Kain Malam

Tadi malam, ketika jarum panjang tepat menunjukkan angka satu, masih ada yang belum tertidur. Bunyi serat kain yang terbelah menyadarkanku akan hadirnya orang lain. Bebunyian berasal dari langit-langit. Aku menajamkan pendengaran, ternyata langit malam yang menjadi biang keladi berisiknya malam itu.

Aku keluar kamar, berjalan perlahan ke lantai tiga - lantai tempat jemuran yang menghadap langsung ke langit malam. Tanpa menggunakan alas kaki, aku berjalan hati-hati. Sesampainya disana, aku melihat sebuah wujud. Ia berdiri menjulang di langit dengan sekotak manik-manik di sampingnya, membelakangiku. Dengan jarum yang sangat besar, ia menjahit manik-manik itu pada kain hitam yang membentang sangat luas.

"Lagi apa?" tanyaku.

Dia tidak membalikkan wujudnya, terus membelakangiku. Kucoba dengan suara yang lebih keras, "Ehm ... lagi apa?"

Ia berbalik. Dengan sedikit ulasan senyum, ia berkata, "Aku lagi menjahit. Kamu belum tidur?"

Aku menggeleng. Kukatakan kepadaNya bahwa akhir-akhir ini aku susah tidur.

"Sudah berapa manik-manik yang Kau jahit?"

"Hmm ... mungkin 100 atau 200. Sekarang ini sulit mendapatkan manik-manik yang bagus, manik-manik yang bersinar cerah dan kontras dengan warna hitam."

"Kenapa?"

"Karena para penjual manik-manik lebih sibuk jalan-jalan pakai mobil, membuat pabrik-pabrik besar yang asapnya menjunjung tinggi ke tempatKu, dan hal-hal lainnya ketimbang membuat manik-manik cerah yang dulu mudah Ku dapatkan."

"Kau sepertinya cukup memiliki kemampuan. Kenapa tidak Kau saja yang buat?"

"Setiap masing-masing jiwa sudah ada tugasnya dan sudah ada perannya. Sudah Aku buat begitu. Biar saja."

Sementara Ia terus menjahit, aku memperhatikan. Jahitannya begitu cepat dan rapi sehingga benang-benangnya tidak terlihat. Terkadang Ia mengaduh lucu ketika jarum menusuk tangannya kemudian Ia bilang ke jarum agar tidak main-main dan tidak nakal. Ia juga berbicara pada setiap manik-manik agar tidak copot hingga kain putih menyingkap malam.

"Kau tidak masalah jika di atas sendirian?" tanyaku.

"Tidak. Kamu?"

"Walaupun aku hidup dengan banyak orang, kadang aku merasa sendirian."

"Kamu bisa menjahit?" tanyaNya.

"Bisa, tapi hanya sedikit. Aku hanya bisa menjahit kancing."

Ia terus menjahit. Diambilnya manik-manik bulat yang paling besar. Warnanya putih pucat. Teksturnya tidak rata. Dengan hati-hati, Ia mengambilnya kemudian setelah menyimpannya di tempat teratas, Ia menjelujur sisinya.

"Aku paling suka itu. Tidak ada alasan, aku hanya suka," ujarku.

Ia menghentikan pekerjaannya sebentar. Sambil tertawa kecil, ia berkata, "Semua orang suka yang ini."

Tiba-tiba kain hitam itu semarak dengan warna-warni manik-manik. Berniat berlama-lama untuk menikmatinya, Ia berkata, "Segeralah masuk. Tidur. Besok kamu kerja."

Ibarat anak kecil, aku menurut. Kulambaikan tangan kepadaNya dan sesegera ia menghilang sebelum aku tanya namaNya. Kulangkahkan kaki perlahan menuruni tangga, takut menganggu orang lain. Aku masuk ke kamar, berbaring, dan segera tertidur.

Comments

Anonymous said…
Bagus banget nih ceritanya.. tapi aku kok jadi takut ya bacanya ? karena banyak beberapa kesamaan, pertama : dirumahku lantai atasnya tempat nyimpen jemuran&aku sering kesana, kedua : tadi malem aku juga gak bisa tidur, karena abis nonton film yang menegangkan. Sebenarnya dalam imajinasimu ini, kmu ngobrol sama siapa ? ada beberapa kata yang menggunakan -"Nya", apakah itu Tuhan ?
Nia said…
ehm.

Tidak usah takut, tidak usah sungkan *lho*

Iya, ceritanya ngobrol sama Tuhan, bu. Cerita ini terinspirasi pas aku pulang dari Jakarta. Di kereta, aku lihat ke luar jendela. Disana langitnya bagus banget, tapi saking gelapnya, kelihatannya kayak kain hitam yang dijahit sama manik-manik.. bertaburan gitu.
vendy said…
merajut kembali rangkaian Bimasakti?
mari :D
Nia said…
Aaah.. tema itu! Sudah lama terbengkalai akibat itu perlu ditulis setengah sadar dan sekarang jam tidurnya udah beres. Sudah diingatkan, gue jadi pengen mengunjungi Jagad dan Raya ntar malem. Thanks, Ven! :)
Sundea said…
Niaaaa ... cerita yg ini manis banget. Bersahaja, kayak dongeng, dan romantis. Gue suka. Image Tuhan yg sederhana dalem kemahaan-Nya kerasa banget di sini.

Btw ... Tuhan kita ajak aja ikut Klab Hobi di Tobucil kalo gitu ... hehehe ...
macangadungan said…
ah... iya, aku jg kangen baca bima sakti...ceritanya surealis gitu soalnya. unik...

cerpen yang ini jug akeren :D
Nia said…
@Dea: Hehe, kalo ikut ke Klab Hobi, nanti semuanya kalah bagus lagi. Hehe.

@macan: Iya nih can, ntar ah.. menyambung ruh dulu biar bisa kesana. Udah lama ditinggalin soalnya.

Popular Posts