The Art of Teaching

Diawali dengan pembicaraan antara saya dan koordinator tim saya di tempat kerja. Ia bercerita bahwa sebelum ia bekerja di sekolah, ia adalah seorang pegawai HRD di salah satu perusahaan besar yang sangat prestisius dengan masa depan dan salary yang sangat menjanjikan di Jakarta.

Ia berkata, "Dua tahun saya disana, saya menemukan jiwa saya kosong. Secara materi, tidak ada yang harus dipertanyakan. Tapi saya merasa diri saya tidak beranjak kemana-mana, saya merasa diri saya tidak berkembang."

"Pada satu hari, ketika saya liburan di Bandung, saya melewati sebuah sekolah internasional di bilangan Dipatiukur. Saya melihat anak-anak yang keluar dari sekolah, dijemput orang tuanya. Tiba-tiba saya merasakan sebuah perasaan yang tidak pernah saya alami sebelumnya: perasaan senang melihat keceriaan anak-anak. Mungkin memang jiwa saya ada disana. Lalu saya memutuskan resign dari pekerjaan. Ini merupakan hal yang sangat sulit, apalagi setelah mereka tahu saya mau bekerja di sekolah. Saya sampai harus berurai air mata. Bukanlah hal yang mudah deal dengan orang-orang yang beranggapan bahwa kerja kantoran lebih baik ketimbang menjadi kerja sekolahan."

"Atasan saya terkejut. Ia mengatakan prestasi kerja saya sangat baik. Tapi saya bilang kepadanya bahwa saya tidak menemukan sesuatu yang saya inginkan disini. Akhirnya ia melepaskan saya."

"Waktu itu saya lewat tempat saya bekerja sekarang ini. Tanpa direncanakan, tanpa tahu ada lowongan, saya langsung apply lamaran. Sehari kemudian, atasan memanggil saya dan menerima saya bekerja. Atasan berkata bahwa gaji disini tidak seberapa. Kecil malah. Namun saya sangat terharu. Bukan gaji yang saya inginkan, tapi kesempatan belajar yang atasan saya berikan."

"Saya ini orang industri. Saya tidak memiliki pengalaman mengajar. Saya harus masuk ke kelas dan saya harus mengajar. Setelah di depan anak-anak, saya langsung tahu bahwa inilah yang saya inginkan."

Lalu saya berkata, "Dulu saya adalah orang yang sama seperti orang-orang yang ibu ceritakan. Saya adalah orang yang beranggapan bahwa kerja kantoran lebih prestisius ketimbang jadi guru. Jujur, saya jadi guru bukan karena panggilan hati seperti yang ibu alami. Saya menjadi guru karena saya tidak mau jadi pengangguran. Mungkin hingga saat ini, saya belum terintegrasi betul dengan pekerjaan saya. Namun ini jauh lebih baik setelah saya deal dengan anak-anak. Saya mendapatkan sesuatu yang tidak saya dapatkan ketika saya harus deal dengan orang dewasa: spiritualitas."

"Ketika anak mengalami perkembangan, saya merasa senang. Ketika anak sakit secara psikologis akibat perlakuan orang dewasa, saya merasa sangat sedih. Ketika mata anak berbinar melihat saya setelah sekian lama tidak bertemu dengan mereka, saya merasa terharu luar biasa. Ketika anak yang susah mengingat nama bisa mengingat nama saya, saya merasa keberadaan saya betul-betul berarti. Ketika anak menangis dan mencari saya, saya merasa betul-betul dibutuhkan. Disini, saya merasa saya sangat berharga. Ketika mereka membuat sebuah karya kemudian diberikannya karya itu untuk saya, saya merasa saya benar-benar dicintai."

"Saya merasa ada sebuah proses penyembuhan yang mereka lakukan terhadap saya. Masa lalu saya kurang baik, keadaan jiwa saya mungkin pernah luka akibat konflik masa kecil. Tapi perilaku sederhana anak-anak menutupi luka-luka itu perlahan-lahan. Satu persatu."

