Dalam Resital, Musik Mengalun Syahdu

Teman saya bilang saya ini beruntung karena saya lahir dan tinggal di Bandung.

Ya, saya memang beruntung. Semua tentang musik, ada disini.

Kemarin malam (09/08), saya dan Andika datang ke sebuah acara Resital Tiga Gitar Plus Satu di CCF. Resital ini diisi oleh empat orang gitaris dari Bandung : Widjaja Martakusumo, Bilawa A. Respati, Syarif Maulana, dan Royke Ng. Dengan membawakan 10 lagu, mereka memainkan gitar dengan syahdu.


Dua lagu yang membuat saya puas mendengarnya adalah ketika mereka memainkan Bajo la Palmera dari I. Albeniz dan Concerto en Re Majeur dari G.P. Telemann. Ketika lagu Bajo la Palmera dimainkan, saya lihat pantulan cahaya dari gitar Secco menari-nari di dinding auditorium CCF. Selain itu mereka juga memainkan lagu klasik dari komposer Bandung bernama F. Wiriadisastra dengan judul Irregular Waltz dan Pela Yangan. Perlu diakui ketika mereka memainkan Irregular Waltz, saya mendengar musik yang aneh dan tidak biasa.

Salah satu gitaris yang mirip dengan teman saya, Bilawa, merupakan gitaris termuda dari para gitaris lainnya. Usia boleh lebih muda, namun ia sudah membuahkan sebuah karya klasik sendiri berjudul Malam Yang Bersembunyi. Ia bercerita bahwa lagu ini diangkat dari sebuah prosa yang ditulis oleh seorang penulis. Proses perombakan di akhir lagu dilakukan oleh penulis itu sendiri. Ini lagu yang romantis.


Bermain gitar bersama memang mengurangi beban teknis dan psikis. Namun tantangannya bermain bersama adalah upaya untuk mengharmonisasikan rasa keindahan, kebiasaan, dan naluri yang pada dasarnya berbeda-beda pada masing-masing sehingga melahirkan sebuah kesatuan ekspresi. Nada-nada dirajut. Ibarat pernikahan: musik harus kawin!

Acara yang mulai pukul tujuh lebih tiga itu berakhir di sembilan lebih lima. Resital ini dirasa kurang greget karena faktor eksternal yaitu penonton yang membawa anak-anaknya kemudian anaknya makan snack kriuk kriuk, suara jepretan kamera DSLR, orang mondar mandir di pintu CCF dengan engsel yang mulai reyot, dan lainnya.

Saya dan Andika berjalan kaki pulang dari CCF - menelusuri Jl. Riau yang penuh dengan factory outlet. Jika akhir pekan tiba, jalan ini macet bukan main. Sebelumnya, kami mampir untuk makan di Bober - salah satu cafe yang paling digandrungi remaja Bandung. Kami memesan nasi rawon.

Comments

natazya said…
hm...

saya belum pernah sama sekali nonton resital...

dan memang mungkin nilainya jadi bergeser kalau suasananya ga terbentuk dengan bagus ya...
Nia said…
Bangggeet. Rasanya gak khidmat gitu :)

Cobain deh, citra rasa baru.

Popular Posts