Skip to main content

Di Bawah Lapisan Es

Perjalanan menuju Selasar Sunaryo sungguh tidak mudah. Dimulai dengan motor Andika yang sebelumnya tertabrak tong sampah, gigi yang susah pindah, roda berbunyi, suara klakson yang kecil dan hampir mati, dan spion yang tidak tegak berdiri.

Pada saat itu kami masih berada di Dago. Dago memiliki jalan yang naik, terutama Dago Pakar. Saat itu motor berbunyi aneh, rupanya ban motor kempes. Saya turun dan jalan, Andika menyisir jalan dengan motornya meter demi meter untuk untuk mencari tambal ban. Andika menyuruh saya untuk naik angkot sampai pom bensin karena disana ada angin gratis. Kami pun kesana dan mencoba mengisi angin. Bisa ternyata. Namun baru beberapa meter, ban sudah kempes lagi. Beruntung saya lihat tukang tambal ban. Dua puluh lima ribu pun melayang.

Motor Andika memang memiliki reputasi yang buruk pada saya. Sudah dua kali, motor mati di tengah jalan, dan ketika saya turun, motor dengan mudahnya bisa dinyalakan. Sialan. Betul-betul menginjak harga diri saya sebagai perempuan. Lagipula malam itu hujan, lengkap semua penderitaan.

Akhirnya dengan susah payah, kami sampai di Selasar Sunaryo. Ini adalah kali pertama saya datang kesana. Adalah sebuah galeri besar yang dimiliki oleh seorang seniman bernama Sunaryo. Malam itu saya berniat menonton multimedia teater: Di Bawah Lapisan Es. Disajikan dengan tata panggung yang baik dan cahaya temaram berwarna-warni, saya terkesima pada pandangan pertama.



Di Bawah Lapisan Es berasal dari naskah "Unter Eis" dari Falk Ritcher yang diterjemahkan menjadi "Di Bawah Lapisan Es" oleh Heliana Sinaga. Ceritanya berkisah tentang seorang konsultan di bidang ekonomi yang bernama Paul Niedman. Ia merasa kesepian dan kehilangan. Dia pernah melewati puncak sebagai seorang konsultan tapi tetap harus bersaing dengan para konsultan yang lebih muda, produktif, dan efisien. Dua konsultan lain yang tengah berada di pucak - Karl Sonnenschein dan Aurelius Glasenapp - semakin membuat Paul merasa bukan siapa-siapa. Saya ingat ketika Aurelius berkata, "Stagnansi adalah kemunduran".





Dari tiga tokoh dewasa, muncul tokoh seorang anak yang nampak tua dan kesepian. Anak-anak terjebak pada dunia yang sebenarnya serakah, rakus, egois, liar, dan gila. Tokoh berbicara istilah-istilah ekonomi yang aneh, seolah-olah memperlihatkan bahwa anak-anak sudah tidak memiliki ruang waras lagi di pikirannya.

Bagaian yang paling saya suka adalah Aurelius yang semula kaku menjadi sangat lembut. Ia merayu Paul bahwa dunia materi adalah segala-galanya. Mobil mewah yang menjadi lambang materi mutlak sebagai pembawa kebahagiaan. Bahkan jika jika sudah digila-gilai, Tuhan pun dihilangkan.

Kesan yang saya tangkap adalah dingin dan satir secara bersamaan - entah karena seringnya jeda panjang sehingga penonton bisa berkontemplasi atau cahaya biru yang dipantulkan ke layar-layar putih. Bertapa gilanya jika manusia sudah masuk ke dunia angka yang dimana-mana dihitung secara kuantitatif. Manusia seolah berinteraksi dengan mesin sehingga kehilangan diri subjektifnya. Dialog-dialog yang dilontarkan begitu tajam dan pintar mengkritik mengenai ekonomi. Tapi hal ini menjadi kejanggalan tersendiri untuk saya karena saya yang menontonnya jadi merasa sedang membaca ensiklopedia manajemen ekonomi yang saya tidak mengerti. Selain itu, saya dan Andika merasa tidak suka dengan tema pemilu yang diangkat ditengah-tengah cerita. Rasanya terlalu pop.

Acara ditutup dengan tepukan tangan untuk sang sutradara yang ternyata belakangan saya sadar bahwa saya pernah kenal dengan sutradara ini: Wawan Sofwan.

Comments

denny said…
:)

ceritanya mengalir,
jadi enak baca,
padahal biasanya saya paling malas baca tulsan banyak2..

hehe...

:D
andika said…
Adegan Aurelius itu tambah dramatis karena tiba-tiba ada salju yang turun. Ditambah lagi ketika dia menyilangkan kakinya seperti Sharon Stone di film Basic Instinct, para fotografer langsung menggila.
Nia said…
@denny; Terima kasih :) Salam kenal!

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…