Skip to main content

Dia, Dengan Pertahanan Seratus Persen!

Philosophia
Oil on Stretched Canvas 24" x 36"

Ada beberapa orang yang dapat "dibaca" dengan hanya melihat cara dia berbicara, mengungkapkan pendapat, bahkan media tulisan sekalipun. Tidak secara kasat mata, tapi selalu ada petunjuk-petunjuk yang selalu orang tersebut ulang dalam setiap kata. Itu mengisyaratkan sesuatu.

Orang-orang datang dan pergi. Menemui orang yang baru adalah hal yang menyenangkan seperti orang yang baru saya kenal beberapa bulan ini: seorang perempuan dengan balutan pertahanan diri yang kokoh dan otonomi tinggi.

Dalam sebuah sesi, ia berkata bahwa lingkungan psikologis timnya sudah cukup baik. Lingkungan psikologis yang baik menurutnya adalah lingkungan yang saling memaklumi kondisi jiwa rekan ketika akan diadakan interaksi hubungan kerja. Misalnya ingin bertanya sesuatu namun rekan kerja tampak dalam kondisi mood yang tidak baik, maka orang itu akan mengurungkan pertanyaannya. Ketika ia mengungkapkan itu, saya nyeletuk, "Pasti tidak nyaman". Padahal - kata atasan saya - mengedepankan rasa tidak enak berarti mengecilkan profesionalisme.

Sebelumnya ia pernah bilang bahwa ia merasa nyaman sharing tentang dirinya kepada saya karena saya tidak melakukan judgement ketika ia bercerita. Saya bilang kalau saya juga tidak suka di-judge. Misalnya ketika saya melakukan kesalahan, orang lain malah bilang, 'elo sih kayak gitu. Coba kalau elo enggak seperti itu, jadinya enggak akan seperti ini'. Terkadang muncul perasaan kalau saya sudah tahu dan tidak perlu diingatkan ulang atas kesalahan saya. Ada beberapa orang yang bercerita karena butuh solusi bahkan ada yang tidak membutuhkan tanggapan sama sekali. Terkadang orang hanya butuh telinga ketimbang mulut yang berbicara.

Sedikit teoritis, mari saya jelaskan sedikit. Dalam psikologi, terdapat empat model kepribadian yang disebut DISC - atau singkatannya adalah Dominance, Influence, Steadiness, dan Conscientiousness. Perempuan itu adalah tipe D yang secara garis besar digambarkan sebagai orang yang suka mengendalikan lingkungan mereka (selanjutnya baca di sini). Sedangkan saya adalah tipe I yang secara garis besar digambarkan sebagai orang yang suka bergaul dengan orang lain dan senang berada pada lingkaran pertemanan yang luas (baca juga selanjutnya di situ).

"Saya tipe I. Hasil tes saya antara I dan D skornya hanya beda tipis. Artinya kalau saya stres, saya tipe D."

"Kalau saya, stres enggak stres, D terus."

Perempuan itu mengemukakan bahwa ia mengalami kesulitan dalam menerima masukan dari orang lain. "Nasihat ya masuk ke telinga. Sisanya yang terserah gue," ujarnya. Kalimat tersebut diulang dari awal sampai akhir. Bagi saya, itu adalah sebuah petunjuk bahwa ia sulit menerima otoritas orang lain dan sangat otonom. Selama ia berbicara, saya mengangguk dan mengerti. Hidup dengan barrier atau pertahanan pasti sangat melelahkan.

Bagaimana caranya keluar dari pertahanan diri? Sesi open mind sepertinya tidak menyelesaikan masalah begitu saja. Jika sudah melibatkan masalah ego, ini benar-benar personal, dan saya belum mau berkomentar apa-apa.

Comments

natazya said…
ih bu menarik bener sih!!! ikutan dong :D :D :D

Im an I person...

btw acara batagor itu di IBCC tanggal 4 juli dari jam 10 sampai sore.. kalau mau ikut nyumbang juga oke banget! buka di batagor.net

c u there? ;)
Neni said…
Psikologi sll jd bhasan menarik.

Btw, S dan C nya gimana. Sy masuk kategori mana ya?:-)
Nia said…
@natazya: we'll see :)

@neni: sebenernya ini gak bisa diri yang mengkategori masuk mana-mananya. Tapi ada alat tesnya. (itu sih yang gue tahu)
natazya said…
ahaha baiklah

ditunggu ya tanggal 4 juli di ibcc :D

me will come ;) nanti kenalan sama banyak blogger bandung yuks ;)

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…