Skip to main content

Tinta Merah

Ini adalah kesekian kalinya saya login dan mencoba menulis sesuatu di sini tapi tidak jadi. Ini dikarenakan saya tidak punya ide menulis yang oke (halah, kayak yang selama ini oke aja). Jadi, kali ini saya mau menulis kejadian yang saya lalui saja.

Tadi siang saya dapat feedback dari atasan saya atas assessment yang saya buat. Wow, banyak sekali catatan bertinta merah yang menghiasi. Selain itu, beberapa aspek penting yang terlewatkan oleh saya pun ditulis dengan huruf bercetak tebal dan BERKAPITAL atau menyerukan 'jelaskan!!!' atau 'ini maksudnya apa???'. Mendapat feedback itu membuat saya jiper kuadrat untuk masuk ke ruangannya. Selain takut, saya juga malu karena assessment saya sepertinya buruk. Waktu teman saya masuk ke ruangan atasan saya sementara saya menunggu di luar ruangan, teman saya bilang ke atasan kalau saya takut dimarahin. Atasan saya cuman tertawa dan bilang, 'Ah.. itu mah persepsi kamu saja!'

Rupanya begitu. Persepsi tinta merah, cetak tebal, huruf kapital, tanda seru dan tanda tanya terlalu banyak itu begitu kuat. Atasan saya mungkin sudah biasa memberi catatan merah seperti itu, namun saya tidak. Temen saya juga bilang, "Ih, kalau aku sms 'kan nulisnya suka banyak tanda seru atau tanda tanyanya. Padahal aku enggak marah lho". Iya memang, tapi saya menggunakan itu kalau saya marah atau kesal. Jadi, saya menganggapi stimulus sesuai dengan bagaimana saya memberi stimulus pada lingkungan.

Ribed? Enggak usah dipikirin.

Lalu atasan saya bertanya, "Jadi maunya warna apa?"

Saya menjawab, "Biru, Bu. Biar adem."

Dan semua pun akur.

Comments

vendy said…
sama dink
gw ga demen sama warna merah kl ada di feedback mail, apalagi sama tanda ! dan ? yang kebanyakan

dibilang ga usah dipikirin jg, kepikiran terus :))
Nia said…
Iya sih, terus jadi kagok kalo ketemu si atasan. Hehe.

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi…