Skip to main content

Hati

Beberapa minggu yang lalu, saya menerima sebuah email dari sebuah website psikologi yang saya asuh. Rupanya website ini dijadikan ajang konsultasi orang yang butuh konsultasi. Mudah, tinggal klik kolom redaksi dan pilih salah satu kontributor yang dirasa cukup mumpuni. Lho, kok semuanya berakhiran 'i' begini?

Datanglah sebuah email dari seorang perempuan yang mengeluh terlalu cemburuan dan posesif. Rasanya enggak enak tapi enggak bisa lepas - ujarnya. Mendengar keluhan itu, saya jadi merasa membaca tulisan sendiri karena saya pun tipe orang yang seperti itu. Dengan berbekal teori psikologi untuk meningkatkan self-esteem dan rasa percaya terhadap diri, saya pun memberi saran.

Lalu datang lagi email lain tentang cara melupakan mantan pacar. Saya pun memberinya 5 tips. Hebat sekali. Namun ini adalah sebuah ironi karena psikologi untuk Anda, bukan untuk saya.

Alkisah dulu pun saya merasakan hal yang sama. Melupakan orang yang pernah disayang memang sulit. Tipe orang yang susah jatuh cinta namun sekalinya mengalami hal tersebut ia begitu larut akan mengalami proses yang alot dan waktu yang cukup lama. Apalagi jika ditambah sifat melankolis!

Beruntung saya diberi bakat menulis yang kemudian saya jadikan media katarsis non-destruktif sehingga bisa menyembuhkan diri sendiri perlahan-lahan. Kamu pikir yang membawa saya ke writer's circle yang webnya saya asuh juga itu apa? Sekarang, ketika membaca tulisan-tulisan saya yang dulu, wew ... sebaiknya saya tutup buku. Tetapi saya enggak malu karena saya butuh fase recovery itu.

Saya percaya dengan ungkapan klise time will heal dan semuanya itu proses yang lama dan memakan waktu. Dan sepertinya sekarang saya harus melalui fase itu lagi karena rasanya tidak enak sekali! Entah berapa lama saya harus melewatinya. Mudah-mudahan tidak terlalu lama karena perasaan masih prematur. Cuman ya itu ... tidak bisa dilalui sendirian. Harus ada distraksi atau teman bermelankoli.


"I'm trying to land this aeroplane of ours gracefully, but it seems just destined to crash."
(Bjork - So Broken)

Comments

M. Lim said…
Media Katarsis non destruktif ya?
:)
Nia, ada baiknya anak-anak menulis surat kepada Marshanda dan menawarkan agar ia ikut bergabung dengan TWC untuk mengasah bakat menulis lirik lagunya sendiri. Jelas lebih produktif dan positif dibandingkan menyanyikan lagu orang sambil bergaya bagaikan mabora sambil direkam lantas videonya diunggah ke youtube. :)
Nia said…
Ya tentuuuu.. ketimbang saya ngobat atau gimana gitu (seperti orang yang konsul di email). Hehe.

Ah, akan saya cari fb-nya terus suggest this page buat Marshanda. Heu..
Neni said…
Niaaaa,
saya bersedia jd tman bermelankoli. Mari yuk, mari...
I feel the same this time, tau! *hyahh curcol... :)
Nia said…
Tapi kan Nen, dirimu sekarang kan sudah di Lampung. Jauh kaliii. Hehe.
Sundea said…
Segala sesuatu prakteknya emang susah, tapi tau teorinya dan sadar keadaan itu satu lompatan, lho, Ni ...

Lu bener. Nulis itu media katarsis yg efektif karena di situ elu menjabarkan sekaligus membaca ulang keadaannya ...
Nia said…
Dan juga mem-visualisasikan yang abstrak, De. Hehe.
ezra said…
when it lands
will my eyes
be closed or open?
(hyperballad-bjork)

next...
:) :)
Nia said…
Sedaaaap.. :D

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…