Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2009

Sudah Kubilang

Sudah kubilang pada ibu untuk tidak naik kereta Mutiara Selatan menuju Surabaya pada pukul 7 malam. Aku sudah berulang kali menyuruhnya naik pesawat ketimbang kereta karena pesawat akan jauh lebih cepat dan jauh lebih nyaman untuk orang yang sakit kaki seperti ibu. Kutawarkan kenyamanan, tapi ibu menolak.

Sudah kubilang pada ibu untuk membeli tiket di pagi hari saja karena sore akan penuh dengan orang-orang yang pulang kantor menuju Jakarta. Mungkin jika ibu membeli tiket sore hari, ia tidak akan mendapatkan kursi nomer 12 yang berada di dekat jendela karena angin malam daerah Jawa membuat ibu masuk angin, merasa mual, lalu ditawari minyak kayu putih oleh seorang pria yang mengakhiri perjalanan dengan saling bertukar nomer handphone.

Sudah kubilang pada ibu untuk tidak meneruskan hubungan pertemanan yang semakin lama semakin aneh dengan pria yang belakangan saya tahu namanya Dedi – duda Surabaya. Bisa kulihat Dedi begitu gencar mendekati ibu dan ibu semakin GR. Kubilang pada ibu bahwa …

Diversity

Kalau diingat-ingat zaman SD adalah zaman dimana mental saya sebagai manusia dilebur ketika berhadapan dengan manusia lain. Entah mengapa, saya adalah target cercaan, makian, cemoohan dari teman-teman saya karena saya berbeda dari mereka. Kulit saya tidak seputih teman-teman saya, rambut saya yang tebal dan mengembang tidak selurus atau serapi teman-teman saya. Hingga pada akhirnya saya menangis, mohon pada Tuhan, minta rambut ini dirontokkan saja agar saya tidak dihina lagi. Rupanya Tuhan mengabulkan permintaan saya. Rambut saya terus rontok sampai sekarang sehingga saya seperti orang yang sakit tifus.

Warna kulit. Rupanya ada teman yang berkulit hitam seperti saya pun pernah mengalami hal yang sama. Langsung disangka orang Irian, orang Ambon, orang Maluku, yang belakangan kenapa harus disamakan dengan mereka karena seolah-olah itu mendeskritkan mereka sebagai suku bangsa.

Rupanya ini terus berlanjut hingga saya SMA. Muncul jerawat mulai menjadi faktor tambahan lain sebagai trigger unt…

The Art of Teaching

Diawali dengan pembicaraan antara saya dan koordinator tim saya di tempat kerja. Ia bercerita bahwa sebelum ia bekerja di sekolah, ia adalah seorang pegawai HRD di salah satu perusahaan besar yang sangat prestisius dengan masa depan dan salary yang sangat menjanjikan di Jakarta.

Ia berkata, "Dua tahun saya disana, saya menemukan jiwa saya kosong. Secara materi, tidak ada yang harus dipertanyakan. Tapi saya merasa diri saya tidak beranjak kemana-mana, saya merasa diri saya tidak berkembang."

"Pada satu hari, ketika saya liburan di Bandung, saya melewati sebuah sekolah internasional di bilangan Dipatiukur. Saya melihat anak-anak yang keluar dari sekolah, dijemput orang tuanya. Tiba-tiba saya merasakan sebuah perasaan yang tidak pernah saya alami sebelumnya: perasaan senang melihat keceriaan anak-anak. Mungkin memang jiwa saya ada disana. Lalu saya memutuskan resign dari pekerjaan. Ini merupakan hal yang sangat sulit, apalagi setelah mereka tahu saya mau bekerja di sekolah. …

Klimaks Bersama Agus Suwage

Menerima ajakan teman saya dengan motor bututnya (maaf, Andika, saya adalah penebeng kurang ajar. Tapi, walaupun saya tidak punya motor, perlu saya akui bahwa motor elu tuh bener-bener ..., terutama skill memboncengi orang yang ...) ke Selasar Sunaryo untuk melihat sebuah grand opening pameran dengan tajuk "Still Crazy After All These Years" adalah sebuah keputusan yang sangat tepat.

Bertempat di Dago Pakar, Selasar Sunaryo yang luas dan memiliki kapasitas menampung tamu yang cukup besar itu dibuat padat. Tenda dan tempat duduk yang disediakan sudah jelas tidak bisa menampung pengunjung yang datang. Ratusan, saya perkirakan. Sambil menunggu Agus Suwage - sang seniman - mereka memilih berdiri atau duduk-duduk di sudut-sudut Selasar Sunaryo.

Setelah sambutan dari pemilik selasar, Sunaryo, datanglah Agus Suwage. Ia mengucapkan beberapa patah kata yang tidak saya dengar karena suasana disekitar saya yang hiruk pikuk dan saya pun mengobrol dengan Andika. Lalu datanglah Butet Kertar…

Kukatakan Pada Samvra Tentang Semut

Padahal sudah kukatakan pada Samvra agar tidak bermain-main dengan rumah semut. Digoyangkannya rumah semut, lalu ketika semut-semut keluar, Samvra menyiramnya dengan air. Semut-semut menggelepar, Samvra tertawa riang. Ia senang.

Samvra senang sekali memainkan hidup semut. Kadang rumahnya digoyang-goyang ke kiri dan ke kanan, kadang rumahnya digoyang-goyang ke atas dan ke bawah. Sering kulihat para semut menangis, melolong minta tolong. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, Samvra yang memiliki kuasa.

Lalu pada suatu hari, Samvra berkata padaku bahwa ia bermimpi tubuhnya diangkat oleh ribuan semut. Dibawa Samvra ke laut. Dilemparkannya Samvra ke kumpulan air nan luas. Samvra gelagapan, semut-semut berteriak saling sorak.

Kukatakan pada Samvra, karma itu ada. Pemilik Samvra itu adil dan semesta bergerak magis. Mereka bersekutu, memiliki cara kerja yang sistematis, bersatu padu untuk mengembalikan lagi apa yang telah Samvra perbuat. Tanpa ada yang tahu.

Ya, Samvra. Sekarang kau sudah tiada. B…

Kalau Cinta Sudah Pergi, Lantas Kau Mau Apa?

Title: 0119 Cemi
Medium: Acrylic, Colorpencil
Size: 9 x 12
Picture


Tadi siang, teman-teman saya datang ke rumah saya. Halal bihalal - maksud awalnya. Namun semenjak tahu di rumah ada fasilitas internet (hotspot), mereka jadi sibuk dengan laptop masing-masing. Membuka Facebook. Oh, sangat penting sekali sampai-sampai saya harus meminta mereka logout dari Facebook-nya demi sebuah obrolan.

Facebook sudah sampai taraf menganggu, namun ini akan saya tulis nanti.

Kami mengobrol sampai sore. Diangkat tema cinta - yang berangkat dari curhatan salah seorang teman yang berlanjut ke teman lainnya karena mereka (dan juga saya) pernah mengetahui hal yang sama. Kami bercerita tentang bagaimana jika sepasang manusia yang sudah bertahun-tahun masuk ke dalam ikatan pernikahan kemudian memiliki wanita atau pria idaman lain.

Saya merasa ngeri. Apa rasanya ketika kamu mencintai seorang manusia yang pernah berjanji dihadapan Tuhan mau sehidup semati namun nyatanya ia mencintai manusia lain? Rasanya cinta bukan m…