Skip to main content

Jamur

Jamur, jika sudah ada di kulit manusia yang kotor, pasti akan cepat menyebar. Mungkin Indonesia adalah tempat yang kotor (dan berlahan gambut) sehingga banyak yang menyebar dan tumbuh subur. Sayang bukan jamur, tetapi partai.

Pastinya warga negara Indonesia sudah sering melihat beragam poster caleg yang disimpan sembarangan sehingga menimbulkan polusi mata. Mending kalau cakep, lha ini bapak-bapak? Sebenarnya bukan masalah ganteng atau enggak sih, tapi banyak gambar dengan muka-muka yang tidak dikenal membuat saya cukup terganggu. Dengan billboard, spanduk, brosur, dan pamflet yang ditempel sembarangan dari tembok rumah orang sampai pohon. Maaf, rasanya menggunakan fasilitas milik orang lain (terutama pohon) itu tidak beradab.

Rupanya salah seorang teman SD saya juga menjadi caleg. Saya tanya ke saudaranya yang teman SD saya juga, "Memang prestasinya apa?". Saudaranya hanya tersenyum menandakan ia juga sanksi akan prestasi saudaranya. Saya bingung, kenapa mereka yang modal sarjana, yang belum ada pengalaman, berani mencalonkan diri? Badan legislatif kan bukan sarana untuk belajar, tapi untuk orang-orang yang pintar dan ahli di bidangnya.

Kalau di Malaysia, menjadi seorang dosen saja harus S3. Lha, Pak, wong disini saja yang S1 bisa memimpin negara. Ya mending hidup disini, toh? Mungkin sepuluh tahun lagi yang SMA saja bisa jadi presiden.

Comments

Begy said…
wah jd kepikiran bwt mencalonkan diri untuk periode selanjutnya... :D
vendy said…
parah..
bisa2 gw kabur dari Indo..
jek said…
FYI, presiden wanita pertama kita saja lulusan sma lo......
kalo presiden sekarang kan s2, mending lah..
Andika said…
Gw kurang yakin dengan pendidikan sebagai tolok ukur kepemimpinan. Pendidikan tinggi tingkat lanjut (S2, S3) memang kesempatan terbatas untuk meningkatkan kualitas diri, tapi seringnya opsi itu diambil cuma untuk memperlancar promosi jabatan.

Sementara itu, orang-orang yang betul-betul tertarik dengan studi yang ia tempuh biasanya tetap berkecimpung di dalam dunianya. Jarang yang lantas terjun ke politik pemerintahan.

Nia, bahas tentang mahasiswa NTU yang nusuk dosennya dong.
macangadungan said…
ya itu...
orang buta mau nuntun orang buta namanya.

oke deh kalo prestasi belum banyak, minimal akhlaknya bagus lah...
*nah itu dia yg susah di cari, wong masang poster kampanyenya ga tau aturan XD
mynameisnia said…
@jek: oh iya! lupa. Tuh, kan, dari dulu udah SMA!

@Andika: Mungkin gue beda sama lo. Tapi gue tipe orang yang percaya bahwa pendidikan menentukan jalan pikiran seseorang.

btw, NTU? apaan tuh, gue belom tahu.
Nimbrung :)
NTU Kampus teknik/teknologi di Nanyang, Singapura, bukan?

Anyw, membahas topiknya,
Iya, sih. Akhir-akhir ini juga kepikiran. Jangankan poster, menjamurnya partai saja saya agak bingung. Terlepas dari benar atau tidaknya prasangka bahwa Kursi Legislatif = Kerjaan Mapan, saya masih agak bingung dengan kampanye. Kenapa lebih menonjolkan hal-hal seperti garis keturunan, kemampuan ber-photoshop, kerabat selebritis, dan janji-janji.
Kemana larinya gagasan dan idealisme yang diusung masing-masing partai?
Tergantikan hal-hal yang lebih mudah di"tangkap"?

Terimakasih cinta, saya lahir di Negeri yang dari SD pun rakyatnya diajarkan apa itu nasionalisme :)
Bubble-pinkz said…
kemaren pas nonton tivi... malah ada tukang sepeda ama tukang apa gitu mau jadi caleg.... mungkin biar mereka bisa cepet kaya kali...

prestasi seseorg juga menurut gua menentukan layak atau tidaknya seseorg mendudukin kursi legislatif itu... walaupun dia S3 tapi kalo ga ada prestasi yang bisa dibanggain ya percuma...

dan tentang poster2nya..... sebagai org desain... menurut gua poster2 itu sama sekali ga menarik... di fesbuk ada satu group yang ngebahas poster2 kampanye itu tuch... ada yg mengkritik abis2an... ada yang ngetawain... hahahahaha... lucu banget dech bacanya...
mynameisnia said…
@Le Ciel Est Gris: Ya, kayak di berita tadi pagi dimana sang calon "berangkulan" dengan salah satu atlet sepakbola dunia, atau calon yang jenggotan disandingkan dengan gambar kepseknya Heri Poter - dambeldor.
Eh, yg mana tuh?
Ntar googling, deh.
Tapi, kadang-kadang ada pikiran "agak gila" yang lewat. Apa jangan-jangan, semua kejadian ini memang diatur, jangan-jangan Indonesia memang punya the-man-behind yang senang jika rakyatnya punya bahan tertawaan?
- -"
How sweet~
AHEAD said…
jadi, kamu milih ngga nanti di PEMILU 2009? :p
mario said…
sebenarnya dalam kampanye caleg kami tidak butuh foto anda, yang saya butuhkan adalah keuntungan apa kami jika memilih anda? dan cara kerja para calon caleg
mynameisnia said…
@AHEAD: Sepertinya.. tidak :D
Sundea said…
Mari kita buat jamur krispi aja biar lebih enak ... =D

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…