"Terutama semenjak saya tahu kalau mendidik bukan hanya memberikan materi - tapi juga skill agar mereka bertahan hidup. Saya menyadari bahwa saya juga ikut membentuk dan bertanggung jawab masa depan mereka. Misalnya jika saya gagal mengajarkan anak membaca, maka ia tidak akan bisa membaca selamanya. Jika saya gagal mengajarkan tentang regulasi emosi, maka mereka akan mengeluarkan emosi mereka dengan cara yang salah. Intinya, saya tidak boleh karena saya juga tidak ingin mereka gagal."

Pembicaraan kami ditutup dengan saling diam. Mata kami menerawang ke langit-langit ruangan. Mencoba menikmati spiritualisme yang kami dapatkan.

Comments

andika said…
Nia, keren banget tulisan yang ini! Rupanya begitu ya perasaan lu soal mengajar..
Nia said…
Makasih :)

Iya, Dik. Ini perasaan gue.
kang_te said…
alhamdulillah, nia... akhirnya lagi2 kau menyadarkanku bahwa aku tak sendiri. hehehe...

beda kan? ada karya ada kerja. gak selamanya kerja itu menghasilkan karya, gak selamanya juga berkarya itu harus lewat kerja (di tempat yang mapan).

seperti biasa, tulisan mu kali ini juga keren. ^.^
Begy said…
wah menyentuh sekali Ni tulisannya. inilah kenapa guru disebut sebagai profesi yang mulia..
crot said…
dari dulu sy berangan-angan untuk bisa mengajar layaknya guru2 panutan sy sewaktu sekolah dulu, tapi yang menjadi pertanyaannya sekarang, apa yang bisa saya ajarkan? cara scream dan growl yang benar? yeah, right...
Sundea said…
Ni, gua, kok, merinding, ya, baca posting ini ?

Cerita begini mungkin sering terjadi di mana-mana, tapi sentuhan personal bikin dia selalu punya efek nyentuh yg "baru".
erni said…
Wuih, ngabacany jd kayak tersadarkan, bukan tersadarkan seh lebih tepatny tertamparkan .. What a good thing u've got from being a teacher , aku mah blm sampai ke tahap itu euy .. aku masih merasa mengajar adalah bagian dari rutinitas ku yg wajib aku lakukan dengan baik untuk anak didikku .. Feel nya belum dapet euy .. Every day I have to forced myself to fit in. Aku rasa seh passionate aku bukan d situ .. Tapi nggak aku punkiri dg mjd guru banyak pembelajaran yg aku dapetin hingga mbuat aku mjd seorang yg sprt ini, dg mjd guru aku juga belajar .. learn to be better person. Tp itu, Nia .. Passionate aku bukan d sini ..
Nia said…
@Tegar, Begy, & Dea: Makasih.

@Mancroti: Tanggapan sudah dilayangkan via fesbuk (ahay).

@Mbak Erni (gyahaha):
Sebenernya tulisan ini gak bilang juga aku teh passion-nya disini dan aku betah banget disini. Tapi inilah yang aku dapetin selama aku kerja disini.

Aku pernah tuh dilema antara passion dan kenyataan terus aku kerjanya jadi setengah2. Temenku bilang, 'kasian anak2 lo, Ni. Ini semua bukan tentang lo, tapi tentang anak didik lo.'

Jadinya aku berpikir. Oke, aku gak boleh berhenti di tengah2. Kalopun mau ya ntar pas akhir taun ajaran. Dengan masuk dan megang mereka, mau enggak mau aku harus bertanggung jawab (tapi ini juga sembari ngumpulin uang buat bayar pinalti. Hihi)

Ya mudah2an aja ini enggak ganggu kinerja kerja kita dan gak berimbas pada anak-anak.

Popular Posts