Skip to main content

Horor! Saya Tiba-Tiba Bisa Naik Motor!

Setelah melewati buka puasa bersama yang aneh dengan teman-teman, saya sibuk mencari stopwatch! Oh my God, semua saudara dan teman-teman yang dihubungi pada enggak punya. Kenapa sih orang-orang kok enggak punya stopwatch?

Ini sedikit emerjensi karena besok pagi saya mau menggunakannya untuk ngetest psikotes. Kenapa gak pake henpon sih? - tanya orang-orang yang gak mau ribed. Ya gak bisalah, namanya juga ngetest, hitungan waktunya kudu tepat dan kalau pakai henpon, ntar ada sms atau telepon masuk ya gimana.

Kala itu rumah sepi. Keponakan saya, Dhika, lagi ada teman-temannya yang mau nginap (lho, jadi rumah rame dong?). Saya mohon-mohon ke ponakan saya untuk nganterin saya pergi ke Pasar Kosambi untuk beli batre stopwatch (jadi, saya punya stopwatch tapi baterainya habis). Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam sementara saya sudah harus pergi pukul enam pagi. Dan si remaja labil itu enggak mau nganterin saya karena teman-temannya. Semoga Tuhan memaafkanmu, ponakan!

Naik motor aja! - katanya. Ajegile, saya enggak bisa naek motor! Malang tak dapat ditolak, mau gak mau saya HARUS naek motor ke Pasar Kosambi. Setelah diajari khusus kilat gimana cara nyalain motor, ngidupin lampu, saya pun berangkat. Karena ini Mio dan sebelumnya saya sudah biasa pakai Betrix, saya jadi oke berat nih sebagai pemula. Betul-betul oke berat! Ya gak oke-oke amat sih selain masih bingung antara pentingan mana: gak nabrak atau gak lewat jalanan yang berlubang.

Ini kali pertama saya ke jalan. Wooow ... seru rupanya. Saya mikir kalau saya nabrak, ya sudahlah ... demi sebuah stopwatch. Tidakkah itu begitu heroik?

Setelah sampai ke Pasar Kosambi, saya cari tempat parkir. Tentunya, ini juga kali pertama saya markir motor! Dan saya baru ingat bahwa saudara saya tidak mengajarkan cara mengunci stang motor. Bagus.

Menelusuri trotoar, saya tidak menemukan kios kecil penjual jam. Untuk ada toko jam! Jadi, saya bisa beli jam buat stopwatch. Rupanya si pramuniaga bisa melihat roman khawatir di muka saya. Masih bagus kok stopwatchnya - ujarnya. Lho, bukan itu yang saya khawatirkan, Bapak nan budiman. Tapi motor saya enggak dikunci!

Saya bergegas ke tempat parkir dan motornya ... ada :D (maaf ya kalau anti klimaks)

Oke berat nih hari ini. Segala-galanya absurt. Tolong diapresiasi :))

Comments

Neni said…
Ya ampun. Heroik bgt ini nia!
Sy suka bag. yg ga anti klimaks itu, hehe... :)
muftisany said…
blogwalking...seru...seru...
Bubble-pinkz said…
tapi kayaknya itu pengalaman yg tak terlupakan yach.... hehehehehehe..... btw... comment di blog aku dunkz.... di postingan paling awal aja.... need your answer please... thx's.... ^^
Tika said…
kebayang rasanya :D

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…