Merah Tua

Jika akhir-akhir ini aku melihat langit malam, warnanya tidak melulu hitam. Kadang berwarna biru tua, kadang kemerahan. Seperti malam ini, bulan yang menunjukkan setengah wujudnya tampak pias diantara langit merah tua. Di waktu tidak selarut malam terakhir ketika aku menemuiNya, Ia sudah hadir ketika jarum belum menunjukkan angka dua belas.

Ia duduk termanggu, tidak sibuk seperti kemarin. Sedikit kudengar Ia tersedu. Kenapa? - tanyaku.

Ia terkejut dengan kehadiranku. Diseka air mataNya cepat-cepat. Baru pada saat itu aku sadari bahwa aku berada di permadani mantel merah tua yang menghampar luas. Angin malam berhembus, Ia mengencangkan mantelnya.

"Dingin ya?" tanyaku.

Ia mengangguk.

"Aku tidak bersahabat dengan dingin. Dingin membuatku alergi dan dingin juga membuat dadaku sesak. Sampai kapan ya ini berakhir?"

Alih-alih menjawab pertanyaanku, Ia menggapaiku kemudian membawaku disisiNya. Tinggi dan hangat. Mega dan akbar. Ia bercerita tentang Raja Awan yang terus menangis karena kehilangan anaknya - si embun - karena kemarau. Semua orang bersedih, seisi angkasa berduka. Angin membawa air mata Raja Awan, berharap sang anak mengetahui bahwa ayahnya mencarinya. Itulah yang membuat mengapa angin Bandung begitu dingin bulan ini.

Ia menyeka air matanya kemudian berkata, "Kamu tahu, selain sosok ibu, ada seorang ayah. Manusia perkasa itu terkadang memiliki hati lebih lembut dibandingkan ibu. Dibalik sosok yang keras dan tegas, ia menyanjungmu apa adanya."

Aku tidak suka topik ini. Aku minta Ia menurunkanku. Sesampainya di tanah, aku mengucapkan selamat malam - "Nanti, jika aku sudah berbesar hati, aku akan kembali kesini."

Comments

andika said…
Apa waktu pertama nulis ini elu udah tahu akhirnya bakalan begini, Nia?
Nia said…
Enggak, Dik. Keliatan yak?
vendy said…
"Nanti, jika aku sudah berbesar hati, aku akan kembali kesini."

gue suka bagian ini =D
Nia said…
He.. thanks :D

Popular Posts