Skip to main content

Membaca Indonesia

Dalam minggu ini, saya berkunjung ke beberapa komunitas di Bandung. Pertama, saya berkunjung ke Madrasah Falsafah yang diadakan oleh Tobucil. Kedua, saya berkunjung ke Writer's Circle yang diadakan oleh Reading Lights.

Dengan tema yang berbeda, ternyata ada benang merah yang saya tangkap: sama-sama membaca Indonesia!

Madrasah falsafah kali itu membahas mengenai moody. Secara garis besar, dalam pertemuan ini dibahas bahwa moody sudah menjadi trend sendiri di kalangan remaja Indonesia. Seperti halnya narsis yang sudah familiar dipakai untuk mendeskripsikan diri, begitu juga dengan moody. Para peserta berprasangka bahwa trend ini muncul dari komunitas maya seperti Friendster atau Facebook yang memiliki kolom untuk mendeskripsikan diri. Moody seolah-olah menjadi alasan tersendiri jika seseorang sedang bete atau muram. Si temannya bisa saja berkata, "Hati-hati, tuh anak moody!". Bahkan ada salah satu peserta yang berkata bahwa moody sepertinya sudah menjadi eksistensi sendiri di kalangan remaja sekarang.

Semula saya tidak setuju karena kita tidak bisa mengeneralisir bahwa semua remaja seperti itu , tapi setelah dilihat secara kasat mata, mungkin ada benarnya juga. Saya sendiri melihat remaja adalah orang yang mudah menyerap dan memakai istilah tertentu tapi belum tentu tahu artinya. Dahulu, narsis hanya diketahui oleh kalangan tertentu saja (psikologi, misalnya). Tapi kini narsis sudah menjadi bahasa sehari-hari yang menggambarkan seseorang yang doyan foto (semenjak kamera VGA hingga yang tercanggih) dengan pose yang serupa. Padahal, narsis itu sendiri bukan tentang foto atau doyan foto, tetapi kecintaan diri sendiri baik dalam segi fisik dan kemampuan.

Kamus digital yang dipakai oleh salah seorang peserta menyebutkan bahwa moody adalah perasaan murung. Menurut saya itu salah, moody adalah suasana hati yang mudah berubah dalam waktu singkat - tidak hanya murung saja. Hal ini diakurkan dengan salah satu peserta bernama Daus yang berkata, "Gue kalau murung, gue bikin puisi. Tapi kalau gue lagi moody dan mood gue sedang turun, gue enggak bikin puisi.". Ada benarnya juga. Jika moody = perasaan murung, seharusnya dalam kondisi mood turun, ia seharusnya bisa bikin puisi.

Dapat maksudnya?

Maafkan kami, para remaja Indonesia. Gara-gara semakin dangkalnya pemahaman, muncul pertanyaan,"Remaja Indonesia itu makan apa sih? Mie instan?"

Lain dengan madrasah falsafah, Writer's Circle mengemukakan tema pakaian untuk dijadikan bahan tulisan yang berguna untuk mendeskripsikan karakter dari suatu cerita. Salah satu dari kami, Indra, menulis tentang seragam (satu ragam). Di kantornya, semua pegawai harus memakai kemeja, dasi, berambut klimis, tidak memakai motif tertentu demi citra perusahaan. Bahkan perusahaannya mengeluarkan buku tersendiri yang mengurus tektek bengek bagaimana cara berpakaian.

Seorang perempuan bernama Mirna berkata, "Katanya anak muda sekarang menggembar-gemborkan 'berani tampil beda'. Tapi pada kenyataannya, kalau gue lihat sekumpulan anak muda, sepertinya dari segi pakaian, mereka tidak ada bedanya."

Setelah membahas pakaian, omongan berlanjut ke penulisan di Indonesia. Mirna bertanya, "Penulis mana yang muncul setelah tahun 2004 yang karyanya patut dibeli?". Kami semua membicarakan bagaimana sebuah karya tulis (buku) sepertinya tidak ada bedanya dengan sinetron. Kedua karya tersebut sama-sama menjual mimpi. Jika dibandingkan penulis lama seperti Ayu Utami, bisa dilihat latar belakang begitu mempengaruhi cara pikir seseorang. Jadi, apa yang terjadi pada tahun 80-90an yang mempengaruhi cara berpikir seseorang sekarang dan berkarya menjual mimpi?

Selain itu, kami membahas tentang hebatnya bangsa Indonesia. Katanya, kalau dunia ini hancur, orang Indonesia yang selamat. Mengapa? Karena bangsa Indonesia sudah tahan banting dalam menghadapi cobaan. Banjir? Kita sih malah main air. Nasi aking saja dimakan, roti buluk apa lagi. Bangsa Indonesia bisa memakan semua komponen dari binatang (ya kepala, ekor, kaki, jeroan). Orang luar negeri mana bisa.

Membaca Indonesia satu minggu ini ya lucu juga. Sekali lagi, kami mohon maaf, para kaum muda. Ini hanya bercanda.

Comments

vendy said…
tanpa mau menyungging pihak manapun, ada yang ngebahas soal sinetron di Indonesia? :))
windry said…
wah, diskusi yang menarik, terutama kunjungan yang kedua di RL itu. btw, salam kenal, Nia ^___^
ezrasatya mayo said…
hehe.. iya, mreka begitu seragam. jangan2 pikiran mereka juga seragam
mynameisnia said…
@vendy: kayaknya itu udah terlalu klise untuk dibahas, jadi aja enggak dibahas :D

@windry: salam kenal juga, sering2 datang kesini ya :)

@ezra: ada kemungkinan.. :))
Begy said…
ayo kita tebak-tebakan: bagaimana kira-kira masa depan bangsa ini jika pemuda-pemudinya seperti itu?
macangadungan said…
ahahah... sungguh kegiatan yang bermanfaat.

sejujurnya, gue juga sempet bingung dengan penggunaan kata moody, karena waktu gue les bahas inggris, moody itu mengacu pada sifat pemurung atau pemarah *tolong dibetulkan kalo saya salah :)

tapi temen2 gue (ketika SMA) malah memakai kata moody untuk istilah orang yang mood-nya mudah berubah

saya sempat bertanya-tanya... guru bahasa inggrisnya siapa sih?

dan juga, iyah, setelah membaca karya2 Ayu Utami, gue jadi males baca chicklit. ahahah...
mynameisnia said…
@macan: Wah, yang gue pahami sih moody seperti itu. Bagi gue, moody menjadi berkonotasi negatif karena perubahan zaman. Huhuh, harus menghadirkan ahli bahasa disini!

@begy: pertanyaan yang sangat rumit, beg! :D
mynameisnia said…
@macan: dan setelah gue browsing, moody sinonim dengan gloomy; termenung; sedih; rewel; bercanda.

http://translate.google.co.id
ezra said…
kalo mnurut kamus oxford c moody brati 2 hal:
1. mood (suasana hati) yg cepat berubah
2. sinonim dgn "grumpy", yg kurang lebih brati bertemperamen buruk, penggerutu, pemarah

udah kan..? jadi dua2-nya bener. ayo kalian bdua salaman. hehe..
mynameisnia said…
Hehehe, thanks! :)

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…