Skip to main content

Pada Saat Itu

Pada saat itu, saya dan teman kerja saya berada di perpustakaan yang nyaman. Namanya Uli, sebutlah begitu. Kami adalah rekan kerja satu angkatan yang sama-sama baru diterima. Perasaan sama membuat kami saling berbagi tentang keadaan tugas dan lingkungan kerja.

Ternyata kami merasakan perasaan yang sama: kami tidak betah. Tidak betah bisa disebabkan iklim kerja yang tidak enak atau memang bidang ini bukan passion kami sebenarnya. Saya sendiri mulai berpikir bahwa ini bukan passion saya. Ketika saya kuliah, saya memilih mata kuliah psikologi klinis - bukan psikologi perkembangan. Ketika saya skripsi, saya memilih bahasan fenomenologi-eksistensial. Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan menjamah ranah psikologi perkembangan anak.

Setiap kami bertemu, berulang kali kami menceritakan hal yang sama. Pada saat itu, di perpustakaan sambil melihat-lihat bahan ajar, kami saling menghibur diri.

"Li, semua guru yang bertahan disini sampai bertahun-tahun pasti ada alasan yang membuat mereka betah, 'kan?" ujar saya menghibur diri.

Lantas Uli mematahkan hiburan saya dengan berkata, "Tapi yang resign sebelum kontrak habis juga pasti ada alasannya, 'kan?"

Saya termanggu. Dunia tidak selamanya positif.

Setelah jeda lama, Uli berkata lagi, "Tapi pasti ada alasannya juga 'kan kenapa kita bisa diterima dari sekian banyak pelamar?"

Lagi-lagi saya termanggu. Jawaban Uli membuat saya berpikir lebih jauh. Saya berkata kepada Uli, "Jangan-jangan ada alasannya mengapa Tuhan memberikan anak-anak itu kepada kita? Pasti ada maksud tertentu, 'kan?"

Kami sama-sama termanggu. Sepertinya pernyataan terakhir saya membuat kami berpikir dua kali untuk masalah resign. Ini bukan masalah passion atau lingkungan kerja yang tidak enak, tapi mungkin ini masalah bagaimana tanggung jawab pekerja terhadap tugasnya. Rasa tanggung jawab saya semakin besar ketika salah satu guru berkata, "Bu, kenaikan kelas sebentar lagi. Buatlah program yang efektif untuk anak." Disana saya disadari bahwa, secara tidak langsung, saya memegang tanggung jawab atas kenaikan anak asuh saya. Juga hal lain ketika kepala sekolah dan wakilnya memanggil saya untuk membicarakan anak asuh saya yang memiliki gangguan perilaku. Wakil kepala sekolah berkata bahwa saya sudah memiliki kedekatan dengan anak itu sehingga saya bisa lebih mudah masuk daripada yang lain.

Saya jadi ingat dengan salah satu anak asuh saya yang berkata dengan apatis bahwa ia sering ditinggalkan dengan gurunya. Saya sedih. Saya tidak mau kedekatan emosional yang dibangun membuat anak asuh saya merasa dikhianati karena ditinggalkan. Tapi itu juga tidak menjamin bahwa saya bisa terus bertahan disana bertahun-tahun seperti guru lainnya.

Pada saat itu, di perpustakaan, saya dan Uli tidak berkata apa-apa sampai kami berpisah akibat urusan masing-masing.

Comments

vendy said…
resiko itu selalu ada
so, take it, or leave it
mynameisnia said…
Iya, ven.. mau gampang ya tidur.

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…