Kopi Di Depan Ruang LSU


Sebelumnya, Learning Support Unit (LSU) adalah posisi tempat saya bekerja. Di depan ruang LSU yang ada di lantai dua, ada sebuah koridor yang disampingnya ada dua jendela. Jendela yang menampilkan pemandangan biasa-biasa saja itu seringkali menyajikan angin sepoi-sepoi dan cahaya terang benderang namun tidak menyilaukan.
Siang itu saya duduk termanggu sambil menikmati kopi di gelas tupperware saya. Cukup aneh karena saya ini bukan konsumen kopi. Tapi kali ini saya benar-benar butuh kopi.

Pikiran saya melayang pada teman-teman saya yang kemarin datang ke rumah karena salah satu notes saya di Facebook tentang iri hati. Iri akan kehidupan orang lain saya akui blak-blakan. Entah karena merasa nyaman atau sudah merasa tidak peduli - saya tidak tahu. Ternyata banyak respon yang merasakan hal yang sama. Dikomentari oleh orang yang berbeda-beda.

Idealisme - salah satu yang menjerat saya hari-hari belakangan ini. Ternyata teman-teman saya juga mengalaminya. Idealisme dalam bekerja enggak akan ngasih makan. Tidak akan secepat itu, mungkin. Saya dan teman-teman saya mengorbankan idealisme demi pekerjaan yang lebih menjanjikan dan yang terutama menghasilkan ... uang.

Semula saya menikmatinya namun lama kelamaan saya kayak anak ayam yang kehilangan induknya.

Saya merasa useless, merasa dipaksa melakukan sesuatu yang tidak saya mau namun saya defense dengan beragam rasionalisasi untuk menyeimbangkan keinginan dan kenyataan. Apa yang coba kamu berikan untuk keluarga? - tanya teman saya. Sebuah pembuktian atau persembahan? - lanjutnya. Saya jawab saya mau memberikan sebuah pembuktian bahwa saya bisa seperti yang mereka harapkan. Walaupun masih pada hidup, saya telah diberi warisan harapan. Unfinished business. Saya diberi tongkat estafet untuk berlari ke garis finish. Saya bilang ke teman saya bahwa enggak mungkin saya bisa seenaknya sendiri menentukan apa yang mau saya kerjakan karena saya disekolahkan oleh keluarga saya. Ibaratnya: balik modal dulu lah.

See? Saya terjerat dua kali.

Comments

andika said…
Aduh, postingan ini...
Sundea said…
Bikin list untung-rugi, Ni, untuk mastiin yang mana yg ngejerat yg mana ...
Begy said…
wah kita jarang ngobrol ya Ni (OOT bgt). kalau menurut saya, lakukan saja apa yang kita yakini benar dengan catatan keyakinan itu didasarkan atas hasil renungan yang dalam dan pemikiran yang matang. cliche? kinda. but it works (setidaknya buat saya).
natazya said…
ah itu iya banget... suka susah ya kalau mau menentukan yang mana antara idealisme pribadi dengan tuntutan lingkungan yang ga bisa dihindari...

saya juga akhirnya menyerah kalah... tapi buat sementara aja... anggap saja ini adalah jalannya menuju satu jalan yang memang kita mau, yang sekarang mungkin masih saja ada yang kurang... AMIEN
pushandaka said…
Wih, sudah lama banget ndak main ke blog ini. Ternyata sudah berubah tampilannya.
Nia said…
Waduh.. sering" main kesini dong.. :D

Popular Posts