Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2009

Iseng-iseng

Akhir-akhir ini saya sedang senang-senangnya bermain piano kemudian saya post di Facebook saya. Hasilnya ya biasa-biasa saja, saya juga enggak jago-jago amat. Jadi ya ini posting iseng-isengan. Monggo kalau mau lihat.

Ini link-nya langsung dari Facebook dan ini pertama kali saya posting video. Mudah-mudahan bisa.






Balon

Gambar


Kulepaskan satu balon lagi. Kubiarkan ia terbang melayang.

One Fine First Kiss

Gambar

Mata kami beradu,
berdua sama-sama terpaku.
Tanpa berbicara, kami sama-sama tahu.

Wajah saling mendekat,
hembusan nafas mulai terasa -
nafas satu-satu,
nafas terengah-engah malu-malu.

Jarak pandang mata semakin mendekat
sehingga tidak jelas apa yang terlihat.
Tangan kami kaku,
mulut kami diam membisu.

Ia tersenyum, aku juga.
Aku menutup mata.
Kurasakan lembut dan hangat.

Bibir kami beradu.

O, Victoria

O, Victoria.

Pakaianmu putih berenda. Bukan putih bersih tetapi putih tua. Terajut bunga-bunga tulip di setiap sisinya.

O, Victoria.

Kalau luar biasa jual mahalnya. Jika kupikir-pikir, aku bisa lebih mendapatkan yang lebih baik dibanding Victoria, tapi kau klasik. Tidak ikut berubah ketika industri Inggris berevolusi. Citra rasa tersendiri.

O, Victoria.

Matahari sore di wajahmu. Wajah yang selalu aku rindu.

------------------------------

[Ini sebenernya asal banget nulisnya karena waktu ketika saya menulis ini, saya sedang berada di Cafe Victoria - Bandung, tempat yang cocok sepasang manusia penggemar hal klasik dan vintage untuk pacaran. Teman saya pernah menulisnya. Di dalam blog teman saya, ada blog lain yang menulis tentang Victoria. See ... ia terlalu samar.]

Acak

Hari ini saya akan menulis tentang hal-hal yang ada dipikiran saya. Mudah, saya hanya akan menulisnya tanpa ada proses edit meng-edit dan dibiarkan apa adanya. Jadi, pertama-tama, saya mohon maaf jika tidak berurutan dan terkesan aneh. Tapi toh tidak apa-apa 'kan?

Saya mendengarkan lagu-lagu zaman dulu yang saya sukai. Dimulai dari Bryan Adams dan Melanie C dengan judul When You're Gone karena saya melihat video teman saya bermain band dan latihan lagu ini. Melihat video dengan kapasitas suara yang ... ehm ... semoga ia tidak baca ... saya memerlukan pengulangan beberapa kali ketika melihat video latihan band-nya :) Dan saya suka lagu ini. FYI, Bryan Adams adalah guilty pleasure saya dikala kecil.

Lalu beranjak ke penyanyi wanita bernama Pink. Duileh, ini suaranya keren banget. Saya suka suara-suara seperti ini. Lagu yang sedang saya dengarkan adalah Waiting For Love. Oh, pembaca, tolong jangan lihat judulnya karena pasti akan mengesankan ini curhat colongan, tapi coba dengarkan…

Anjing

Pagi kemarin, saya ditarik kembali ke bumi bersama ambisi dan segala mimpi yang saya bawa mengangkasa. Bapak datang, membawa seekor anjing yang dirantainya. Anjing menggonggong tidak karuan. Membuat saya ketakutan.

Bapak bilang bapak mau menitip anjingnya. Saya harus memberinya makan, menimangnya laksana ibu anjing yang sudah lama tidak bertemu anaknya. Harus saya siapkan air dan daging agar si anjing tumbuh dan berkembang sempurna. Seperti saya.

Rupanya bapak tidak peduli dengan segala mimpi yang saya bangun dengan ambisi. Sampai saya mengangkasa di langit ke tujuh, mereguk semua nikmat sendirian, bapak menarik saya ke bumi dengan kasar. Realita menyakitkan. Masa lalu apalagi.

Si anjing menggerogoti saya perlahan.

Gambar

The Old Man And The Sea

The Old Man And The Sea adalah novel mini (novella) yang ditulis oleh Ernest Hemingway. Secara garis besar (akan saya ceritakan sedikit saja karena ada yang lebih menarik ketimbang itu), novel ini bercerita tentang seorang pria tua yang mengayuh perahu kayunya ke tengah laut untuk mendapatkan seekor ikan. Di tengah laut, ia mengalami kejadian-kejadian aneh seperti pusaran air, kawanan lumba-lumba, ikan-ikan besar, dan lainnya. Tulisan ini jadi mengingatkan saya pada tulisan sendiri yang dirasa banyak kesamaan padahal saya menulis sebelum membaca buku ini. Jangan-jangan saya adalah titisannya Ernest Hemingway? Hehe.

