Saya + Kamu + Institusi = Kita



Dimulai dari kepulangan saya dan teman saya, Andika, dari Selasar Sunaryo untuk menonton Multimedia Theater: Di Bawah Lapisan Es. Kami makan nasi goreng di salah satu warung pinggir jalan yang buka hingga tengah malam. Saya berkata kepada teman saya, "Saya lagi kangen teman saya. Dia adalah sahabat saya semenjak kita SMP. Diawali ketika skripsi dimana saya harus meneliti tentang orang yang HIV, tiba-tiba ia memberikan perhatian dan perasaan khawatir berlebihan. Saya jadi aneh, kenapa dia seperti ini. Lalu semenjak itu, setiap saya menghubungi, dia sulit sekali dijangkau. Sms tidak pernah dibalas, telepon tidak pernah diangkat. Ketika saya ulang tahun atau lulus kuliah, dia tidak menghubungi saya. Bukannya saya ingin diberi selamat, tapi aneh saja bahwa selama 8 tahun kami berteman, kami tidak pernah lupa untuk saling mengucapkan selamat. Sampai saya mendengar bahwa MEW akan konser di Bandung bulan Agustus ini. Saya tiba-tiba kangen dengan sahabat saya karena ia adalah teman yang mengasyikkan. Kami selalu berburu gigs dan berburu lagu-lagu vintage yang enak."

Andika bertanya, "Dia itu perempuan atau laki-laki?"

Laki-laki, saya menjawab. Lalu saya bertanya kepada Andika apakah laki-laki dan perempuan itu tidak bisa bersahabat?

Saya menjadi sanksi bahwa sahabat adalah seseorang yang ada disaat saya susah atau sedih karena saya hanya melihat persahabatan institusi - yaitu persahabatan yang terjalin karena mereka terlibat dalam satu institusi dan bertahan tergantung institusi. Jangan-jangan ini bukan karena saya dan sahabat-sahabat saya memiliki jalan masing-masing, tapi memang persahabatan kami hanya sebatas institusi. Setelah sekolah dan kuliah usai, maka kami pun usai. Jika berhubungan pun, hanya sebatas menanyakan kabar, saling bilang kangen, dan hubungan menjadi kaku. "Akhir-akhir ini merasa bahagia, salah satu faktornya karena ada orang yang saya suka. Saya tidak bercerita kepada sahabat-sahabat saya pada masa kuliah, tapi saya memilih bercerita sama kamu," ujar saya pada Andika.

Andika bilang mungkin karena saya dan sahabat saya jarang bertemu sehingga tidak ada bahan untuk cerita. Tapi saya semakin absurd, jadi konsep sahabat itu adalah untuk orang sering bertemu yang juga harus melewati proses jalan bersama dan mengalami hal yang sama dulu baru bisa dikatakan sahabat? Apakah suatu hubungan dikatakan sahabat sejati jika dua orang harus melalui berbagai institusi yang sama: rekan se-SD, SMP, SMA, dan seterusnya?

Sekali lagi Andika bilang bahwa seseorang tidak pernah menghilang. Seseorang akan selalu ada disamping kita dalam bentuk seberapa besar pengaruh dia terhadap kita. Misalnya sahabat saya membuat saya jadi orang yang optimis hingga sekarang, maka sahabat saya selalu "ada".

Tapi bagi saya itu absurd, sama absurdnya dengan konsep Tuhan. Mungkin saya baru bisa menghayati sebuah wujud.

Comments

Begy said…
sulit sebenarnya mendefinisikan arti sahabat. hampir setiap orang yg saya kenal memiliki opini terendiri tentang konsep persahabatan.

bagi saya, sahabat adalah orang yang nyaman menghabiskan waktunya dengan saya, begitu pun sebaliknya. entah itu waktu yg produktif ataupun tidak (misalnya mempergunjingkan hal-hal yg benar-benar tidak berfaedah). tetapi apapun itu, masing-masing dari kami sangat menikmati waktu yg dihabiskan bersama-sama.

betul sahabat itu bisa berawal dari sebuah institusi. tapi keterikatan hati dengan sahabat akan selalu ada meski sudah tidak terikat dalam satu institusi yang sama.

satu lagi. kalaupun nanti jalinan-jalinan persahabatan yang baru dibuat dengan orang lain, sahabat kita sekarang akan selalu memiliki tempat tersendiri dalam hati kita. ia tidak akan pernah bisa tergantikan dengan siapapun.

memang sentimentil. dan mungkin klise. tapi itulah yg saya rasakan tentang sahabat-sahabat saya. dan saya bersyukur karenanya.

saya percaya setiap orang sebenarnya BISA mendapatkan sahabat. kuncinya adalah apakah seseorang itu mau membuka diri dan menerima orang lain untuk menjadi bagian dalam hidupnya atau tidak.
Nia said…
Opini yang menarik, Beg. Thanks.
Jaka said…
kalo menurut saya, sahabat itu bagaimanapun ada disekitar kita, saya mempunyai sahabat sejak smp, dan selepas sma, kami tidak dalam satu "institusi", kami tidak kuliah di kampus yang sama. tapi tetap saja, persahabatan kami tetap terjalin.

jadi tidak selalu, sahabat itu harus satu institusi, tapi menurut saya, semua persahabatan[atau pertemanan?] dimulai dari satu tempat, dan waktu yang sama, dan sebagian besar itu semua terjadi di institusi yang sama. kesimpulannya sahabat tak harus satu institusi, tapi persahabatan [sebagian besar] dimulai di institusi,..


satu lagi, semboyan persahabatan saya dan teman saya adalah:
kamu senang, saya ikut senang
kamu susah, saya lebih senang

hags!
Nia said…
Ah, dasar :D

Ya sih, mungkin apa yang gue alami sekarang bukan sahabat yang sebenarnya.
macangadungan said…
sebenernya... lagi-lagi ini jadi pemikiran saya akhir2 ini. apakah sahabat tercipta karena kebetulan sedang berada di lingkungan/institusi bersama?
dan jika berpisah, apakah sahabat itu juga hilang?

akhir2 ini sedang merasa dilupakan (atau malah melupakan?) para sahabat dari SMP atau SMA...
tp gue lagi mati2an membuktikan bahwa itu tidak benar.

hufff... tp susah juga ya...

Popular Posts