Skip to main content

Membentuk Manusia

Ketika wawancara kerja, atasan meragukan bahwa saya menyukai hal-hal sosial. Dijabarkannya hasil psikotes yang menunjukkan bahwa saya ini orang yang egosentris. Saya geli sendiri. Tentu saja semua orang itu egosentris, jika tidak, bagaimana mereka mau hidup?

Sempat pemerintah melarang untuk memberikan uang kepada pengamen atau pengemis yang ada di pinggir jalan. Banyak yang tidak setuju atas alasan 'amal'. Setelah ditimbang dan ditinjau dengan asumsi ngawur, saya menyetujui alasan pemerintah ini. Malah saya berpikir bahwa pemerintah juga belajar psikologi!

Dalam psikologi, ada mahzab yang disebut behaviorisme yaitu mahzab yang yakin bahwa tindakan, pikiran, dan perasaan manusia dapat (dan seharusnya) ditentukan oleh stimulus lingkungan yang telah ditentukan atau dikondisikan. Dari beragam istilah dan teori di behaviorisme, terdapat istilah reinforcement atau penguatan yang diberikan pada perilaku yang diinginkan. Misalnya jika anak berbuat baik, pujilah terus. Jika anak berbuat nakal, hukumlah terus. Ngomong-ngomong tentang hukuman, hukuman fisik hanya dilakukan di zaman dulu, hukuman zaman sekarang adalah dengan cara mengurangi atau menghilangkan reward itu sendiri. Jadi yang masih pakai kekuatan fisik, ketinggalan zaman deh.

Balik lagi ke kasus pengamen dan pengemis. Jika pengamen atau pengemis diberi uang, maka itu menjadi reinforcement atau penguatan. Semakin banyak ia mendapat uang, maka semakin sering ia mengamen di jalan. Banyaknya uang yang didapat tentunya membuat teman-temannya tergiur sehingga dari desa pun berbondong-bondong ke ibukota. Pemerintah sepertinya memikirkan hal ini sehingga pemerintah memutuskan untuk memutus penguatan itu sendiri. Semakin sedikit yang mendapatkan uang, semakin sedikit juga yang mengamen di jalan.

Mungkin. Karena saya sendiri belum mengetahui apakah asumsi ini benar atau tidak.

Jika dilihat dari orang yang berpendapat itu adalah amal, sesungguhnya itu adalah orang-orang yang egois. Bagaimana tidak? Jika beramal, pasti berpahala. Sementara pahala itu hanya bisa dinikmati sendiri. Masalah amal 'kan bisa dimana saja, misalnya ke ke panti asuhan. Sementara kalau orang bersama-sama berhenti memberikan uang ke pengamen atau pengemis, siapa tahu masalah ketertiban sosial bisa sedikit terselesaikan.

Siapa tahu.

Comments

vendy said…
berburu sesuatu yang bukan berbentuk fisik, terkadang bisa dianggap lucu . . . ato enggak ya?
Nia said…
Berburu bukan berbentuk fisik.. maksudnya gimana, ven?
Vendy said…
contohnya pahala. beberapa orang mungkin akan bangga dengan "pahala saya udah banyak".

lucu.

kategori banyak itu gimana? satu? dua? pake rupiah juga? terus kalo pahalanya banyak, mau dituker voucher belanja gratis gitu?

:))
Nia said…
Hehe, satir ven :D :D
macangadungan said…
wah, hal ini jg yang jadi pikiranku akhir2 ini
beberapa waktu lalu sempat baca di koran soal penjelasan bahwa meningkatnya tingkat kriminalitas meningkat di jakarta karena banyaknya pengemis dan gelandangan yang muncul di jakarta karena merasa bahwa di jakarta mendapatkan uang dengan mengemis sangat mudah.

saya termasuk yang ga tega untuk nggak ngasih uang pd gepeng dan pengamen. brarti saya jg termasuk orang yang memicu meningkatnya tingkat kejahatan di jkt.

akhir2 ini jadi bimbang kalau mau ngasi sedekah... bingung. ga tega tapi jelas aku tahu bahwa sikap aku ini salah.
Nia said…
@macan: Can.. iya sih, masalah tega dan gak tega itu memang susah. Kalau gue tipe orang yang tega demi kemaslahatan bersama. Mungkin jika ada 1 orang yang perlu dikorbankan untuk semua orang, gue akan melakukannya. Heheh, gak deng, beneran.

Ok, back to topic. Amal kan enggak harus berupa uang, tapi tenaga dan jasa. Tapi jika dirasa baru berbuat amal kalau ngasih uang, bisa dititipkan ke panti asuhan, LSM, tempat ibadah, dan lainnya.
JiMmY luVhaRa said…
jadi kira2 gimana baiknya ?
Nia said…
Ya itu jim, jangan dikasih :D
ezra said…
saya biasanya ngasih kalo dia ngamen atau main pantomim atau nari atau apalah. itu reward dari saya. tapi saya ga pernah ngasih kalo dia itu pengemis, krn dia cuma menadahkan tangan dan meminta belas kasih. dia tdk melakukan usaha apa2.
mungkin usaha pemerintah menghilangkan reward yg bertujuan untuk menghilangkan pengemis atau gelandangan itu baik. tapi lalu apa? perlu tindak lanjut dong. niat baik aja blm cukup.
saya kenal seorang teman yg membina gepeng dgn membekali mreka ketrampilan membuat kerajinan yg mempunyai nilai ekonomi tinggi. skarang gepeng binaannya kesejahteraannya meningkat. gitu itu lho maksud saya. kalo cuma melarang memberi sedekah saja itu ga memberikan solusi. mereka menjadi gepeng itu kan krn jg dlm keadaan terjepit
Nia said…
Aaah, ya, saya hampir lupa kalau saya dan teman-teman saya sempat melakukan yang sama: melakukan pembinaan.

Usul yang baik, Zra :)

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…