Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2009

Piala Kehidupan

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti pelatihan. Tema salah satu pelatihan adalah tentang piala kehidupan.

Dalam suatu sesi, kami diberikan permainan meniup balon. Semua orang diberi balon yang harus ditiup sampai ada aba-aba 'lepas', kami harus melepas balon itu dari pegangan kami sehingga balonnya meluncur kemana-mana. Di ujung ruangan ada sebuah dua buah piala. Target dari permainan ini adalah balon harus sampai pada piala tersebut.

Bagi yang belum menemukan strategi, balon akan terbang kemana-mana. Ada yang hanya maju sedikit, jalan di tempat karena balonnya pindah ke samping, bahkan ada yang mundur ke belakang. Ada perasaan kesal jika balon sulit dikendalikan, apalagi jika melihat teman-teman lain yang sudah mendekati piala. Tapi setelah tahu bagaimana strategi meniup balon, saya akhirnya menjadi orang kedua yang mendapatkan piala.

Pelatih bertanya kepada saya bagaimana perasaan saya. Saya jawab tentu saya merasa senang. Jika balon mundur ke belakang, saya merasa cemas…

Oh, paradoks. Abstrak. Absurd. Mampus.

Kegemaran ibu menonton televisi di sebelah komputer cukup menganggu saya yang akhir-akhir ini cukup sering berada di depan komputer karena banyak PR menulis. Bagaimana tidak, acara yang ditonton ibu adalah sinetron yang penuh adegan cinta yang terlalu manis (giung) hingga marah-marah layaknya kesurupan. Demi Tuhan, saya stres. Bukan karena ibu saya, tetapi karena muatan lokal yang sudah menjadi rahasia bersama tapi tidak ada aksi untuk menghentikan juga. Boikot bila perlu!

Titi Kamal sebagai TKW dengan tokoh-tokoh muka Jawa yang berbahasa Arab membuat saya terheran-heran. Kenapa ya Titi Kamal mau main sinteron seperti ini? Setelah itu muncul tokoh dengan bahasa Sunda kasar dan bahasa Jawa dengan logat Jakarta.

Oh, paradoks. Abstrak. Absurd. Mampus.

Maaf jika tulisan ini sarkas. Tanpa mendeskritkan kemampuan kognitif seseorang, tapi saya jadi berpikir dimana logika si sutradara dan pembuat skenario cerita? Apakah realita hidup mereka sendiri layaknya sinetron yang mereka buat yang penuh a…

Ssshhh... It's a secret!

Menyimak tulisan teman saya yang menulis tentang dirty little secret di blognya, saya jadi mengira-ngira sebesar apa hidden spot yang dimiliki teman saya dan orang pada umumnya. Setiap orang pasti memiliki hal-hal yang tidak diceritakan kepada orang lain, hal-hal yang hanya diketahui diri pribadi, disimpan dalam teritori, dimasukkan ke dalam peti, digembok, dan dikunci, bahkan mungkin dibawa sampai mati.

Rahasia memalukan apa yang bisa disimpan begitu dalam? Apa pertimbangannya seseorang untuk tidak menceritakan? Adakah ia merasa takut ditinggalkan setelah menceritakan rahasianya?

Rahasia tidak melulu sesuatu yang besar. Rahasia adalah hal-hal yang kita ketahui dan orang lain tidak ketahui. Mungkin rahasia itu sifatnya beragam: ada yang dangkal dan ada yang mendalam. Rahasia yang dangkal misalnya tentang warna kesukaan saya. Mungkin saya tidak akan menceritakan kepada orang lain yang pertama kali saya kenal. Tapi seiring dengan waktu, bisa jadi saya menceritakan warna kesukaan saya. Bag…

Di Bawah Lapisan Es

Perjalanan menuju Selasar Sunaryo sungguh tidak mudah. Dimulai dengan motor Andika yang sebelumnya tertabrak tong sampah, gigi yang susah pindah, roda berbunyi, suara klakson yang kecil dan hampir mati, dan spion yang tidak tegak berdiri.

Pada saat itu kami masih berada di Dago. Dago memiliki jalan yang naik, terutama Dago Pakar. Saat itu motor berbunyi aneh, rupanya ban motor kempes. Saya turun dan jalan, Andika menyisir jalan dengan motornya meter demi meter untuk untuk mencari tambal ban. Andika menyuruh saya untuk naik angkot sampai pom bensin karena disana ada angin gratis. Kami pun kesana dan mencoba mengisi angin. Bisa ternyata. Namun baru beberapa meter, ban sudah kempes lagi. Beruntung saya lihat tukang tambal ban. Dua puluh lima ribu pun melayang.

