Skip to main content

Sudah Kubilang

Sudah kubilang pada ibu untuk tidak naik kereta Mutiara Selatan menuju Surabaya pada pukul 7 malam. Aku sudah berulang kali menyuruhnya naik pesawat ketimbang kereta karena pesawat akan jauh lebih cepat dan jauh lebih nyaman untuk orang yang sakit kaki seperti ibu. Kutawarkan kenyamanan, tapi ibu menolak.

Sudah kubilang pada ibu untuk membeli tiket di pagi hari saja karena sore akan penuh dengan orang-orang yang pulang kantor menuju Jakarta. Mungkin jika ibu membeli tiket sore hari, ia tidak akan mendapatkan kursi nomer 12 yang berada di dekat jendela karena angin malam daerah Jawa membuat ibu masuk angin, merasa mual, lalu ditawari minyak kayu putih oleh seorang pria yang mengakhiri perjalanan dengan saling bertukar nomer handphone.

Sudah kubilang pada ibu untuk tidak meneruskan hubungan pertemanan yang semakin lama semakin aneh dengan pria yang belakangan saya tahu namanya Dedi – duda Surabaya. Bisa kulihat Dedi begitu gencar mendekati ibu dan ibu semakin GR. Kubilang pada ibu bahwa hati-hati untuk bertemu pria baru setelah baru beberapa bulan bercerai dengan ayah.

Sudah kubilang pada ibu untuk tidak mengiyakan lamaran Dedi. Namun ibu tidak mendengarkan. Setelah tiga bulan bertemu di kereta, mereka melangsungkan pernikahan.

Sudah kubilang pada ibu untuk tidak tinggal bersama saya dengan suami barunya karena jika ibu menuruti saya, maka ini tidak akan terjadi. Apa yang tidak akan terjadi? Yaitu melihat anaknya sendiri menangis semalam setiap hari karena diperkosa ayahnya tiri yang bernama Dedi.

[Tulisan ini dibuat ketika latihan menulis di Reading Lights Writer's Circle tentang pengulangan kata, frasa, atau kalimat, sebagai penegas pesan yang diinginkan]

Comments

Begy said…
Saya cuma mau menceritakan apa yang terlintas di pikiran saya ketika membaca post ini.

Paragraf 1 - Udah feeling bakal unhappy ending.
Paragraf 2 - Kayaknya Ibu akan berakhir mati dibunuh.
Paragraf 3 - Bergeser pada pemikiran bahwa Dedi punya niat jahat sama IBU.
Paragraf 4 - Jadi curiga Dedi akan menodai tokoh Aku.
Paragraf 5 - Terbukti tokoh Aku diperkosa.

:D
Nia said…
Intinya: bisa ketebak.
JiMmY luVhaRa said…
dah lama ga kemari .. kangen juga sayah
pushandaka said…
Oh, itu untuk penegasan ya? Pantes kok tulisan ini terkesan galak. Hehe!
Nia said…
@Jimmy: Selamat datang kembali. Sering-sering dong :)

@Pushandaka: Iya, untuk penegasan. Ada tutorialnya di
http://rlwriterscircle.blogspot.com
Brahm said…
Dari awal sampai akhir baca aku deg2an. Takutnya ini diary. Kan aku nggak baca tag "fiksi" itu.
Nia said…
Hehe, untung dibaca ya? :D

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…