Firasat

Tiba-tiba saya dan teman-teman membuat sebuah klab yang tidak terencanakan. Klab firasat, namanya. Tentunya bagi yang suka Dewi Lestari, nama ini sudah tidak asing. Ya memang kami mencontek karena sebelumnya kami sama-sama membaca Rectoverso, ditengahi dengan kumpul-kumpul bareng, dan diakhiri dengan curhat tentang firasat.

Bukan firasat sebetulnya. Kami hanya saling bercerita tentang suatu kejadian yang dimulai dari kejadian-kejadian yang dialami namun dilewati begitu saja. Dengan merunut ke belakang apa yang menjadi diri kami sekarang, kami menemukan bahwa kejadian-kejadian yang secara tidak sengaja dan bahkan dilakukan orang-orang yang tidak kenal ternyata berpengaruh pada keberlangsungan hidup kami. Kebetulan, singkatnya.

Misalnya ketiga teman saya (A, B, dan C) yang akan berangkat ke Jerman. A dan B memang sebelumnya berteman di universitas yang sama. A bekerja di Jakarta, kemudian disusul B yang bekerja di Jakarta juga. B mengalami kesulitan untuk melewati skripsinya sehingga ia satu langkah terlambat dibandingkan A. Semula B melamar pekerjaan di salah satu perusahaan swasta namun tidak diterima. Ia melamar ke perusahaan yang lain kemudian di terima. Kemudian B mengalami kesulitan untuk mencari kost-kostan di daerah Kemang. Ia menelepon A yang pada saat itu sedang bekerja. A bercerita bahwa ada teman sekantornya yang sedang bermain monopoli di depannya. Hal ini sangat jarang terjadi bahkan ini pertama kalinya teman sekantornya itu berada di depan dan sedang main monopoli. A bertanya apakah ada kost-kostan di daerah Kemang, dan temannya itu menjawab ada. Lalu mereka tinggal berdua dan merencanakan pergi ke Jerman.

C, yang berbeda kampus, juga pergi ke Jakarta. Hubungan A, B, dan C yang semula hanya berasal dari teman klab nulis menjadi akrab di Jakarta karena mereka sama-sama pendatang. Kedekatan dan kesamaan bahwa mereka jenuh dengan pekerjaan itulah yang membawa C ikut juga ke Jerman.

Bisa dilihat benang merahnya, tidak? Maksudnya jika C tidak bertemu dan berkenalan dengan A dan B di klab nulis, ia tidak akan pergi ke Jerman. Jika tidak B ditolak dari perusahaannya, ia tidak akan satu kostan dengan A. Jika A tidak bekerja di Jakarta, mereka semua tidak akan bertemu.

Tidak hanya itu saja, keberadaan A juga berpengaruh terhadap kehidupan saya. Bahkan jika dirunut lagi, pacarnya A yang tidak saya kenal pun berpengaruh terhadap kehidupan saya! Semenjak saat itu saya jadi was-was tentang apa yang saya lakukan hari ini. Saya berpikir apakah saya akan merugikan orang lain yang bahkan tidak saya kenal? Mungkin dari sinilah datangnya firasat. Jika manusia lebih jeli dengan apa yang terjadi, mereka akan memilikinya.

Lama-lama kami menyadari bahwa kebetulan itu tidak ada karena sepertinya semua terencanakan. Salah satu teman saya bilang, "Yang membuat saya seram adalah kita tidak tahu apa yang direncanakan padahal kita sendiri memiliki tujuan dan harapan tersendiri".

Saya jadi berpikir bahwa teman saya saja yang - istilah kasarnya - tidak melakukan apa-apa pada urusan saya, namun ia berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup saya. Bagaimana orang yang "melakukan apa-apa" seperti korupsi atau pembalakan hutan liar?

Sepertinya manusia memiliki rantai maya yang saling menghubungkan satu sama lain. Mungkin inilah pernyataan yang bisa menjawab postingan saya sebelumnya tentang mengapa manusia tidak bisa hidup sendiri.

Picture

6 comments:

vendy said...

berawal dari Supernova KPBJ =))
bagaimana si Ksatria Ferre nyaris ditentukan nasibnya sama si pengarang dari dunia yg sama =))

jek said...

mungkin quote yang ada di butterfly effect [yang berasal dari entah einstein ato ilmuwan yang lain] cocok untuk masalah ini

"bahkan satu kepakan sayap kupu2 disatu belahan dunia, bisa menimbulkan angin badai di belahan dunia yang lain"


eniwei kok saya tidak menangkap hubungannya dengan firasat yak?
bukannya firasat itu lebih ke tanda2 yang kita rasakan, bukan seperti yang anda jelaskan...

mynameisnia said...

@Jek: Betul! Kan sudah gue jelaskan, kalau sesungguhnya ini bukan firasat tapi mungkin ini yang bisa lead kita mengasah firasat. Betul, gue juga berpikir ini butterfly effect.

Le Ciel est Gris said...

Iya.
Banyak istilahnya, ya: Benang merah, sinkronisitas, jaring laba-laba, tali nasib (name it!).

Dan ini bisa jadi bahan untuk bersyukur, lho.
Misalnya saja suatu hari kita terserempet motor. Sakit, memang. Tapi, bagaimana jika kejadian serempet itu justru menghindarkan kita dari tabrakan yang lebih besar?
Atau, contoh lain,
Bagi yang terbiasa buang-buang makanan, siapa tahu, ada kucing jalanan (atau tikus, atau kecoa, atau makhluk hidup lainnya sampai mikroorganisme) yang menemukannya dan menjadikannya makanan?

Semua terhubung.

AHEAD said...

cara nulis lo ini bikin gw inget film "The Curious Case of Benjamin Button" waktu narasi kejadian tabrakan nya si cewe pacar Benjamin. What's her name again?

but nice. ;)

mynameisnia said...

@Ahead: Wah, gue belom nonton tuh.