Perahu Kertas (2009)

Awalnya saya kira perahu kertas tidak akan setebal ini – 434 halaman. Frame Supernova, Filosofi Kopi, dan Rectoverso dengan gaya penulisan cerdas dan dewasa rupanya harus ditanggalkan ketika membaca Perahu Kertas. Anda akan disajikan sebuah novel panjang yang ringan dan muda. Tidak ada gaya penulisan romantis yang menghenyakan hati sebagaimana yang saya temukan di karya-karya sebelumnya.

Alkisah tentang seorang perempuan yang berumur 18 tahun dengan karakteristik extrovert, cuek, dan nyentrik bernama Kugy. Ia bertemu dengan Keenan, seorang pelukis muda dan amatir dengan karakteristik introvert lulusan SMU di Amsterdam, ketika temannya Kugy, Eko, mengajak Kugy menjemput sepupunya, Keenan. Mereka adalah orang-orang Jakarta yang memulai kehidupan kuliahnya di Bandung.

Witing tresno jalaran soko kulino. Selain sering jalan bersama, Kugy dan Keenan memiliki dua hobi yang saling melengkapi: menulis dongeng dan melukis. Mereka sama-sama terkagum-kagum dengan kelebihan yang dimiliki lawan jenis masing-masing dan perasan kagum ini berkembang menjadi cinta. Tentunya perasaan mereka harus terhalang karena faktor luar seperti Kugy yang sudah punya pacar bernama Joshua, Keenan yang dicomblangin dengan seorang kurator muda, Kugy yang bekerja di Jakarta, Keenan yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di Bali sampai ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan yang bernama Luhde.

Intinya, novel ini berisi bagaimana perasaan cinta yang disimpan bertahun-tahun itu bertahan dan mencari cara agar bisa tersampaikan.

Saya mengkategorikan cerita Kugy dan Keenan yang dibuat pada tahun 1996 ini sebagai chicklit: bacaan ringan untuk remaja. Membaca ini membuat saya seperti orang yang patah hati: frame gaya penulisan romantisme dan metafora ala Dee yang masih terpancang di pikiran sempat membuat saya kecewa ketika saya membaca Perahu Kertas. Pastinya latar belakang waktu 13 tahun yang lalu begitu mempengaruhi gaya penulisannya. Selain itu, ide ceritanya klise dan tidak ada perasaan-perasaan saya yang terwakilkan oleh tulisan-tulisannya. Dialog-dialog tokoh yang diharapkan lucu itu tidak keluar. Malah saya lebih bisa terpingkal-pingkal ketika membaca dialog tokoh Elektra – yang menjadi tokoh kesukaan saya – dalam bukunya yang berjudul Petir.

Ini sebenarnya masalah subjektif saya dimana perasaan-perasaan saya ikut andil dalam menulis resensinya. Tolong ini jangan dianggap serius. Semuanya tergantung selera. Jika Anda adalah penggemar fanatik Dee seperti saya, tidak ada salahnya jika membeli bukunya. Jika Anda hanya ingin tahu, saya sarankan untuk meminjam saja.

[Gambar dipinjam dari sini]

8 comments:

Adin, S. Psi. said...

sepakat! anggap saja Dee lagi bikin dongeng untuk remaja. =)

jek said...

mungkin cuma butuh variasi.
lagian novel ini cuman ditulis 55 hari.

semua yang instan adalah fail.

vendy said...

hey, kan dilarang meminjam =))

Nia said...

@Adin: Iya, itu asumsi awal saya: merubah target market. Haha.

@Jek: Perahu Kertas sudah berlayar sampai Bali toh? :D

macangadungan said...

errrr.... klo opini nia spt itu, saya jadi ragu untuk membelinya...

btw, saya jg suka tokoh elektra, tak sabar menunggu lanjutan petir...

Nia said...

Jangan begitu, oh macan. Aduh saya jadi dosa menghambat rezeki orang. Hehe.

jek said...

iyes. malah kayaknya barengan deh, nasional.
tampaknya sekarang gramedia udah tunduk
[keinget buku dee awal2 ga ada digramed]

Nia said...

Wah, selamat deh, Jek, Bali sudah mengikuti waktu nasional. Hehe.