Skip to main content

Toleransi Hal Yang Dinistakan

Toleransi keberagamaan rasanya pernah didoktrinkan kepada masyarakat Indonesia melalui pelajaran kewarganegaraan seperti PMP/PPKN/PKN. Menyebalkan memang jika melihat dari segi isi yang panjang lebar dan tidak to the point. Apalagi ketika mulai diujiankan, strategi mendapatkan nilai tinggi menjadi mudah: jawab saja yang baik-baik dan sepanjang-panjangnya.

Namun semua itu penting. Pengetahuan Pancasila, arti setiap lambang, pasal UUD, hidup keberbangsaan, rasanya semua itu saya dapat dari pelajaran kewarganegaraan. Perbedaan ras dan agama namun tetap satu tujuan menjadi point penting yang harus dihargai. Manusia diberi kebebasan memeluk agamanya dan menjalankan ibadahnya. Disitulah saya mendapatkan bagaimana seorang manusia harus bisa mentoleransi manusia lainnya yang berbeda.

Tulisan ini diangkat dari kasus di sekolah saya. Seorang anak yang beragama Hindu selalu malu menceritakan tentang agamanya. Ketika ditanya 'kalau Islam namanya Allah, kalau Kristen namanya Yesus, kalau Hindu namanya apa?', dia enggan menjawab. Jika disinggung tentang agamanya, ia akan marah. Ada apa dengan anak ini?

Saya menduga mungkin pernah ada kejadian traumatis yang menyangkut ia dan agamanya dengan masyarakat sekitarnya. Puncaknya adalah salah satu temannya berkata kepadanya, "Orang yang selain Islam akan masuk ke neraka". Ia marah dan menangis. Guru kelas berkata kepada temannya, "Memangnya kamu yang Islam sudah pasti masuk surga?". Jelas, toleransi adalah PR yang tidak pernah usai.

Mengadulah anak itu terhadap ibunya. Ibunya menemui guru kelas tentang orang yang non Muslim akan masuk neraka. Ibunya berkata, "Kami memang minoritas dan ini adalah kesekian kalinya kami diperlakukan seperti ini. Kami sangat sedih."

Mendengar cerita itu, saya menjadi sedih. Pertama, ia menganggap dirinya minortas (walaupun kenyataannya demikian). Kedua, ia sering mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari masyarakat atas apa yang diyakininya - yang saya yakin lebih menarik dari hal ini. Ketiga, pendidikan toleransi terhadap perbedaan sudah putus entah dimana.

Seperti yang dikatakan oleh atasan saya, mayoritas tidak selamanya menjadi kekuatan - justru menjadi kelemahan itu sendiri. Sekolah yang isinya kebanyakan Muslim menjadi sulit beradaptasi ketika anak harus menghadapi seseorang yang berbeda dengannya. Bukan masalah agama, namun hal apapun yang sudah dibiasakan sama. Saya tidak terbayang dengan sekolah yang benar-benar memurnikan dirinya pada satu kelompok tertentu (homogen). Apakah toleransi terhadap perbedaan masih ada?

Hasil gemilang di pelajaran Sains, Matematika, Bahasa Inggris ... apalah arti semua itu jika kemampuan menghadapi hal-hal luar di dalam diri masih perlu diperbaiki.

Comments

Vendy said…
survival of the fittest

makanya orang jaman dulu pake perang fisik. sekarang maunya pake perang mental.
Nia said…
Tapi apa yang namanya minoritas itu kemungkinannya kecil untuk survive?
vendy said…
ga juga, selama mereka ga punya perasaan kalah duluan

kalo dalam kasus anak didik lu, ya, bisa dibilang udah kalah duluan
muftisany said…
mayoritas, monoritas, dikotomi kuantitas atau dominasi ?
pelajaran PPKN juga ada yang namanya dominasi minoritas...
Nia said…
Apaan nih? Pertanyaan, tanggapan, tidak setuju, atau apa?
macangadungan said…
@ vendy : masa iya kalah duluan? kalo saya rasa, pasti sebelumnya dia udah sering didiskriminasi oleh teman sebayanya. anak didik nia tersebut lebih bisa dikatakan... TRAUMA. kita ga bisa mengharapkan anak kecil bisa jadi sekuat orang dewasa dalam menghadai diskriminasi rasial dan agama.

@ nia : ya, setahu saya, diskriminasi agama dan rasial sekarang ini justru giat ditanamkan oleh para (sebagian) orang tua dan guru. gue pernah lihat, keponakan gue ga diajak temennya main, kata temennya "jangan main sama dia, main sama orang kristen kan haram."
dengan pedih, nenek sang anak (tante gue) bertanya pada kedua anak kecil tsb " itu kata siapa?"
dan anak tersebut menjawab dengan polos "Kata ibu guru..."

dan anak-anak tersebut masih duduk di bangku TK.

beda sekali pada jaman saya masih SD, dimana di sekolah sangat ditekankan untuk bertoleransi dan menghormati smua org tanpa memandang agama dan ras.

dan dari sudut pandang minoritas spt saya, saya jg beberapa kali mengalami diskriminasi karena agama saya. tp saya lebih memilih diam. dan jika saya memilih untuk melawan, hanya sebatas mempertanyakan apa maksud dari sikap diskriminasi tersebut. biasanya orangnya hanya akan terdiam dengan malu.

sebenarnya, diskriminasi dan anti toleransi itu kuncinya ada di tangan orang (yang lebih) tua. anak-anak tidak akan memandang perbedaan sebagai suatu masalah, kecuali kalo orangtuanya yang mengajarkan begitu.
Nia said…
Bener, can, gue setuju. Jikalaupun ada pendapat guru yang baik atau salah, tetap keputusan anak mau bagimana ada di tangan orang tua karena waktu orang tua lebih banyak daripada anak.

Contohnya stereotype kesukuan. Kita sering banget nih denger orang tua 'ah dasar, Jawa yang bla bla bla' atau 'ah dasar Sunda yang bla bla bla'. Kalau kita lahir tanpa kena prasangka itu, mungkin sampai besar pun tidak akan seperti itu.

Lalu, can, apakah diskriminasi membuat lo trauma?
macangadungan said…
@ nia >> nggak, temen2ku lebih banyak yang toleransinya tinggi daripada yang diskriminatif. jadi gue menganggap diskriminasi hanya sebuah bentuk perilaku yang menyebalkan, sama seperti klo diomongin orang, dibohongin, dll.
tai gue kasihan kalo kejadian kayak gini menimpa anak kecil. itu aja. krn anak kecil kan beda ama kita yang udah rada tua.

temen gue yang pernah didiskriminasi sejak kecil, akhirnya tumbuh menjadi seorang fanatik yang rasis. see? betapa bahayanya sikap diskriminasi thd anak kecil.

ahahah, soal kesukuan, gue setuju banget. orang tua gue, orang tua temen2 gue...rata2 malah lebih ribut soal kesukuan drpd agama. tapi kalo gue sih ga terlalu terpengaruh sama gituan.
vendy said…
menurut gw, "kalah duluan" bisa tumbuh dari diri si anak tanpa "pembabatan" langsung dari orang tuanya; atau diwariskan dari orang tua dan memang sengaja dibiarkan tumbuh pada diri si anak

sebagian akan nyebut trauma, sebagian akan nyebut kalah berkali2 dan mundur, dan entah sebagian yang lain akan nyebut seperti apa
Nia said…
Beda dong, Ven, trauma sama kalah duluan..

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…