Kegigihan dan semangat menangkap ikan menjadi poin penting di novel ini. Hanya bermodalkan dengan tangan kosong, tali, dan umpan, ia menarik seekor ikan besar. Tentunya ini bukan hal yang mudah. Tangannya harus terluka, ia harus menunggu lama hingga ikan itu kelelahan, bahkan sambil menunggu, ia mengajak ngobrol ikan tersebut.

Saya jatuh cinta dengan Ernest Hemingway di halam…

Perahu Kertas (2009)

Simbol

Kalau menonton acara tato di tv kabel, banyak orang yang merajah dirinya sebagai suatu simbol. Kelahiran sang anak, kehilangan, kematian, hidup yang baru, dan lainnya. Dalam film Revolutionary Road, Frank dan April Wheeler (Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet) yang ingin pindah ke Paris untuk memulai kehidupan rumah tangga yang baru: rumah tangga yang bahagia. Fase perubahan ini disimbolkan dengan perpindahan fisik. Sementara dalam kehidupan orang Indonesia, mereka buang kolor di Pantai Ancol sebagai simbol penolak bala.

Simbol adalah gambar, bentuk, atau benda yang mewakili suatu gagasan, benda, ataupun jumlah sesuatu. Meskipun simbol bukanlah nilai itu sendiri, namun simbol sangatlah dibutuhkan untuk kepentingan penghayatan akan nilai-nilai yang diwakilinya.

Kenapa orang butuh simbol(isasi)? Supaya lebih afdol?

Sepertinya semua orang butuh simbol, saya pun demikian. Saya butuh simbol bukan hanya agar lebih afdol, tapi saya butuh benda konkrit yang mewakili sesuatu dari saya. Misalnya s…

Toleransi Hal Yang Dinistakan

Toleransi keberagamaan rasanya pernah didoktrinkan kepada masyarakat Indonesia melalui pelajaran kewarganegaraan seperti PMP/PPKN/PKN. Menyebalkan memang jika melihat dari segi isi yang panjang lebar dan tidak to the point. Apalagi ketika mulai diujiankan, strategi mendapatkan nilai tinggi menjadi mudah: jawab saja yang baik-baik dan sepanjang-panjangnya.

Namun semua itu penting. Pengetahuan Pancasila, arti setiap lambang, pasal UUD, hidup keberbangsaan, rasanya semua itu saya dapat dari pelajaran kewarganegaraan. Perbedaan ras dan agama namun tetap satu tujuan menjadi point penting yang harus dihargai. Manusia diberi kebebasan memeluk agamanya dan menjalankan ibadahnya. Disitulah saya mendapatkan bagaimana seorang manusia harus bisa mentoleransi manusia lainnya yang berbeda.

Tulisan ini diangkat dari kasus di sekolah saya. Seorang anak yang beragama Hindu selalu malu menceritakan tentang agamanya. Ketika ditanya 'kalau Islam namanya Allah, kalau Kristen namanya Yesus, kalau Hindu n…

Lapang

Di tengah lapang yang luas, ia tiba-tiba hadir di sampingku. Dengan roman muka bingung, ia memandang sekitar. Dimana saya berada? - ujarnya. Lalu aku menjawab, "Kamu sekarang berada di akhirat."

"Berarti saya sudah mati??"

"Ya, tidak mungkin ada orang hidup bisa kesini."

"Kamu sudah berapa lama disini??"

"Mungkin sudah beberapa hari. Saya sedang menunggu giliran dosa dan pahala saya ditimbang."

"Huhuhuhu ...," ia menangis tersedu. "Saya menyesal kenapa saya menyia-nyiakan hidup saya atas sesuatu yang tidak penting. Saya menyesal karena saya selalu berbuat dosa. Saya menyesal tidak menikmati hidup saya bersama teman dan keluarga. Huhu ... saya menyesal. Kenapa untuk menikmati enaknya hidup, orang harus mati? Kenapa untuk menikmati kesehatan, orang harus sakit? Kenapa manusia harus belajar dari hal-hal yang tidak enak??"

Kuutarakan pendapat yang sama karena orang-orang di sini selalu bertanya tentang hal yang sama, "Ku…

Horor! Saya Tiba-Tiba Bisa Naik Motor!

Setelah melewati buka puasa bersama yang aneh dengan teman-teman, saya sibuk mencari stopwatch! Oh my God, semua saudara dan teman-teman yang dihubungi pada enggak punya. Kenapa sih orang-orang kok enggak punya stopwatch?

