Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2009

Cerita Sebuah Foto: Laut

Sudah dua tahun Pak Darmi melaut sendirian bersama pasang dan surut. Namun pasang dan surut bukan hanya teman Pak Darmi untuk melaut. Cuaca dan angin laut juga memiliki pengaruh yang besar untuk hidup Pak Darmi.

Sudah dua bulan terakhir ini badai terjadi di laut Jawa, baru sekarang ia bisa menerjang ganasnya laut. Dengan perahu kayu seadanya, ia menghadapi dalamnya air dengan segala isinya. Berada di tengah-tengah laut dan merasakan keheningannya, membuat Pak Darmi merasakan sensasi tersendiri. Selain itu, Pak Darmi pernah menyaksikan kejadian-kejadian aneh di tengah laut seperti pusaran air, ikan-ikan besar yang berenang di bawah perahunya, suara-suara tanpa wujud yang saling memanggil dan saling menyahut.

Dulu, ketika ia pulang melaut, ada yang menyambutnya. Dialah sang istri yang siap dengan arang dan tungku untuk memasak hasil tangkapannya. Setiap bulan, rumahnya selalu wangi dengan ikan bakar, saus kecap, dan cabai merah. Jika Pak Darmi pulang tanpa membawa tangkapan, istrinya sela…

Ah, Sudahlah!

Menonton Julia Perez berantem di media sama calon mantan suaminya cukup mendapatkan perhatian saya ketika Julia Perez berkata, "Sudah tiga tahun dia makan duit saya, tapi sekarang pas enggak kebagian apa-apa, dia minta duit juga!"

Ya, walau tidak sama persis, kira-kira begitulah katanya.

Mengingat konon orang yang menikah itu diawali dari saling suka, saling sayang, saling cinta, hingga memastikan diri untuk menikah dengan janji untuk setia dalam suka dan duka lalu sehidup semati - saya merinding. Bagaimana bisa dua orang yang saling berbagi tempat tidurnya, saling melebur, saling berkata selamat pagi seusai bangun tidur - kini saling membenci, saling menghujat, saling ngomong masalah uang. Uang, kawan, ini uang!

Sepertinya saya naif. Tapi apakah mereka lupa ketika mereka jatuh cinta?

Namun sisi pertikaian dari kedua pasangan (siapapun itu) yang putus atau bercerai dirasa tidak absolut bahwa cinta bisa membuat dua orang saling membenci. Kadang benci menjadi satu-satunya cara unt…

Visual Noise

Bermula dari undangan dari Selasar Sunaryo bahwa hari ini adapameran tunggal Beatrix Hendriani Kaswara yang diberi judul Visual Noise , saya langsung meng-sms Andika. Ternyata gayung bersambut, teman saya itu mengiyakan. Maka sepulang ia kuliah, ia segera ke rumah saya kemudian kami menuju Dago Pakar.

Kami datang kelewat pagi dibandingkan acara awal oleh karena itu kami duduk-duduk di Kopi Selasar dan saya memesan espresso machiato atas nama tidak enak jika duduk-duduk doang dan si mbak sudah memberi bon pemesanan. Setelah itu, orang-orang yang mulai berdatangan membuat saya dan Andika menyisihkan diri dengan beranjak dari Kopi Selasar lalu duduk-duduk di amphitheater Selasar Sunaryo. Ternyata lebih enak disini! Ditemani langit sore, sepoi-sepoi angin dingin, dan daun-daun bambu yang berguguran, menemani kami berbincang-bincang menunggu acara.

Tiga puluh menit dari pukul empat, acara baru dimulai. Ternyata orang-orang cukup banyak yang datang. Sebagian dari mereka sepertinya wartawan. A…

Hati

Beberapa minggu yang lalu, saya menerima sebuah email dari sebuah website psikologi yang saya asuh. Rupanya website ini dijadikan ajang konsultasi orang yang butuh konsultasi. Mudah, tinggal klik kolom redaksi dan pilih salah satu kontributor yang dirasa cukup mumpuni. Lho, kok semuanya berakhiran 'i' begini?

Datanglah sebuah email dari seorang perempuan yang mengeluh terlalu cemburuan dan posesif. Rasanya enggak enak tapi enggak bisa lepas - ujarnya. Mendengar keluhan itu, saya jadi merasa membaca tulisan sendiri karena saya pun tipe orang yang seperti itu. Dengan berbekal teori psikologi untuk meningkatkan self-esteem dan rasa percaya terhadap diri, saya pun memberi saran.

Lalu datang lagi email lain tentang cara melupakan mantan pacar. Saya pun memberinya 5 tips. Hebat sekali. Namun ini adalah sebuah ironi karena psikologi untuk Anda, bukan untuk saya.

Alkisah dulu pun saya merasakan hal yang sama. Melupakan orang yang pernah disayang memang sulit. Tipe orang yang susah jatuh …

Cepatlah Pulang, Sayang.

Nanti tehnya keburu dingin!

Pulanglah. Mewujudlah Di Pangkuan.

Mengisi jiwa yang kosong pada hari-hari kerja dengan musik adalah solusi yang tepat. Setidaknya bagi saya. Sebelum berangkat kerja, saya sering mendengarkan mp3 dalam perjalanan - setidaknya untuk membuat saya tenang menghadapi kerjaan yang penuh tekanan. Huks.
Minggu sore sehabis hujan, saya menghadiri sebuah acara musik sore yang awalnya akan diadakan pukul empat. Saya sampai di tempat pada pukul empat kurang sepuluh, namun acara sudah dimulai dan musisi sudah menyanyi. Acara yang terlambat atau terlalu cepat dari jadwal awal juga bisa membuat penonton kecewa.
Tersebutlah musisi tersebut bernama Maryam Supraba yang menurut teman saya Maryam Supraba ini putrinya WS Rendra.

