Ajari Saya Tentang Ikhlas!

"Aku gak suka! Tolong ajari aku tentang ikhlas!"

Saya menyahut frustasi di depan teman-teman kantor tadi sore. Kepala saya tertunduk di atas meja komputer. Pada saat itu, saya tidak main-main menyerukan permintaan tolong untuk mengajarkan saya tentang ikhlas. Rasanya berat untuk melepaskan sesuatu yang bukan milik saya. Lalu kenapa Tuhan menitipkannya pada saya? Mengapa saya yang dipilihnya?

Teman saya bilang, "Coba kamu baca surat Al-Ikhlas."

Saya merasa absurd. Al-Ikhlas 'kan tentang keesaan Tuhan, kenapa saya harus belajar tentang itu?

Lalu browsing-lah saya tentang ikhlas dan surat Al-Ikhlas. Lucu juga. Di zaman serba virtual begini, saya mencari jalan saya menuju Tuhan melalui search engine Google dan berharap menemukannya. Tapi saya memaklumi diri saya bahwa saya memiliki cara tersendiri untuk belajar tentang agama. Googling - salah satunya - membuat saya menemukan website ini.

Mungkin saya bisa menarik hubungan antara ikhlas dan keesaan Tuhan. Koreksi jika saya salah. Tapi tolong, jangan didikte.

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”
(QS. Al-An’aam: 162-163).

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. Huud: 15-16).

Oh, Tuhan, apakah cinta itu adalah urusan keduniawian? Apakah ia yang Kau titipkan pada saya itu hanya semata-mata media ujian saya untuk belajar tentang melepaskan sesuatu yang sebenarnya bukan milik saya alias ikhlas?

Sepertinya begitu. Manusia tidak boleh terlalu larut, tidak boleh terlalu mengutamakan orang lain, tidak boleh terlalu menyerahkan seluruh jiwanya pada satu orang manusia karena setiap manusia punya urusan lain yang harus diutamakan yaitu Dia. Karena jika dipikiran manusia hanya ada satu orang lain, maka berarti manusia menyekutukan Tuhan dengan hal yang bersifat duniawi: manusia lain.

Jadi, Tuhan, dalam kasus saya, saya harus mengikhlaskannya atas nikmat yang pernah Engkau titipkan - setelah kureguk - lalu Kau ambil lagi. Begitukah?

Semakin ingin dekat dengan Tuhan saya dan semakin ingin mengerti agama saya, saya merasa semakin absurd dan semakin enggak ngerti. Apa yang harus saya lakukan untuk disayangi-Nya? Beribadah? Jika ibadah semata-mata urusan untuk mendapatkan reward dikabulkannya doa, maka saya menjadikan Tuhan sebagai mitra dagang sebagaimana yang dikatakan WS Rendra dalam puisinya:

MAKNA SEBUAH TITIPAN

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa:
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya,

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali olehNya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa
itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”.
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah …

“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

--WS Rendra


Ajari saya tentang ikhlas!

Comments

Amarilldo said…
Amarilldo Like This!!! :)
Nia said…
Thanks! :D
Mataharisenja said…
aku ingin menulis kebajikanku di atas air

biar riak keikhlasan menghampirinya dan kian menghilang

Ikhlas, indah pada waktunya..

Popular Posts