Lapang

Di tengah lapang yang luas, ia tiba-tiba hadir di sampingku. Dengan roman muka bingung, ia memandang sekitar. Dimana saya berada? - ujarnya. Lalu aku menjawab, "Kamu sekarang berada di akhirat."

"Berarti saya sudah mati??"

"Ya, tidak mungkin ada orang hidup bisa kesini."

"Kamu sudah berapa lama disini??"

"Mungkin sudah beberapa hari. Saya sedang menunggu giliran dosa dan pahala saya ditimbang."

"Huhuhuhu ...," ia menangis tersedu. "Saya menyesal kenapa saya menyia-nyiakan hidup saya atas sesuatu yang tidak penting. Saya menyesal karena saya selalu berbuat dosa. Saya menyesal tidak menikmati hidup saya bersama teman dan keluarga. Huhu ... saya menyesal. Kenapa untuk menikmati enaknya hidup, orang harus mati? Kenapa untuk menikmati kesehatan, orang harus sakit? Kenapa manusia harus belajar dari hal-hal yang tidak enak??"

Kuutarakan pendapat yang sama karena orang-orang di sini selalu bertanya tentang hal yang sama, "Kukira saya terbuai dikala saya senang sehingga saya lupa nikmatnya untuk apa yang sedang saya jalani. Saya terlena untuk menginginkan lebih. Saya akan menikmati enaknya punya kaki ketika kaki saya lumpuh, saya akan menikmati enaknya punya tangan ketika tangan saya tidak berfungsi. Ketika semuanya berjalan baik, saya lupa karena saya terlalu sibuk mencari nikmat-nikmat yang lain."

"Betul begitu??"

"Asumsi saya. Itulah yang saya pikirkan selama saya menunggu ditimbang pahala dan dosanya."

"Kenapa kamu bisa disini? Dengan cara apa?"

Sebelum aku menjawab, kudengar namaku dipanggil.

Comments

Ivy.Puppy said…
permenungan yang indahh...
nicee ^^

hmmm...
bukannya manusia memang tak tau indahnya putih sampai semuanya menjadi hitam ya?
huee...

Slam kenal
>,<
Nia said…
Hai, terima kasih. Iya yah, manusia harus merasakan dikotonominya dulu baru deh ngeh sama kutub yang lain. He.

Samasama :)

Popular Posts