Skip to main content

Oh, paradoks. Abstrak. Absurd. Mampus.

Kegemaran ibu menonton televisi di sebelah komputer cukup menganggu saya yang akhir-akhir ini cukup sering berada di depan komputer karena banyak PR menulis. Bagaimana tidak, acara yang ditonton ibu adalah sinetron yang penuh adegan cinta yang terlalu manis (giung) hingga marah-marah layaknya kesurupan. Demi Tuhan, saya stres. Bukan karena ibu saya, tetapi karena muatan lokal yang sudah menjadi rahasia bersama tapi tidak ada aksi untuk menghentikan juga. Boikot bila perlu!

Titi Kamal sebagai TKW dengan tokoh-tokoh muka Jawa yang berbahasa Arab membuat saya terheran-heran. Kenapa ya Titi Kamal mau main sinteron seperti ini? Setelah itu muncul tokoh dengan bahasa Sunda kasar dan bahasa Jawa dengan logat Jakarta.

Oh, paradoks. Abstrak. Absurd. Mampus.

Maaf jika tulisan ini sarkas. Tanpa mendeskritkan kemampuan kognitif seseorang, tapi saya jadi berpikir dimana logika si sutradara dan pembuat skenario cerita? Apakah realita hidup mereka sendiri layaknya sinetron yang mereka buat yang penuh adegan marah, perebutan harta, protagonis yang dijajah antagonis, atau romansa cinta yang membuat ingin dansa-dansa?

Oh, paradoks. Abstrak. Absurd. Mampus.

Sebelum saya akhiri tulisan ini, saya mau memberikan standing applause untuk beberapa stasiun televisi swasta yang sudah sukses meramaikan perkancahan dan kontribusi atas pembodohan bangsa sendiri. Selamat!

Comments

Begy said…
the thing is, Nia, our society (well, most, excluding us) loves it.
Nia said…
Tapi, jika masyarakat kita suka, harus dicari tahu juga. Masyarakat kita ini suka karena memang suka (seleranya begitu) atau dibentuk media?
Sundea said…
Hahaha ...

Sinetron ini emang banyak bgt yg maki2 belakangan, Ni ...

Kayaknya buat mereka logika emang udah nggak penting lagi, Ni. Mereka juga pasti tau kalo penontonnya sadar itu nggak masuk akal.

Tapi jual sinetron kayak gini kayak jual makanan nggak sehat yg banyak pewarnanya. Orang tau itu nggak sehat, tapi dimakan juga ...
Vendy said…
aish... kl udah ga bisa membedakan fakta sama mimpi, susah deh...

udah lupa sama republik mimpi? :))
Nia said…
@Dea: Bener.. bener. Kayak rokok juga. Udah tahu itu gak sehat, masih diisep juga. Hehe.

@vendy: Betul! Mungkin kebanyakan fakta yang ogah diterima, jadinya lari ke dunia mimpi terrooosss.
ezra said…
wah, kebanyakan nonton sinetron bisa menyebabkan neurosis akut dgn gangguan kepribadian. hilang kontak dgn realitas. bener ga, bu?
hehe..
sinetron indonesia sering hanya mengutamakan atribut. misalnya, karakter dokter tp kpn jadi dokternya? atau karakter kutubuku atau tomboy atau gay yg slalu digambarkan dgn cara dia berpakaian dll dsb.
btw, titip surat buat indosiar dong. serial "house"-nya diputar di prime time doms. daripada nonton sinetron dubbing ga jelas gitu.
indosiar mah payah. "felicity", "citizen kane", dan skarang "house" malah dipasang di dini hari.
makanya stop nonton tv aja. permintaan kan bisa dibikin
Nia said…
Haha, gak tau deh zra kalo ada penelitian kayak gitu.

Tambahan: karakter ibu psikolog di Cinta Fitri yang gak nyikolog banget. Haha.

Titipan surat saya terima.

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…