Keenan

Seorang anak kecil yang berjalan tidak menentu dan asyik bermain sendiri itu berwajah rupawan. Saya hanya memperhatikan dari kejauhan sementara pikiran ini menduga-duga gangguan apa yang ia alami sekarang. Alih-alih sedang mengobservasi anak yang diduga disleksia, mata saya tidak terlepas dari anak itu.

Hari pertama saya masuk kerja, saya disodorkan sebuah nama. Keenan. Saya dibawa masuk ke kelas dan ditunjuk anak yang akan saya dampingi di kelas. Ternyata Keenan adalah anak yang waktu itu jalan-jalan tidak karuan ketika saya tes kerja. Hati ini sedikit ciut karena saya menduga bahwa gangguan perilaku lebih kompleks dari gangguan belajar. Seharian saya duduk di pojok ruangan melihat Keenan mondar-mandir tidak karuan. Saya tidak berani mengintervensi lebih jauh, oleh karena itu saya memilih duduk bersama buku-buku.

Namun Keenan penasaran dengan sosok baru yang hadir di dalam kelas. Ia menghampiri saya dan menanyakan nama saya. "Bu Nia," jawab saya, "kalau kamu?"

Ia tersenyum lalu berlari.

Dua bulan bersama Keenan cukup sulit ditangani. Dia penuh dengan pertahanan diri, menolak otoritas, agresif, merebut barang temannya, membawa push-pin kemana-mana, berebut kursi, ia mendorong meja sementara saya menahan, ia meludah, dan lainnya. Ia seringkali mogok mengerjakan sesuatu jika sudah tidak mau, seringkali saya bertanya kenapa tapi ia tidak pernah mau menjawab. Mulutnya diam mengatup. Puncaknya ia mencakar tangan saya hingga berdarah. Luka itu pun masih membekas di lengan hingga sekarang saya menulis ini, namun tidak pada hati saya. Justru saya sayang sekali dengan anak ini.

Semakin lama kami semakin dekat. Emosi terbangun dan saling percaya. Saya percaya ia akan berkelakukan baik seharian dan ia percaya saya untuk menceritakan perasaan-perasaan. Kami saling berpegangan tangan - menggoyangkan ke depan dan ke belakangan, ia menangis dipelukan saya di halaman belakang, melakukan permainan tarik tangan, dan lainnya. Singkatnya Keenan berubah menjadi anak yang manis, tidak pernah memukul, aktif di kelas, mulai mengemukakan perasaannya, dan mudah mengikuti pelajaran. Semua guru memujinya, semua guru sudah tidak takut lagi padanya.

Di tahun ajaran baru, Keenan akan didampingi rekan kerja saya yang lain. Semula saya direncanakan mendampingi Keenan karena Keenan bukanlah tipe anak yang mudah didekati, percaya, dan beradaptasi dengan orang baru. Namun karena ada anak lain yang lebih membutuhkan bantuan saya, atasan saya memutuskan Keenan didampingi rekan lain.

Mendengar keputusan itu, saya sedih karena saya tidak akan ada disampingnya, menemaninya belajar, menemaninya bermain, atau menjadi sasaran adu kekuatan jika ada masalah.

Saya akan rindu ia memegang tangan saya lalu mempermainkannya tanpa kata-kata.
Saya akan rindu ketika ia bilang, "Keenan janji Keenan akan jadi anak yang baik".
Saya akan rindu dengan pernyataan-pernyataan 'Bu Nia kok senyum-senyum terus?' lalu saya menjawab 'Karena Bu Nia senang mengajar Keenan' dan ia menjawab dengan senyuman.
Saya akan rindu dengan pernyataan 'Bu Nia galak' lalu saya tanya apa saya betul-betul galak, maka ia akan menjawab 'Enggak kok, Bu Nia baik. Iya... Bu Nia baik'.

Terlebih lagi, saya akan rindu mengingat ketika saya bertanya bagaimana jika ia tidak diajar oleh saya dan ia menjawab dengan diam lalu ketika saya bertanya bagaimana jika ia tetap diajar oleh saya dan ia menjawab, "Keenan pasti senang!"

Saya akan rindu.

Pasti rekan kerja saya akan menjaga Keenan dengan sebaik-baiknya.

Comments

Sundea said…
Nicely sentimental, Ni ...

Gue ikut kangen sama Keenan meskipun nggak kenal ...
Dari cerita yang sedikit ini, kalian mesra sekali.

Kak Nia jatuh cinta? :)
macangadungan said…
ummm... teringat sama salah satu novel based on true story tntg guru di kelas anak2 berkebutuhan khusus, dan dia memiliki ikatan khusus dengan muridnya... tau ga buku judulnya apa Nia?

that's why i respect teacher, apalagi klo mengajar anak2 berkebutuhan khusus. jujur aja, kadang guru malah lebih bisa mengenal dan mengerti seorang anak dibanding orangtuanya sendri
Nia said…
@Dea: Thanks, De. Kalau lo kenal, pasti lo akan suka dengan anak ini.

@Johan: Iya, Han. Jatuh cinta atas keunikan dan kerumitannya :)

@macan: salah satu karyanya Torey Hayden, mungkin? Mungkin karena gue adalah pihak netral jadi bisa melihat mana yang baik dan mana yang enggak. Tapi gak tahu kalau gue jadi orang tua :D
Begy said…
Kalo ga salah, Keenan itu nama anaknya Dee kan?
Neni said…
Niaa keren...
Hebat ih bisa bikin Keenan jd lebih manis...:-)
Nia said…
@Begy: betul, tapi bukan Keenan yang ini.

@Neni: makasih.. doakan skill saya berkembang yak. Hehe.
macangadungan said…
iya betulll, torey haiden! gara2 baca buku itu gue jadi suka banget ama buku "The Little Prince"
natazya said…
ah... yang begini yang sebetulnya buat saya jadi ingin sekali jadi pendamping ABK...
Brahm said…
Sip! Jd tahu kemana hrs wawancara kalau kepingin nulis ttg (atau menciptakan tokoh) murid yg beda, dan gurunya yg jg spesial. ^_^
Nia said…
Itulah saya..

Hehe :D
ezra said…
ah, torey hayden.
jgn takut, nya. jejakmu akan selalu tertinggal pada keenan
Nia said…
:)

Makasih Zra.
Anonymous said…
Aku sedih membaca cerita ini, karena aku hanya diberi kesempatan mengenal Keenan 2 hari saja. Aku juga kangen Keenan, walaupun baru mengenalnya sebentar. Aku kangen cerita-ceritanya, senyumannya dan pegangan tangannya.. Mudah-mudahan Keenan bisa menemukan arti hidup yang sesungguhnya.. :)
Nia Janiar said…
Waaah, ketemu tulisan yang udah lama ini. Diliat satusatu ya.

Setelah waktu berjalan, sayang ya.. agak gak keurus.

Popular Posts