Motor Andika memang memiliki reputasi yang buruk pada saya. Sudah dua kali, motor mati di tengah jalan, dan ketika saya turun, motor dengan mudahnya bisa dinyalakan. Sialan. Betul-betul menginjak harga diri saya sebagai perempuan. La…

Saya + Kamu + Institusi = Kita

Dimulai dari kepulangan saya dan teman saya, Andika, dari Selasar Sunaryo untuk menonton Multimedia Theater: Di Bawah Lapisan Es. Kami makan nasi goreng di salah satu warung pinggir jalan yang buka hingga tengah malam. Saya berkata kepada teman saya, "Saya lagi kangen teman saya. Dia adalah sahabat saya semenjak kita SMP. Diawali ketika skripsi dimana saya harus meneliti tentang orang yang HIV, tiba-tiba ia memberikan perhatian dan perasaan khawatir berlebihan. Saya jadi aneh, kenapa dia seperti ini. Lalu semenjak itu, setiap saya menghubungi, dia sulit sekali dijangkau. Sms tidak pernah dibalas, telepon tidak pernah diangkat. Ketika saya ulang tahun atau lulus kuliah, dia tidak menghubungi saya. Bukannya saya ingin diberi selamat, tapi aneh saja bahwa selama 8 tahun kami berteman, kami tidak pernah lupa untuk saling mengucapkan selamat. Sampai saya mendengar bahwa MEW akan konser di Bandung bulan Agustus ini. Saya tiba-tiba kangen dengan sahabat saya karena ia adalah teman yang …

Membentuk Manusia

Ketika wawancara kerja, atasan meragukan bahwa saya menyukai hal-hal sosial. Dijabarkannya hasil psikotes yang menunjukkan bahwa saya ini orang yang egosentris. Saya geli sendiri. Tentu saja semua orang itu egosentris, jika tidak, bagaimana mereka mau hidup?

Sempat pemerintah melarang untuk memberikan uang kepada pengamen atau pengemis yang ada di pinggir jalan. Banyak yang tidak setuju atas alasan 'amal'. Setelah ditimbang dan ditinjau dengan asumsi ngawur, saya menyetujui alasan pemerintah ini. Malah saya berpikir bahwa pemerintah juga belajar psikologi!

Dalam psikologi, ada mahzab yang disebut behaviorisme yaitu mahzab yang yakin bahwa tindakan, pikiran, dan perasaan manusia dapat (dan seharusnya) ditentukan oleh stimulus lingkungan yang telah ditentukan atau dikondisikan. Dari beragam istilah dan teori di behaviorisme, terdapat istilah reinforcement atau penguatan yang diberikan pada perilaku yang diinginkan. Misalnya jika anak berbuat baik, pujilah terus. Jika anak berbuat …

Mungkin Kupu-kupu

Gambar

Ada hal aneh yang menggelitik di hati jika kamu ada. Saya tidak tahu itu apa tapi saya ingin terus merasakannya. Ada kepakan sayap kupu-kupu di dalam perut jika kamu hadir. Saya tidak tahu mengapa tapi saya ingin terus merasakannya. Jantung berdegup kencang dan senyum tak kuasa ditahan dan saya ingin terus mengalaminya. Pikiran saya tidak ingin cepat-cepat mengenali apa yang sedang terjadi, oleh karena itu saya membiarkan hati saya yang merasakannya.

Ada hal yang saya tunggu setiap saya bangun bagi, ada hal yang membuat saya kesal jika apa yang saya tunggu tidak kunjung datang. Perasaan berubah cepat sekali, sampai saya memikirkan jangan-jangan saya ini memiliki gangguan bipolar. Hati saya menjadi responsif terhadap kejadian-kejadian kecil, segera meresponnya dengan senang dan sedih. Saya bertanya kepada orang-orang yang sudah merasakannya, mereka menjawab bahwa memang begitulah adanya.

Rasanya seperti berada di dalam konser musik yang semua pemainnya memainkan lagu yang sangat in…

Komunikasi

Sudah satu minggu ini saya memiliki masalah dengan komunikasi. Secara kasat mata, komunikasi hanya sebatas asal ngomong doang antara pembicara dan pendengar. Namun pada kenyataannya, teori dan praktek komunikasi yang baik itu banyak dan sulit diaplikasikannya.

Keluarga saya adalah tipe keluarga yang menyatakan pesan "kamu". Misalnya 'kamu bodoh', 'kamu ceroboh', 'gara-gara kamu', 'coba kalau kamu tidak berbuat seperti itu', 'coba kalau kamu lebih cerdas menghadapi situasi', dan lainnya. Kamu, kamu, dan kamu. Hampir jengah saya mendengarnya.

Ibu saya pun begitu. Ketika saya kecil, jika saya bercerita tentang kejadian yang tidak enak di sekolah seperti dijauhi teman, ibu saya selalu berkata, "Kamu kali yang salah. Coba kalau kamu berbuat yang lebih baik, mungkin kamu tidak akan dijauhi". Kamu, kamu, dan kamu. Mungkin sebentar lagi saya gila.

Imbasnya adalah aku, aku, dan aku. Keluarga yang selalu melimpahkan kesalahan pada saya, s…