1997

Saya selalu iri dengan tulisan masa kecil yang begitu kental dengan budaya dan tetangga. Teman saya pernah bercerita bahwa di kampungnya di daerah Jawa, ia seringkali bermain kelereng dengan teman-temannya sebelum magrib. Juga ada cerita lain tentang masa kecil di blog teman saya, Neni.

Kenapa harus iri? Karena saya tidak pernah merasakannya. Saya tidak punya cerita yang bisa diturunkan kepada anak dan cucu tentang serunya bermain dengan tetangga, tentang budaya-budaya daerah yang baik dialami maupun diceritakan orang tua. Saya tidak punya itu semua.

Dari kecil saya tinggal di Bandung, hidup di rumah di pinggir jalan yang setiap jarak rumahnya cukup berjauhan. Setiap hari saya berbicara dengan bahasa Indonesia dan orang tua saya berbicara dengan bahasa Indonesia. Bahasa Sunda hanya saya dengar melalui desas-desus ketika orang tua berhubungan dengan kakak-kakaknya atau melalui pelajaran di sekolah. Bahkan sampai sekarang saya tidak tahu apa bahasa Sundanya hal-hal yang sederhana seperti pulang atau pergi. Ini membuat saya malu. Apalagi ketika saya mulai kerja, orang-orang bertanya tentang bahasa Sunda dan saya tidak bisa menjawab. Lalu mereka bertanya, "Kamu orang mana?". Saya menjawab saya orang Sunda. Lalu mereka heran mengapa saya tidak bisa bahasa Sunda. Malah mereka menduga saya ini orang Jakarta, Jawa, atau Batak.

Malu.

Oke, kelekatan saya dengan budaya memang kurang. Lalu bagaimana dengan tetangga? Setidaknya saya punya satu orang. Akan saya ceritakan masa kecil saya dengan tetangga saya. Saya sudah cerita belum ya? Kalau sudah, enggak apa-apa ya re-post.

Dulu di sebelah rumah saya ada tempat penyewaan mobil jenazah. Sekar Kenanga - namanya. Tempat penyewaan mobil jenazah ini berupa sebuah rumah yang dimiliki oleh seorang jaksa yang cukup dikenal di Bandung. Jaksa tersebut memiliki cucu perempuan yang usianya sepantaran dengan saya dan saya suka main ke rumahnya sampai magrib. Entah ada apa dengan magrib, sepertinya ini telah menjadi ketidaksadaran bersama untuk anak-anak se-Indonesia sebagai waktunya pulang ke rumah. Saya sering dimarahi karena pulang sore dan saya disuruh segera mandi.

Disana saya main ke kamarnya dan main air di kolam ikan (ini kali pertama saya kenal kecebong). Bukan kelereng atau lompat tali, tapi kami main polly pocket, kutex, barbie, ngobrol sambil mainin treadmill, pager, handphone segede dosa, dan lainnya. Kalaupun mau lari-lari, kami seringkali bermain bersama keranda untuk mengangkut jenazah. Banyak tikus di sana.

Saya ingat sekali rumahnya, rumah yang bentuknya sama dengan rumah saya namun rumahnya dipenuhi dengan bunga-bunga mawar dan warna cat rumahnya lebih pias. Selain itu, banyak anjing yang berkeliaran di halaman, mereka suka menjilati kaki saya.

Sampai awal SMP, keluarganya memutuskan untuk pindah dan pergi entah kemana. Rumah itu beralih fungsi dari kantin, dikontrakkan, hingga sekarang berdirilah Rumah Cantik Citra. Rada absurd karena saya tidak punya kenangan benda apapun untuk diingat.

Ya begitulah masa kecil saya. Tanpa kesan. Sempat ini membuat sedih karena selain krisis identitas budaya, saya tidak memiliki tempat yang saya tuju untuk pulang ketika lebaran. Namun lama-lama saya menyadari, apapun dan dimanapun masa kecil saya, disinilah saya selalu berada.

Comments

Neni said…
Nia, sy iri punya rumah kyk nia, hehe...
Rumah sy yg skrg jg ga punya tetangga/temen yg sepantaran... Jdnya 'antisosial' dh!
Nia said…
Tapi kan.. tetep punya something yang buat diinget dan dicertain :b
ceu-ceu said…
Waaa... Polly Pocket, jadi inget kalo maen ke tempat temen dulu. Pantesan dulu ibu ga pernah beliin, mahal ternyata ;p.

btw bun, rumah cantik citra di sebelah mananya? asa ga pernah liat, hehehe. taunya cuma Sari bundo ;p
Nia said…
Ada ceeu, ada plang-nya guede buanget. Hehe.
duniaputri said…
echeuuu... meuni palalaur.. si gue belajar nyunda secara baheula na nguli di UnPat. jeung deui pun ibu sareng pun biang abdi teh Nyunda sadaya. secara saya mah asli lahir dan tinggal di Cirebon ^^ tapi bo basa cerbon belepotan. orang-orang pada bisa bikin Puisi Berbahasa Daerah aing nginyem wae da teu bisa tea.. heuheu..
berteman yak say ;)
Nia said…
UnPat? Universitas Patrakomala sanes? Hehe.

Yuk yuk, mari kita berteman.

Popular Posts