Ketika Kamu Tidur

Malam itu semua orang tertidur. Begitupun dengannya. Ia tertidur pulas disampingku dengan posisi terlentang dan kepalanya menghadap sisi lain tempat tidur. Perut dan dadanya naik turun berirama, menarik dan menghembuskan udara malam. Matanya bergerak dibalik kelopak mata yang tertutup pertanda ia sudah masuk alam mimpi. Kondisi aman, aku sudah siap bergerak.

Saat yang dinantikan tiba. Tubuku mengecil sebesar jari kelingking. Kupanjat lengannya yang kasar, berjalan menuju kepalanya. Rambut-rambutnya yang hitam dan tipis terlihat begitu tebal dan lebat. Rambut ini, rambut yang biasa kusisir oleh jemari ketika berantakan. Ia jarang sekali mau menyisir. Tapi tak mengapa karena aku begitu menikmati rambutnya berada di sela-sela jemariku.

Perlahan aku turun ke bawah, mengamati wajahnya. Wajah-wajah keras yang selalu mengingatkanku tentang hidup ini selalu membuatku rindu ingin bertemu. Kadang ia menunjukkan ekspresi-ekspresi lucu jika tidak ada orang lain selain aku. Jika ada orang lain, seolah-olah ia ingin menunjukkan citra dingin dan kasar agar orang-orang menghindar. Tak mengapa, aku suka itu. Aku suka orang yang memberikan batasan yang jelas mana yang boleh dekat dengannya dan mana yang tidak.

Aku berjalan kecil di dadanya yang kecil. Ia bukan tipe laki-laki idaman dengan dada yang bidang. Tapi tak mengapa, aku tidak membutuhkan dada yang bidang. Malah ia memberikanku sebuah hati yang lapang.

Aku berbaring sesaat di atas dadanya. Tubuhku naik turun sesuai dengan irama nafasnya. Kutatap langit-langit kamar, kunikmati setiap gerakannya. Kita menghirup udara yang sama dengan tempo yang sama. Aku merasa menyatu.

Beberapa saat kemudian aku tergelitik oleh sesuatu yang ada di bawah perutnya. Senjata rahasianya. Aku berjalan menuruni perut dengan perasaan was-was takut ia terbangun. Kubuka karet celananya. Namun sebelum aku melihat apa isinya, ia membalikkan tubuhnya, membuatku terjun bebas ke atas tempat tidur. Aku kembali ke posisi awal.

Perasaanku sedikit kecewa karena memanjat tubuhnya dalam posisi sekarang bukanlah hal yang mudah.

Ia masih tertidur. Kuputuskan untuk tidak menganggunya - maka aku biarkan saja tujuanku tidak tercapai. Aku sendiri mulai merasa kantuk.

Aku berjalan ke sela-sela tubuhnya. Di antara lipatan seprai, aku berbaring. Kuhirup aroma tubuhnya. Kututup mataku hingga pagi menjelang.


[Tulisan ini dibuat waktu latihan memasukkan unsur seks ke dalam tulisan. Maunya tidak dibuat vulgar atau porno, tapi sepertinya cerita ini pun kurang greget. Nulis gak harus punya pengalaman dulu, 'kan?]

2 comments:

M. Lim said...

Nia, tulisan gue soal seks jauh lebih vulgar pada saat belum punya pengalaman :D AHAHAH!

Nia said...

Hahaha.. sepertinya saya harus belajar dari Mbak Mir nih. Haaayyyyuuu..