Skip to main content

Piala Kehidupan

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti pelatihan. Tema salah satu pelatihan adalah tentang piala kehidupan.

Dalam suatu sesi, kami diberikan permainan meniup balon. Semua orang diberi balon yang harus ditiup sampai ada aba-aba 'lepas', kami harus melepas balon itu dari pegangan kami sehingga balonnya meluncur kemana-mana. Di ujung ruangan ada sebuah dua buah piala. Target dari permainan ini adalah balon harus sampai pada piala tersebut.

Bagi yang belum menemukan strategi, balon akan terbang kemana-mana. Ada yang hanya maju sedikit, jalan di tempat karena balonnya pindah ke samping, bahkan ada yang mundur ke belakang. Ada perasaan kesal jika balon sulit dikendalikan, apalagi jika melihat teman-teman lain yang sudah mendekati piala. Tapi setelah tahu bagaimana strategi meniup balon, saya akhirnya menjadi orang kedua yang mendapatkan piala.

Pelatih bertanya kepada saya bagaimana perasaan saya. Saya jawab tentu saya merasa senang. Jika balon mundur ke belakang, saya merasa cemas. Namun jika balon maju ke depan, saya semakin semangat meniupnya.

Pelatih mengikat makna dari permainan ini. Ia berkata bahwa dalam kehidupan, langkah-langkah orang memang tidak selalu ke depan. Terkadang orang harus mundur, jalan di tempat, melangkah terlalu kecil, atau memang melakukan langkah yang besar. Orang-orang yang ada disekeliling kita juga sama-sama berjuang untuk mendapatkan piala kehidupannya. Bisa jadi mereka adalah kompetitor kita. Cara meniup balon adalah bagaimana strategi kita untuk mendapatkan piala kehidupan yang kita mau.

Pelatih menekankan bahwa piala kehidupan orang itu berbeda-beda. Saya tertegun mendengarnya. Mungkin benar adanya karena melihat keberhasilan teman-teman saya seperti pulang pergi ke luar negeri, menjadi pembicara disana-sini, atau dapat beasiswa sekolah lagi, membuat saya merasa saya tidak melakukan langkah apa-apa. Padahal, jika dicermati darimana tempat saya berasal, saya pun melangkah! Hanya langkah saya belum mencapai langkah teman saya yang sudah jauh di depan.

Terkadang saya lupa bahwa setiap orang punya piala kehidupan masing-masing. Masih ada perasaan iri dan kesal terhadap diri sendiri mengapa saya tidak berhasil seperti mereka. Bahkan saya ingin menukar piala saya dengan miliknya. Tapi bagaimana saya bisa menukar piala saya jika sampai sekarang saya masih bertanya-tanya apa sebenarnya yang ingin saya capai di kehidupan saya?

Saya harus sering-sering diingatkan, sepertinya.

Comments

vendy said…
hmmm...
you reap what you sow?
atau the amazing race in life?
Koq sama?
;D

Iri; Komparasi.
Juga, bingung; nisbi.
Kak Nia, mungkin sesekali kita harus berbagi cela, saling menertawakan dosa, dan -jikapun mau- merenunginya.
macangadungan said…
wah, postingan yang penuh perenungan. bikin gue tambah semangat.
gue jg sering sedih dan iri melihat temen2 gue yang udah jadi illustrator atau designer sukses... mungkin memang karena belon gue aja kali yang belum ditiup ke arah yang tepat :)
Neni said…
Niaa..gw banget dh! Sampe skrg gw msh bingung piala kehidupan macam apa yg gw mau! Huhuhu...:-(
Nia said…
@vendy: gak dua-duanya, ven :D

@johan: seru kayaknya kalau kita ketemu dan berbagi dosa masa lalu :)

@macan: waktu itu gue tahu bahwa agar balon bisa sampai piala, ternyata balon harus ditiup sampai besar. Mungkin usaha kita belom sebesar itu, can :)

@neni: wah.. hmmm.. aduh.. gimana ya. Sama ssiiihhh :))
natazya said…
a good one :)

kadang emang suka lupa juga ya, bahwa memang setiap orang punya jalannya sendiri, dan mungkin memang tujuan akhir yang mau dicapainya ga sama...

dan menghilangkan rasa iri? euh... SUSAH! :D
Nia said…
Iya. Penyakit hati itu.. :D
Begy said…
This comment has been removed by the author.
Begy said…
iri itu ga enak bgt. tapi sebenernya bisa memacu kita buat maju, biar ntar giliran orang lain yg iri sama kita hehe.
Nia said…
Ya.. tapi butuh proses untuk mengubah iri jadi motivasi. Hehe. Kalo kepala sudah dingin..
Ivy.Puppy said…
coolz...

duh setuju bgt dgn kata2 terakhirnya!
Mari saling mengingatkn! >,<
ktk tiba2 depresi krn balon tidak sesuai dgn keinginan..
walau piala na sendiri mash "lieur" yg mana..
wkwkwk...

keep on searching n trying aja! ^^

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…