Ini sedikit emerjensi karena besok pagi saya mau menggunakannya untuk ngetest psikotes. Kenapa gak pake henpon sih? - tanya orang-orang yang gak mau ribed. Ya gak bisalah, namanya juga ngetest, hitungan waktunya kudu tepat dan kalau pakai henpon, ntar ada sms atau telepon masuk ya gimana.

Kala itu rumah sepi. Keponakan saya, Dhika, lagi ada teman-temannya yang mau nginap (lho, jadi rumah rame dong?). Saya mohon-mohon ke ponakan saya untuk nganterin saya pergi ke Pasar Kosambi untuk beli batre stopwatch (jadi, saya punya stopwatch tapi baterainya habis). Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam sementara saya sudah harus pergi pukul enam pagi. Dan si remaja labil itu enggak mau nganterin saya karena teman-temannya. Semoga Tuhan memaafkanmu, ponakan!

Naik motor aja! - …

Ajari Saya Tentang Ikhlas!

"Aku gak suka! Tolong ajari aku tentang ikhlas!"

Saya menyahut frustasi di depan teman-teman kantor tadi sore. Kepala saya tertunduk di atas meja komputer. Pada saat itu, saya tidak main-main menyerukan permintaan tolong untuk mengajarkan saya tentang ikhlas. Rasanya berat untuk melepaskan sesuatu yang bukan milik saya. Lalu kenapa Tuhan menitipkannya pada saya? Mengapa saya yang dipilihnya?

Teman saya bilang, "Coba kamu baca surat Al-Ikhlas."

Saya merasa absurd. Al-Ikhlas 'kan tentang keesaan Tuhan, kenapa saya harus belajar tentang itu?

Lalu browsing-lah saya tentang ikhlas dan surat Al-Ikhlas. Lucu juga. Di zaman serba virtual begini, saya mencari jalan saya menuju Tuhan melalui search engine Google dan berharap menemukannya. Tapi saya memaklumi diri saya bahwa saya memiliki cara tersendiri untuk belajar tentang agama. Googling - salah satunya - membuat saya menemukan website ini.

Mungkin saya bisa menarik hubungan antara ikhlas dan keesaan Tuhan. Koreksi jika sa…

1997

Saya selalu iri dengan tulisan masa kecil yang begitu kental dengan budaya dan tetangga. Teman saya pernah bercerita bahwa di kampungnya di daerah Jawa, ia seringkali bermain kelereng dengan teman-temannya sebelum magrib. Juga ada cerita lain tentang masa kecil di blog teman saya, Neni.

Kenapa harus iri? Karena saya tidak pernah merasakannya. Saya tidak punya cerita yang bisa diturunkan kepada anak dan cucu tentang serunya bermain dengan tetangga, tentang budaya-budaya daerah yang baik dialami maupun diceritakan orang tua. Saya tidak punya itu semua.

Dari kecil saya tinggal di Bandung, hidup di rumah di pinggir jalan yang setiap jarak rumahnya cukup berjauhan. Setiap hari saya berbicara dengan bahasa Indonesia dan orang tua saya berbicara dengan bahasa Indonesia. Bahasa Sunda hanya saya dengar melalui desas-desus ketika orang tua berhubungan dengan kakak-kakaknya atau melalui pelajaran di sekolah. Bahkan sampai sekarang saya tidak tahu apa bahasa Sundanya hal-hal yang sederhana seperti …

Tinta Merah

Ini adalah kesekian kalinya saya login dan mencoba menulis sesuatu di sini tapi tidak jadi. Ini dikarenakan saya tidak punya ide menulis yang oke (halah, kayak yang selama ini oke aja). Jadi, kali ini saya mau menulis kejadian yang saya lalui saja.

Tadi siang saya dapat feedback dari atasan saya atas assessment yang saya buat. Wow, banyak sekali catatan bertinta merah yang menghiasi. Selain itu, beberapa aspek penting yang terlewatkan oleh saya pun ditulis dengan huruf bercetak tebal dan BERKAPITAL atau menyerukan 'jelaskan!!!' atau 'ini maksudnya apa???'. Mendapat feedback itu membuat saya jiper kuadrat untuk masuk ke ruangannya. Selain takut, saya juga malu karena assessment saya sepertinya buruk. Waktu teman saya masuk ke ruangan atasan saya sementara saya menunggu di luar ruangan, teman saya bilang ke atasan kalau saya takut dimarahin. Atasan saya cuman tertawa dan bilang, 'Ah.. itu mah persepsi kamu saja!'

Rupanya begitu. Persepsi tinta merah, cetak tebal, h…