Jika Manusia Tanpa Akal Dan Pikiran

Bahasan kecil di suatu malam dengan teman saya tentang Harun Yahya membuat saya ingat dengan atasan saya yang memperlihatkan video tentang keajaiban semut dan banteng. Semut adalah binatang yang terkenal dengan kerjasamanya dalam mengangkat makanan yang berkali-kali lebih besar untuk dinikmati bersama sementara para banteng tua mengelilingi dan melindungi banteng muda dari serangan harimau. Saya cukup terkesima melihat video banteng karena para banteng tua mengorbankan nyawanya untuk banteng muda yang mungkin bukan anaknya.

Semua itu didorong untuk melestarikan spesiesnya. Binatang hanya terdorong insting, seolah-olah terprogram dari sononya memang begitu. Tapi setelah menonton video-video ini membuat saya bilang kepada atasan saya, "Sepertinya manusia yang semula mengagung-agungkan akal dan pikiran sebagai pembeda dari binatang menjadi bumerang untuk manusia itu sendiri. Kalaupun manusia hanya memiliki insting (seks dan agresi), mungkin tidak lebih baik dari binatang."

Atasan saya tertawa ketika saya bilang seperti itu. Ia tidak memberikan tanggapan atas pernyataan saya.

Mungkin saya penganut aliran pesimis tapi saya memiliki pendapat. Pikiran - selain menciptakan kemajuan - berguna untuk menganalisa, mencari kelemahan, membantah, menilai, ingin membuktikan bahwa yang lain salah dan pendapatnyalah yang benar. Berbeda dengan binatang tidak memiliki kebutuhan seperti harga diri, dicintai, aktualisasi diri, pikiran manusia didorong oleh beragam kebutuhan untuk maju, sukses, menang sendiri sehingga memungkinkan manusia menempuh cara kotor untuk membunuh spesiesnya. Sikut menyikut, korupsi, dan bahkan terang-terang menghabisi nyawa orang.

Bayangkan manusia tanpa pikiran. Selain insting seks dan agresi, sepertinya manusia tidak diformat memiliki kemampuan apapun lagi. Suasana dua kali lebih chaos, mungkin. Atau jangan-jangan manusia diciptakan dengan pikiran karena jika hanya berlandaskan insting, manusia tidak akan hidup?

Ya sudah. Tidak usah dipikirkan. Ini hanya pikiran ngawur saya saja.

Comments

andika said…
Lho, kenapa malah jadi chaos? Bukannya binatang sudah terbukti bisa managing?
vendy said…
bukannya sejak awal memang kita jg hidup berdasarkan insting? kl dari sudut pandang biologi, ya, kebetulan size otak kita emang lebih gede

kebetulan ;))
Berarti, ego -segala kebutuhan dicintai; penghargaan; pengakuan keberadaan (dan lainnya)- adalah pengalih-perhatian? Karena, kehidupan akan tidak luhur jika manusia hanya hidup dari instingnya saja?

Saya baru ingat, setiap hal punya gunanya. Bahkan, ego: yang melahirkan "keluhuran"; "kehormatan".
Wah.
gung said…
Mungkin tanpa ada pikiran, kebutuhan yang dimiliki manusia juga sangat sederhana: energi, hibernasi dan reproduksi sebuah hal yang lumrah dan ilmiah. Tapi mungkin karena hal yang itu-itu saja bakal timbul rasa kebosanan karena manusia bakal stagnan di satu titik.

Pikiran lebih merujuk kepada sebuah tujuan, solusi atau bisa disebut juga dengan penciptaan masalah setelah penyelesaian masalah *sepintas terdengar rumit, tapi lebih menyenangkan!*.
Nia said…
Semuanya betul!
ezra said…
stuju, nya. pikiran sperti pisau, ia bisa 2 arah. trgantung bagaimana kita menggunakannya. orang bilang, tuhan memberi kita kelebihan berupa pikiran utk membedakan kita dgn binatang. tp kita harus berhati-hati, kalau tdk, ia hanya akan menjadi "kelebihan", sperti misalnya jika aku punya 1 mobil, sedangkan kamu punya 3 mobil, maka kamu punya kelebihan 2 mobil daripada aku.

krn itu, menurut saya, pikiran hanyalah 1 variabel. masih ada hati, kan?
Nia said…
Ya.. masih ada hati :)

Popular Posts