Diversity

Kalau diingat-ingat zaman SD adalah zaman dimana mental saya sebagai manusia dilebur ketika berhadapan dengan manusia lain. Entah mengapa, saya adalah target cercaan, makian, cemoohan dari teman-teman saya karena saya berbeda dari mereka. Kulit saya tidak seputih teman-teman saya, rambut saya yang tebal dan mengembang tidak selurus atau serapi teman-teman saya. Hingga pada akhirnya saya menangis, mohon pada Tuhan, minta rambut ini dirontokkan saja agar saya tidak dihina lagi. Rupanya Tuhan mengabulkan permintaan saya. Rambut saya terus rontok sampai sekarang sehingga saya seperti orang yang sakit tifus.

Warna kulit. Rupanya ada teman yang berkulit hitam seperti saya pun pernah mengalami hal yang sama. Langsung disangka orang Irian, orang Ambon, orang Maluku, yang belakangan kenapa harus disamakan dengan mereka karena seolah-olah itu mendeskritkan mereka sebagai suku bangsa.

Rupanya ini terus berlanjut hingga saya SMA. Muncul jerawat mulai menjadi faktor tambahan lain sebagai trigger untuk mencemooh saya. Dari SD hingga SMA, seringkali saya pulang dalam keadaan menangis. Namun ibu saya - tanpa mau mendengarkan alasan kenapa saya menangis - langsung bilang semua ini karena perilaku saya yang nakal dan tidak baik kepada teman-teman saya. Dari situ, mulailah terbentuk atribusi internal negatif. Apapun kesalahan yang terjadi, saya jadi menyalahkan diri saya.

Mulai kuliah, teman-teman tidak pernah membahas atau mengungkit hal-hal yang begitu dipermasalahkan ketika saya masih sekolah. Seolah-olah mereka sudah memiliki urusan yang lebih penting ketimbang mengurusi ketimpangan fisik seseorang dari lingkungan normalnya. Sepertinya itu menjadi masalah yang kecil, bahkan tidak terlihat sama sekali, seiring dengan kesadaran bahwa ketimpangan otak lebih bahaya lagi. Malah sekarang mainan cemoohan dengan rekan kuliah dan rekan kerja (dalam konteks bercanda), berada di area ketimpangan otak.

Seolah-olah saya menjadi imun. Saya jadi enggak peduli dengan keadaan kulit dan rambut. Mau dibilang seperti apapun, saya cuek. Tidak seperti zaman sekolahan dimana saya menyesal dan menganggap Tuhan tidak adil karena Tuhan sudah menciptakan saya sedimikian timpangnya dari lingkungan. Saya 'kan enggak minta. Tapi sekarang saya biasa saja.

Namun ya itu. Saya sekarang mengajar di SD. Saya kira, seiring dengan perubahan zaman, anak-anak zaman sekarang lebih terbuka. Namun ternyata sama saja. Mayoritas anak-anak di sekolah ini besar di lingkungan homogen sehingga ketika menemukan sesuatu hal di luar lingkungan itu, mereka jadi enggan bergaul - bahkan mencerca dan menghina. Misalnya mereka sulit menerima keadaan anak berkebutuhan khusus yang sekolah disini, mereka sulit menerima anak baru yang agak kemayu, mereka sulit menerima teman mereka yang beragama Hindu.

Intinya, kalau Anda punya anak, jangan disimpan atau dipelihara di rumah saja. Atau jika keluar rumah, hanya diberi lingkungan yang setara. Nanti disangka dia doang yang tinggal di dunia - sisanya makhluk pendatang.

Sumber: Gambar

Comments

saya.tika said…
Baca tulisan ini saya jadi ingat waktu kecil. Saya yang memiliki kulit gelap dan hidung pesek sering jadi bahan olok2 keluarga. Sampai2, ketika saya berumur 4 tahun, saya mencoba menghapus kulit saya dengan penghapus karet; berharap warna coklat tuanya bisa berubah lebih terang. Perasaan minder dengan warna kulit gelap berlangsung sampai saya SMA, apalagi tante saya sangat bersemangat membelikan saya lotion pemutih, tambah deh perasaan minder semakin dalam. Minder ini hilang ketka saya mendapat nasihat dari sorang teman -yg sering diolok2 karena kekanak2an- bahwa yang penting bukan warna kulitnya, tapi sehat atau tidak.
Begy said…
sepertinya hal itu memang sudah jadi perilaku yang umum di masa kanak-kanak. banyak anak di belahan dunia lain tampaknya sudah terbiasa bertindak seperti itu kepada teman mereka yang berbeda, umumnya secara fisik.

ah sebenernya saya juga agak bingung mau komentar apa. tapi itulah anak-anak. namanya juga anak-anak. toh seiring bertambahnya usia, mereka akan semakin dewasa dan berhenti bertindak bodoh.

atau setidaknya, sebagian kecil dari mereka.
Nia said…
@bu Tika: Menghapus dengan karet. Hihi, lucu.

Kemarin pagi (entah tanggal berapa), saya lihat orang yang kena kanker kulit di televisi. Awalnya cuman luka di muka, namun ia kopelin, ternyata itu kanker ganas. Tau2 lukanya menyebar, mengelupas, dan mengeluarkan darah sampai2 mukanya harus diperban.

Saya jadi linu dan bersyukur bahwa kulit saya sehat (tidak kanker). Ya betul, Bu, yang penting sehat.

@Begy: Iya kalau anak-anak, tapi kalau sudah besar layakanya anak SMP dan SMA ... 'kan udah gak zaman. Hehe.
Agee_gee said…
hihi...luchu bacanya...
ternyata sebetulnya semua org di dunia pernah mengalami masa kecil yg ada 'suam-suram'nya, jgn kan kita marshanda juga ternyata mengalaminya..

kalo aq Nia,, justru mengalami nya skrg2 atau sejak kuliah..buka hal physically sech...tp lebih ke arah pencapaian target hidup..ehm..we'll talk it latter yah :D
Nia said…
@agee: aaah, itu mah beda topiiikk :D ok ok, we'll talk.

Popular Posts