Komunikasi

Sudah satu minggu ini saya memiliki masalah dengan komunikasi. Secara kasat mata, komunikasi hanya sebatas asal ngomong doang antara pembicara dan pendengar. Namun pada kenyataannya, teori dan praktek komunikasi yang baik itu banyak dan sulit diaplikasikannya.

Keluarga saya adalah tipe keluarga yang menyatakan pesan "kamu". Misalnya 'kamu bodoh', 'kamu ceroboh', 'gara-gara kamu', 'coba kalau kamu tidak berbuat seperti itu', 'coba kalau kamu lebih cerdas menghadapi situasi', dan lainnya. Kamu, kamu, dan kamu. Hampir jengah saya mendengarnya.

Ibu saya pun begitu. Ketika saya kecil, jika saya bercerita tentang kejadian yang tidak enak di sekolah seperti dijauhi teman, ibu saya selalu berkata, "Kamu kali yang salah. Coba kalau kamu berbuat yang lebih baik, mungkin kamu tidak akan dijauhi". Kamu, kamu, dan kamu. Mungkin sebentar lagi saya gila.

Imbasnya adalah aku, aku, dan aku. Keluarga yang selalu melimpahkan kesalahan pada saya, saya pun jadi merasa jika terjadi kesalahan, maka itu disebabkan oleh saya walaupun ternyata orang lain yang berbuat salah. Saya sering merasa bahwa saya kurang becus menghadapi sesuatu, saya sering merasa saya tidak benar, saya berbuat salah, dan lainnya. Saya, saya, dan saya. Tertekan sebenarnya.

Hingga pada suatu saat saya memutuskan untuk mengutarakan perasaan saya dengan mencoba bersikap asertif bahwa saya tidak suka apa yang mereka katakan, tapi konflik semakin besar, keluarga saya semakin marah. Saya dibilang tidak boleh tidak becus karena kalau saya tidak becus maka keluarga pun menjadi tidak becus. Saya tidak boleh pusing, saya tidak boleh bingung. Harus efektif, cerdas, dan cermat!

Mbahmu.

Saya pikir ini tidak adil karena sepertinya saya tidak punya hak untuk mengutarakan pendapat saya atau menolak sesuatu yang tidak saya inginkan. Saya berkata dengan frustasi kepada kakak sepupu yang tahu perasaan saya, "Ini enggak adil, Teh! Kenapa yang muda enggak boleh bicara?!"

Dalam komunikasi, orang-orang cenderung mementingkan diri sendiri. Suka atau tidak, saya dan kamu adalah orang-orang yang mementingkan diri sendiri. Misalnya begini: ada seorang anak yang patah tulang ketika olahraga futsal. Tiba-tiba orang tuanya datang ke guru futsal sambil marah-marah setelah mengetahui anaknya patah tulang. Guru futsal menerangkan bahwa sebelumnya sudah diperingatkan untuk pemanasan dan berhati-hati, namun orang tuanya semakin marah dan berkata, "Jadi apakah waktu itu bapak memperhatikan anak saya atau tidak?"

Kenapa?

Penjelasan guru futsal pada situasi itu sangat tidak masuk akal. Pertama, bayangkan Anda menjadi orang tua dari anak itu. Anda ingin mendapat kejelasan anak yang tadinya datang baik-baik sekarang pulang dengan tangan yang patah. Anda akan menjadi tidak peduli dengan apa yang telah gurukan. Yang Anda pedulikan hanya anak Anda.

Guru futsal pun begitu. Guru futsal cenderung defense dari serangan orang tua. Apa sih yang diinginkan orang tua itu? Orang tua ingin anaknya diperhatikan, kan? Oleh karena itu, guru futsal seharusnya bertanya mengenai bagaimana keadaan anaknya, menjelaskan dengan jelas posisi anaknya dimana pada saat itu, bukan alih-alih menjelaskan bahwa ia sudah memberikan instruksi. Peduli apa orang tua itu?

Intinya dalam komunikasi butuh pemahaman menjadi lawan bicara apalagi kalau terlibat konflik. Coba deh membuka pemahaman Anda terhadap lawan bicara dengan cara mengulang dengan persis apa yang dikatakannya. Itu akan membuka pintu empati Anda sehingga Anda bisa mengerti apa yang dimaksudnya.

Saat ini saya masih belajar. Dan saat ini pula saya masih ingin bilang: mbahmu!

Comments

andika said…
Berkomunikasi sama orang memang susah. Apalagi semua orang memaksakan persepsi masing-masing kepada orang lain. Harus ada penyesuaian diri.
vendy said…
siapa sih yang ingin disalahkan?

ah, iya... salah itu apa ya? standarkah itu?

*mbahku :))
mynameisnia said…
@Andika: Kadang penyesuaian diri itu bentuknya jadi kompromi.

@vendy: salah itu artinya tidak benar. Standar sepertinya. Hehe, gak tahu juga sih. Yang lain?

Popular Posts