Ketika saya datang, Maryam sedang menyanyikan salah satu lagu dari Krakatau yang diakui oleh Maryam sendiri bahwa itu adalah satu-satunya lagu orang lain yang ia bawakan selama ia menyanyi.
Baru kali ini saya terpesona dengan seorang penyanyi perempuan Indonesia. Lagu-lagu yang Maryam bawakan terkadang begitu kekanak-k…

Swing It!

Entah apa yang dikejar oleh saya dan teman-teman saya: live music, suasana cafe, musik jazz, gitaris oke, atau memuaskan obsesi terhadap laki-laki bergitar. Yang pasti pada Rabu malam, saya dan teman-teman saya pergi ke Cafe Halaman untuk menonton Tesla Manaf bermain musik jazz.


Jujur, saya adalah pengikut aliran terakhir: obsesi terhadap pria bergitar. Saya mudah terpesona dengan pria yang bermain gitar karena skill yang saya kagumi. Namun tidak semua pria bergitar bisa mendapatkan hati saya (duh), seperti salah satu musisi Bandung yang ketika ia bermain gitar dan saya lihat dari berbagai sudut pandang ... tetap sajaa tidak keren. Subjektif.

Dari acara Musik Sore Tobucil, saya jadi tahu sosok Tesla yang dulu bermain musik klasik dan kini pindah ke jazz. Kebetulan, saya juga mau pindah ke jazz mengingat skill saya sudah karatan. Doakan.

Balik lagi ke Cafe Halaman yang ternyata sangat penuh dan saya harus waiting list, ternyata reservasi pun tiada guna karena orang-orang tumpah ruah di bi…

Dalam Resital, Musik Mengalun Syahdu

Teman saya bilang saya ini beruntung karena saya lahir dan tinggal di Bandung.

Ya, saya memang beruntung. Semua tentang musik, ada disini.

Kemarin malam (09/08), saya dan Andika datang ke sebuah acara Resital Tiga Gitar Plus Satu di CCF. Resital ini diisi oleh empat orang gitaris dari Bandung : Widjaja Martakusumo, Bilawa A. Respati, Syarif Maulana, dan Royke Ng. Dengan membawakan 10 lagu, mereka memainkan gitar dengan syahdu.


Dua lagu yang membuat saya puas mendengarnya adalah ketika mereka memainkan Bajo la Palmera dari I. Albeniz dan Concerto en Re Majeur dari G.P. Telemann. Ketika lagu Bajo la Palmera dimainkan, saya lihat pantulan cahaya dari gitar Secco menari-nari di dinding auditorium CCF. Selain itu mereka juga memainkan lagu klasik dari komposer Bandung bernama F. Wiriadisastra dengan judul Irregular Waltz dan Pela Yangan. Perlu diakui ketika mereka memainkan Irregular Waltz, saya mendengar musik yang aneh dan tidak biasa.

Salah satu gitaris yang mirip dengan teman saya, Bilawa,…

Terima Kasih Atas Malamnya. Saya Sangat Bahagia!

Waktu itu hampir pukul sebelas malam. Kami masih berada di daerah Braga - daerah yang dikelilingi bangunan tua Belanda. Sejarah Bandung yang dibakar, konferensi Asia-Afrika, hotel para pemilik kebun teh, kilometer nol, masjid Agung, hingga prostitusi kecil-kecilan yang menyebar hingga stasiun kereta. Dia duduk setengah mabuk di samping saya. Bau kecut dari mulutnya membuat saya sedikit menjaga jarak. Dalam kondisi sadar sepenuhnya, saya mendengarkan ia berceloteh tentang kehidupan.: Kadang gua sanksi kalau Tuhan itu ada. Eh, mabok-mabok gini, gua sering solat! Tapi kadang gua berpikir jangan-jangan gua jungkir balik ini untuk sesuatu hal yang enggak ada. Jangan-jangan ini dianggap ada oleh orang-orang yang berharap keajaiban atau orang-orang yang menyalahkan sesuatu yang lain atas hidup yang dia alami.Gimana kalau Tuhan itu ternyata kaga ada? Gimana kalau rasa takut akan dosa itu ternyata hanya buatan turun termurun dari orang tua? Sungguh gua akan kecewa kalau Ia benar-benar enggak a…

Ketika Kamu Tidur

Malam itu semua orang tertidur. Begitupun dengannya. Ia tertidur pulas disampingku dengan posisi terlentang dan kepalanya menghadap sisi lain tempat tidur. Perut dan dadanya naik turun berirama, menarik dan menghembuskan udara malam. Matanya bergerak dibalik kelopak mata yang tertutup pertanda ia sudah masuk alam mimpi. Kondisi aman, aku sudah siap bergerak.

Saat yang dinantikan tiba. Tubuku mengecil sebesar jari kelingking. Kupanjat lengannya yang kasar, berjalan menuju kepalanya. Rambut-rambutnya yang hitam dan tipis terlihat begitu tebal dan lebat. Rambut ini, rambut yang biasa kusisir oleh jemari ketika berantakan. Ia jarang sekali mau menyisir. Tapi tak mengapa karena aku begitu menikmati rambutnya berada di sela-sela jemariku.

Perlahan aku turun ke bawah, mengamati wajahnya. Wajah-wajah keras yang selalu mengingatkanku tentang hidup ini selalu membuatku rindu ingin bertemu. Kadang ia menunjukkan ekspresi-ekspresi lucu jika tidak ada orang lain selain aku. Jika ada orang lain, seol…