The Old Man And The Sea

The Old Man And The Sea adalah novel mini (novella) yang ditulis oleh Ernest Hemingway. Secara garis besar (akan saya ceritakan sedikit saja karena ada yang lebih menarik ketimbang itu), novel ini bercerita tentang seorang pria tua yang mengayuh perahu kayunya ke tengah laut untuk mendapatkan seekor ikan. Di tengah laut, ia mengalami kejadian-kejadian aneh seperti pusaran air, kawanan lumba-lumba, ikan-ikan besar, dan lainnya. Tulisan ini jadi mengingatkan saya pada tulisan sendiri yang dirasa banyak kesamaan padahal saya menulis sebelum membaca buku ini. Jangan-jangan saya adalah titisannya Ernest Hemingway? Hehe.

Kegigihan dan semangat menangkap ikan menjadi poin penting di novel ini. Hanya bermodalkan dengan tangan kosong, tali, dan umpan, ia menarik seekor ikan besar. Tentunya ini bukan hal yang mudah. Tangannya harus terluka, ia harus menunggu lama hingga ikan itu kelelahan, bahkan sambil menunggu, ia mengajak ngobrol ikan tersebut.

Saya jatuh cinta dengan Ernest Hemingway di halaman 44-45. Ia menulis begini:

"Ia teringat ketika memancing salah seekor dari sepasang marlin. Ikan jantan selalu membiarkan si betina makan lebih dahulu dan ikan yang terpancing, si betina, melakukan perlawanan liar, panik, dan putus asa yang dengan segera membuatnya lelah, dan selama itu si jantan tetap tinggal bersamanya, melintasi tali dan mengelilingi pasangannya di permukaan air

Dia tetap tinggal begitu dekat sehingga lelaki tua itu khawatir dia akan memotong tali pancing dengan ekornya yang sangat tajam dan nyaris sama ukuran dan bentuknya dengan sebilah pisau besar. Ketika lelaki tua itu telah menombak dan memukul si betina dengan tongkat, dengan menggenggam pisau tipis yang tajam dengan tepi kertas amplasnya dan tetap memukulinya pada bagian atas kepalanya sampai warnanya berubah menjadi warna yang serupa dengan punggunya yang laksana cermin.

Dengan bantuan si bocah, mengangkatnya ke atas perahu dan selama itu ikan jantan tetap tinggal di sisi perahu. Kemudian, ketika lelaku tua itu membersihkan tali dan menyiapkan seruit, ikan jantan melompat tinggi ke udara di samping perahu untuk melihat di mana si betina dan kemudian menyelam lagi jauh ke bawah. Sayap lembayungnya, yang sebenarnya adalah sirip dadanya, mengembang lebar dan semua garis-garis lebar lembayungnya menjadi terlihat. Dia tampak tampan, lelaki tua itu mengenang, dan dia tetap tinggal di sana."

Tidakkah ikan begitu setia ketimbang manusia? Hehe.

Secara penulisan dan terjemahan, saya sedikit ngos-ngosan bacanya karena semua kata lebih banyak disambung koma ketimbang titik. Selain itu, untuk yang takut laut seperti saya, Anda harus berhati-hati. Laut yang dalam dan penuh misteri menghantui di setiap halamannya.

Comments

sid dan tania said…
saya juga udah baca novel ini... menarik. tapi pembaca harus sabar dengan alurnya yang lambat, hehe
Nia said…
Untung bukunya tipis ya... :)

Popular Posts