Skip to main content

Dunia-Dunia Di Balik Kaca


Kemarin sore yang cerah (20/6) Titik Oranje gallery membuka pameran Ekspresi Kreatif Anak Autis yang diisi oleh tiga anak penyandang autis bernama Ray, Aan, dan Dendi. Sempat pemilik gallery dianggap melakukan eksploitasi atau "menjual" tema autis namun kisah sebenarnya tidaklah seperti itu. Orang tua dari anak-anak penyandang autis seringkali ditolak oleh gallery lain karena apresiasi yang kurang. Ketika pemilik Titik Oranje gallery mengapresiasi bahwa karya anak-anak itu boleh dipamerkan, orang tuanya senang bukan kepalang. Apresiasi positif ini rupanya sangat berpengaruh pada orang tua maupun anak itu sendiri. Mereka mengundang saudara dan kerabat untuk berbagi kebahagiaan.

Hal yang dianggap negatif bagi orang lain rupanya salah, bahkan membawa kebahagiaan besar bagi orang banyak.

Salah seorang anak, Dendi, membuat lukisan-lukisan bergambar figur-figur keluarga seperti ibu dan ayah rupanya mengerti ruang lukis pada kertas. Tema hitam putih minimalis begitu khas menghiasi karya Dendi. Gambar-gambarnya yaitu gambar-gambar orang dengan ekspresi yang beragam seperti senang maupun sedih.

Kreativitas Aan tertuang pada canvas yang dihiasi cat minyak dengan warna-warna. Berbeda dengan Dendi, Aan lebih tertarik menggambar simbol-simbol.



Lalu Ray memilih untuk menyalurkan kreativitasnya melalui keramik. Banyak hal-hal yang terilhami dari kehidupan sehari-hari seperti bentuk anjing, kucing, dan lainnya.

Tipe belajar visual anak autis tentunya membuat anak mudah menyerap apa yang mereka lihat. Jangan dikira mereka tidak tahu apa-apa, namun justru kemampuan imitasi mereka lebih kuat. Berhati-hatilah dalam bertindak.

Terdengar serius.

Semoga ulasan singkat ini dapat memberi semangat kepada orang tua yang memiliki anak autis bahwa berbanggalah atas keunikan yang mereka miliki. Kreativitas bisa dilimiliki siapa saja!

Comments

macangadungan said…
Menurut gue justru anak2 autis ini harus dikasi kesempatan. soalnya kan anak autis salah satu masalahnya adalah kurang bisa menunjukkan keinginan dan emosi dia. dengan berkarya dapat menjadi salah satu perwujudan bahasa dan emosi mereka.

selain itu, seni kan milik semua orang.
Nia said…
selain itu, seni kan milik semua orang.


gue suka kalimat ini!

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…