Skip to main content

Aturan Freud

Freud memiliki teori dasar bahwa manusia itu hanyalah bongkahan padat yang didorong oleh dua insting: seks dan agresi. Banyak yang tidak setuju bahwa manusia tidak senista itu. Manusia tidak melulu negatif atau didorong insting-insting saja. Ada yang menyakini bahwa pada dasarnya manusia itu baik dan mampu membuat pilihan. Hal ini terus saya pikirkan hingga saat ini, di lingkungan kerja yang begitu kaya akan kasus yang selama ini hanya saya terima di kuliahan saja.

Pertama, seks. Tadi siang, guru-guru di kelas tiga membahas mengenai pendidikan seks yang mulai diterapkan kepada anak. Pendidikan ini dilatarbelakangi bahwa anak sudah ada yang menstruasi dan hasil kuesioner yang menghasilkan data bahwa mereka minat sekali dengan seks. Dimana minatnya? Minatnya terletak dengan pengakuan anak bahwa jika orang tua pergi, terkadang mereka sembunyi-sembunyi menonton film dewasa. Dewasa ini bukan film biru, tapi film yang ada adegan ciuman (dan seterusnya). Kuesioner juga diisi beragam pertanyaan mengapa perempuan harus menikah dengan laki-laki, mengapa anak tidak boleh tahu masalah dewasa, dan lainnya. Berdasarkan pengakuan, mereka tahu hal ini karena orang tua mengajak nonton bersama. Namun pada adegan ciuman, orang tua menutup mata mereka. Ya gimana enggak semakin penasaran, ya?

Tidak usah berpikir bahwa film mengandung unsur seks hanya film dewasa saja. Contoh kecil, film kartun Snow White dimana pangeran mencium putri salju, Cinderella yang menikah dengan pangeran, putri yang diselamatkan oleh pangeran dari naga, Mickey dan Mini, Barbie dan Ken.

Merinding juga. Tapi ya itu, media tidak bisa disalahkan. Jika media sudah kebablasan, orang tua adalah orang pertama yang harus mengontrolnya, bukan menjadi penyebab itu sendiri.

Kedua, agresi. Jika kenyataan bahwa minat anak kelas 3 sudah cukup besar terhadap seks membuat yang mendengarnya merinding, itu belum seberapa sampai saya menemukan beberapa kalimat yang ditulis oleh murid saya. Semula gurunya menyuruh murid untuk menulis tentang SPOK dan murid saya menulis:

Dia mengeroyok bayi di kantor polisi
Dia mengeroyok polisi di kantor polisi
Aku mengambil otak orang di jalanan

Mau muntah saya membacanya.

Anak itu, sebut namanya A, memang berdasarkan informasi dari guru kelasnya ia memiliki agresi yang sangat tinggi. Bukan berupa agresi fisik dengan memukul orang, tapi agresi yang tercetus melalui pikiran. Jika menggambar, akan selalu ada sosok orang yang digantung. Tampilannya seperti anak biasa, tapi mata tidak bisa berbohong - ujar gurunya. Selalu ada aura agresi dan benci. Hebohnya lagi, orang tuanya seolah-olah memaklumi bahwa itu hanya kenakalan anak biasa.

Seni mengabaikan anak dengan kekerasan tentunya membuat anak terancam yang membuat anak merasa nyaman dengan ancaman itu. Lingkungan luar yang lebih mengancam ketimbang rumah tentunya membuat anak merasa harus mengancam lingkungannya terlebih dahulu. Oleh karena itu, pola asuh seperti ini akan menciptakan pribadi yang kaku, dingin, dan mungkin ... sosiopatik. Beberapa rekan saya pernah melakukan penelitian ke rutan tentang hubungan pola asuh dengan perilaku agresi. Hasilnya, signifikan.

Seru, apalagi anak yang saya dampingi mengalami hal tersebut. Setidaknya ia berbadan kecil, jadi jika ia mencakar atau berontak, masih bisa saya tangani. Tapi saya tetap tega bagaimana anak dengan badan sekecil itu menerima pukulan keras dari orang tuanya.

Tanpa melihat faktor lingkungan, mungkin teori Freud yang banyak dibenci tapi betul benarnya. Semua orang diciptakan dengan dua insting yang berkembang tergantung dengan lingkungan dimana ia dibesarkan. Jadi, jika pembaca suatu saat menjadi orang tua, semua ada di tangan Anda untuk menciptakan sosok seorang anak.

Comments

vendy said…
hmmm...
A mengingatkan gw akan film Butterfly Effect. you reap what you sow, eh?

toh, yang namanya kepedulian juga udah jadi barang langka. tul?
macangadungan said…
sedikit banyak aku setuju dengan 2 teori itu. menurut aku pada dasarnya neluri manusia nggak beda jauh dengan bintang *seks & agresi*
bedanya hanya pada otak manusia yang sedikit lebih pintar dan membentuk standar2 mana yang baik dan tidak baik. mana yang pantas, dan tidak.

walau makin kesini sih, seperti kecerdasan dan norma itu makin menipis. misalkan saja seks bebas... mohon maaf, tapi dengan adanya seks bebas malah membuktikan manusia nggak beda dengan binantang. binatang kan kayak gitu, kawin sesuka hati, lebih karena dorongan syahwat daripada koneksi emosi yang dalam ato sejenisnya.

ah, tapi itu hanya teori saya aja... hehehehhe. ingat, saya bukan psikolog ato filsuf, tapi seniman saja XDDD jadi opininya meragukan.
vendy said…
@macan:
hmmm... hal yang sering bikin pusing, justru aturan pantas/tidak itu. imho, terlalu relatif (inget alien baru gede itu dengan kata2 "kamyu"-nya?)

XD
Sundea said…
Gue setuju sama insting "berkembang" yg lo bilang, Ni ...

Agresi dan seks lebih kayak jadi stimulus ke arah mana si anak-anaknya berkembang ...
mynameisnia said…
@macan: Gue setuju, Can. Betul kok. Memang seperti binatang, mungkin karena dibentuklan pernikahan. Kebayang kalo enggak ada, kemana2 kali.

@vendy: Waaaah, bahasan pantas atau tidak sudah melebar. Betul itu ven, sifatnya subjektif alias relatif, tergantung values yang diajarkan kepada orang tersebut. Ckckckck.

@sundea: Nah, De, lo kan deket sama dunia anak-anak. Kira-kira, berdasarkan pengalaman elo, elo menemukan stimulus yang membuat suatu insting anak jadi berkembang gak?
ezra said…
siapa bilang seks dan agresi itu nista? menurutku sih insting2 itu hanya perlu dikendalikan. mungkin krn itulah kita dibekali akal pikiran, lain dgn binatang. sperti kata ayu utami, banyak hal tidak bersifat jahat pada dirinya, tetapi menjadi jahat di tempat yg salah.
aku setuju, nya. trgantung kpd values yg kita ajarkan selama si anak itu berkembang. sperti kata alva edison, 5% inspiration 95% perspiration.
mynameisnia said…
Akur, Zra. Thanks ya buat komennya! :)

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…