dibangkitkan menjadi suatu karya itulah mungkin yang sering terlewatkan.

Mungkin itulah seninya seni.

Comments

AHEAD said…
Yap you're right....
"Seninya seni". Saya suka bunyinya.

Tentu, kemampuan ber-gagas itulah yang tidak mudah dicuri. Penglihatan dan kepekaan pada hal-hal yang baginya sentimentil; Ini berkaitan dengan pengalaman yang dialaminya. Bukankah apa-apa yang ada sejak lahir dan yang terbentuk dari pengalaman itulah yang membedakan satu dengan yang lain? Mulai dari membedakan gender; sampai membedakan etnis dan ras secara stereotipal.
(Kalo ngalor-ngidul, maap, kak Nia. Aku kepikiran buku yang belom disusun buat besok sekolah. Sempet-sempetnya mampir ke sini :D Hehehe)
Brahm said…
Itulah yg (kupikir) susah dari seni (dan segenap karya yg diatasnamakan dgnya). Parameternya subyektif banget. Seniman, penikmat, teoritikus, jg kritikus bisa punya interpretasi berbeda utk satu karya. Dan semuanya sah! Tdk ada yg salah. Maka orang awam mcm aku cuma bisa menganga di depan pertunjukan besar bernama "seni".
macangadungan said…
kesimpulan yang mantap, gue pun merinding bacanya

karya bisa diambil, tp nggak dengan idenya :)

btw, somehow... patung yang pertama mengingatkan gue ama lagu2nya radiohead, entah kenapa :D
mynameisnia said…
@Johan: Tidak usah jauh2 ke gender atau etnis. Setiap orang saja dilahirkan dengan sidik jadi yang gak pernah sama.

Hayooo, susun bukunya! Hehe.

@Brahm: Iya, betul. Parameternya subjektif! Kritikus secara kasat mata seperti tidak memiliki hak untuk mengkritik pengalaman seseorang. Tapi ya itu.. semuanya sah2 saja.

@macan: Gue malah inget sama Bjork pas pertama kali lihat. Waah.. Hehehe. Tapi kedua musisi itu sepertinya memiliki perasaan yang sama: aneh, unik, dan terkadang ganjil.

Ihhh.. suka deh sama semua komentarnya. Makasih ya!
Entah berhasil tersampaikan atau tidak, tapi, judul besar komentar saya tadi malam adalah kausalitas dari perbedaan tiap-tiap individu. Bukankah perbedaan itu tidak lahir tiba-tiba? Penjahat bisa saja terlahir jahat, dan bisa juga tidak. Maksud saya, keadaan seseorang di satu hari tertentu, bisa saja berbeda, bahkan di satu hari sebelumnya.
Dan, tentunya, semua punya alasan. Sederhana, atau rumit, kausa tetap ada.

Begitu juga karya: Nisbi dan Sentimentil.
Ia memiliki banyak muka. Mata manusia akan lebih cepat "menangkap" sisi yang mirip dengan pengalamannya; Yang sentimentil; Yang pernah bersisian dengan inderanya.

Itu juga terlepas dari alasan sang pembuat :)
Mimpi dan "inspirasi-durian-runtuh" memang hadir dalam setiap karya, sebagaimana "kebetulan-kebetulan" dijelaskan oleh sinkronisitas.
mynameisnia said…
Saya belum bisa menarik benang merah antara apa yang Johan bilang dan apa yang saya kemukakan.

Tapi marilah kita kembali lagi ke seni dan samakan persepsi - daripada jadi melebar ke ras dan etnis seperti yang Johan bilang sebelumnya.

Kalau masalah sentimentil saya setuju dan saya mengerti. Tapi yang saya tidak mengerti, menurut Johan, perbedaan tiap individu dapat menyebabkan perbedaan karya dan persepsi yang melihatnya?

Atau saya tarik intinya aja deh:

Jadi, ide itu tercipta berdasarkan pengalaman hidup yang sentimentil dan pengalaman hidup orang yang berbeda-beda itulah yang tertuang menjadi sebuah karya seni. Jadi, inilah prinsip kausalitas menurut Johan?
Tunggu, tunggu. Walaupun sedikit berbeda dengan pengertian pragmatisnya, saya mengartikan sentimentil sebagai pembangkit rasa. (Sekedar menyamakan pengertian)

Tapi, iya, ya. Sepertinya saya terlalu jauh ngalur-ngidul. Maaf, deh, kakakku..

Ehm, mengenai kausalitas, saya selalu percaya, ada jaring yang bernama sinkronisitas. Dengan kesadaran atau tidak, kecil atau besar, jauh atau dekat, semua hal terikat jaring itu: Linear waktu lalu-sekarang-kemudian, sel-jaringan-organ juga, individu-populasi-komunitas juga, bahkan semesta.

Mimpi, dan inspirasi juga bagian dari jaring itu, bukan?
(Yayaya, i suggest we continue this ngalur-ngidul session somewhere else if i ain't gonna be mistaken with a junker/flamer/or anything with more time and diligence to spend. Or, we'll continue the confusion?)
Sundea said…
This comment has been removed by the author.
Sundea said…
Ni, jangan2 mustinya elu jadi seniman yang bikin karya sendiri.

Mungkin lu kecewa sama jawaban senimana, karena buat lo seniman2 itu proyeksi diri lo. Bisa jadi deep inside lo sendiri seniman yg punya dorongan tertentu dalem berkarya.

Mau nyoba bikin karya seni rupa ... ? Ato sebenernya udah tapi gue ga tau ... ?=p
mynameisnia said…
@Johan: Jujur, tulisan kamu susah dicerna. Saya mengerti, tapi gaya bahasanya njelimet dan terlalu banyak istilah.

Sama seperti Johan, saya juga setuju dengan sinkronitas - seperti salah satu tulisan saya yang berjudul Firasat. Tapi rasanya, bahasan ini terlalu melebar untuk topik kali ini.

Ok, lanjut!

@Dea: Kalau masalah seni, gue memang suka seni - gue tergila2 sama seni. Kalau seni rupa.. wah.. gue gak bisa gambar :D. Kalau karya seni.. ini Dea udah lihat kok. Karya seni bagi gue adalah tulisan. Hehe.
Vendy said…
sayang ga ada fotografi :D
mynameisnia said…
Nantikan, Ven. Di galeri rumah akan ada pameran fotografi, pasti gue laporkan dimari. Hehe.

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…