Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2009

Lebah Di Perpustakaan

Waktu aku kecil, selalu kuingat wajah marah ibu. Entah apa yang aku lakukan, ibu selalu menunjukkan muka seperti itu. Aku pikir ibu adalah orang yang manis dan menyenangkan pada saat-saat tertentu. Namun terkadang ibu bisa menjadi sangat jahat dan bahkan tidak segan memukulku jika ia marah. Sering aku ditampar di pipi tapi semuanya itu aku simpan sendiri.

Aku kira ayah akan membelaku, tapi ternyata sama saja. Pernah ayah memukulku karena aku memukul temanku. Rasanya sangat sakit karena ayahku memukul lebih keras dibandingkan ibu. Lagi-lagi aku simpan sendiri. Jika aku sedih atau marah, lebih baik aku menonton kartun sampai aku lupa dengan kemarahan dan kesedihan.

Dibandingkan dengan ayah, aku lebih dekat dengan ibu. Aku lebih bersemangat jika ibu mengantarkanku ke sekolah, jika ibu menonton saat pertunjukan seni, jika ibu memelukku, apalagi jika ibu bilang sayang padaku. Tapi jarang sekali munculnya sosok ibu yang baik. Selalu ada sosok ibu jahat dan pemarah yang membuatku sedih dan ter…

Aturan Freud

Freud memiliki teori dasar bahwa manusia itu hanyalah bongkahan padat yang didorong oleh dua insting: seks dan agresi. Banyak yang tidak setuju bahwa manusia tidak senista itu. Manusia tidak melulu negatif atau didorong insting-insting saja. Ada yang menyakini bahwa pada dasarnya manusia itu baik dan mampu membuat pilihan. Hal ini terus saya pikirkan hingga saat ini, di lingkungan kerja yang begitu kaya akan kasus yang selama ini hanya saya terima di kuliahan saja.

Pertama, seks. Tadi siang, guru-guru di kelas tiga membahas mengenai pendidikan seks yang mulai diterapkan kepada anak. Pendidikan ini dilatarbelakangi bahwa anak sudah ada yang menstruasi dan hasil kuesioner yang menghasilkan data bahwa mereka minat sekali dengan seks. Dimana minatnya? Minatnya terletak dengan pengakuan anak bahwa jika orang tua pergi, terkadang mereka sembunyi-sembunyi menonton film dewasa. Dewasa ini bukan film biru, tapi film yang ada adegan ciuman (dan seterusnya). Kuesioner juga diisi beragam pertanyaa…

The Art of Game

Kemarin, saya berkesempatan mengobrol dengan teman saya yang kuliah IT. Saya bertanya tema apa yang diangkat ketika menyusun TA, dia bilang ia membuat konsep pembuatan game. Saya heran, bagaimana seseorang yang seharusnya cumlaude namun tidak jadi itu membuat konsep game untuk TA-nya.

Jika game ada perdebatan antara pro dan kontra, maka saya tergolong kontra. Saya bilang ke teman saya, “Sorry nih, tapi saya tidak melihat sisi positif dari game.”

Teman saya bilang, “Ya itu hanya untuk kesenangan saja.”

Teman saya bilang bahwa selain untuk kesenangan, game itu meningkatkan kemampuan logika. Misalnya game menyusun strategi perang yang perlu dipikirkan matang-matang. Diperlukan waktu yang tepat untuk membangun istana karena jika terlalu lambat, musuh akan menyerang. Saya bilang kepada teman saya, “Untuk apa kamu berpikir susah-susah sementara kamu sendiri tidak berperang?”

Game yang saya soroti adalah game online. Saya pikir ini merusak perkembangan seseorang karena seseorang akan menjadi ind…

Berempat, Mereka Menggesek Biola dan Cello

Hari Minggu sore, saya dan kedua teman saya, Dika dan Neni, pergi ke acara musik sore di Tobucil. Acara diisi oleh d'Java String Quartet. Sebelumnya saya tahu d'Java dari poster dan undangan yang disebarkan lewat facebook bahwa mereka akan main di CCF Bandung. Saya pikir saya tidak akan datang karena ada tiket masuk (semula saya kira ini gratisan). Tapi setelah melihat permainan mereka sore itu, saya jadi merasa harus nonton mereka.

Mereka memainkan lagu-lagu klasik. Tentunya menarik, apalagi biola dan cello bukanlah alat musik yang sering ditemui - ketimbang gitar klasik. Apalagi pria yang memakai baju merah itu, sangatlah menarik :)


Penting atau tidak disampaikan, tapi pria yang menikmati permainan musiknya adalah pria yang saya sukai. Saya bilang ke Dika, "Dik, tahu enggak kenapa gue suka Thom Yorke dan Jonny Greenwood? Karena mereka begitu menikmati musiknya. Beda sama pemain band lain yang hanya sekedar nyanyi atau ngegonjreng."

Maaf pembaca, kalau saya merasa begi…

Membaca Indonesia

Dalam minggu ini, saya berkunjung ke beberapa komunitas di Bandung. Pertama, saya berkunjung ke Madrasah Falsafah yang diadakan oleh Tobucil. Kedua, saya berkunjung ke Writer's Circle yang diadakan oleh Reading Lights.

Dengan tema yang berbeda, ternyata ada benang merah yang saya tangkap: sama-sama membaca Indonesia!

Madrasah falsafah kali itu membahas mengenai moody. Secara garis besar, dalam pertemuan ini dibahas bahwa moody sudah menjadi trend sendiri di kalangan remaja Indonesia. Seperti halnya narsis yang sudah familiar dipakai untuk mendeskripsikan diri, begitu juga dengan moody. Para peserta berprasangka bahwa trend ini muncul dari komunitas maya seperti Friendster atau Facebook yang memiliki kolom untuk mendeskripsikan diri. Moody seolah-olah menjadi alasan tersendiri jika seseorang sedang bete atau muram. Si temannya bisa saja berkata, "Hati-hati, tuh anak moody!". Bahkan ada salah satu peserta yang berkata bahwa moody sepertinya sudah menjadi eksistensi sendiri d…

Aku, Tulisanku, dan Bella Donna

Alih-alih menulis tentang mistisisme di Indonesia, saya malah menulis tentang kehidupan saya. Jika selama ini posting tentang kehidupan saya dikategorikan sebagai 'curhat colongan', kini akan saya kategorikan (dengan meminjam dari writer's circle) sebagai 'personal writing'.

Sebelumnya perkenalkan dulu. Nama saya Nia, saya adalah penulis yang pernah ditolak oleh penerbit dan sampai sekarang belum menerbitkan apapun. Saudara laki-laki saya, Ruli, menyarankan jika saya menerbitkan buku secara independen. Sebenarnya ini adalah alibi untuk menutupi motif bahwa ia ingin design-nya dipromosikan secara gratis. Tapi, tetap saja, saya patut mengapresiasi dukungannya.

Beberapa tahun lalu, Ruli pernah meminjam karya saya untuk tugas kuliahnya. Ia disuruh membuat design cover buku. Sebenarnya sang dosen tidak menyuruh mahasiswa membuat cerita atau membaca sebuah karya, tapi Ruli inisiatif ingin design yang mendalam dengan membaca sebuah karya. Untung tak dapat diraih, malang tak…