Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2009

Hikayat Buku Harian

Gambar diatas adalah buku harian ibu saya. Saya menemukannya tergeletak di atas tempat tidur. Sejenak saya tertegun mengapa ia membiarkan buku hariannya di tempat yang bisa dilihat orang lain. Rupanya ibu melihat saya kemudian ia berkata, "Baca saja."

Maka bacalah saya. Isi buku harian ibu sangat berbeda dengan buku harian saya. Tulisannya tegak bersambung, kaku, dan begitu tertata. Isinya tentang riwayat keluarga dan hal-hal pribadi lainnya. Selain itu, isinya penuh dengan berbagai tema. Oh, saya jadi mengerti, sepertinya ibu suka menulis. Jangan-jangan ketertarikan pada dunia menulis ini diturunkan dari ibu - karena setahu saya, ibu mempunyai buku harian lain yang lebih tebal.

Buku harian. Entah mengapa namanya harus buku harian, buku buku jam-an, bukan buku mingguan, bukan buku bulanan. Suatu benda pasti diciptakan karena ada kebutuhan yang mendasari. Lalu memangnya manusia butuh apa sehingga harus menciptakan buku harian lalu mengisinya dengan hal-hal pribadi yang tidak bo…

Petir

Sudah dua jam kedua awan itu saling bertengkar, memperebutkan siapa yang akan menurunkan hujan di malam ini. Keduanya sama-sama keras kepala, keduanya sama-sama ingin menunjukkan kuasa.

Awan pertama berkata, "Dari kemarin, kau terus yang menurunkan hujan. Kau mengguyur bumi dengan rintikan karena setiap kau mengandung air, kau ingin buru-buru mengeluarkannya. Lihatlah aku, tidakkah kau lihat tubuku menghitam karena kebanyakan air?"

Awan kedua segera menjawab, "Lagian, siapa suruh menampung air banyak-banyak. Kamu bergerak terlalu lama, bumi sampai mengering!"

Dipersalahkan seperti itu, awan pertama geram karena dipersalahkan. Ctar! Kilat kecil menyambar di bawahnya. Lalu ia berkata, "Ini sengaja agar aku menciptakan badai tahu! Kau selalu bertindak terburu-buru hingga bumi menjadi banjir!"

Ctaar! Petir kedua berasal dari awan kedua yang dipersalahkan karena terjadi banjir. Kali ini kilatnya agak lebih besar ketimbang awan pertama. "Dasar awan yang sering…

Tersesat di Jakarta Bersama Eliana

Tadi malam, saya dan teman-teman Reading Lights Writer's Circle pergi ke Rumah Buku. Kami menonton screening Eliana, Eliana (2002) karya Riri Riza bersama Prima Rusdi. Tentunya teman-teman saya - dan juga saya - yang mayoritas penyuka film itu, tidak mau melewati screening filmnya, ditambah kehadiran kedua orang besar dibalik layar.

Ketika menerima undangan, saya mulai khawatir. Movie screening di Rumah Buku selalu dilakukan di halaman belakang, beralaskan rumput dan beratapkan langit, dan sekarang sedang musim hujan. Saya agak malas jika pantat saya basah akibat rumput yang terkena air hujan atau memang kehujanan beneran. Namun - seperti yang Budi (salah satu pengurus Rumah Buku yang setiap movie screening bertindak sebagai MC dan ini nama yang sebenarnya, bukan nama samaran) bilang - marilah kita berdoa sama-sama agar tidak hujan, maka tidak hujanlah malam itu. Sungguh, sepertinya ia bukan seorang MC biasa.

Eliana, Eliana bercerita tentang seorang perempuan bernama Eliana (tentuny…

Kemanakah Balon Pergi?

Pernahkah kamu bertanya kepada balon pergi? Pernahkah kamu bertanya sejauh apa ia berada di atas bersama awan-awan? Pernahkah kamu mendapatkan balon yang sudah kamu lepaskan?

Ada sebuah tempat di ujung langit sana. Disanalah balon-balon yang dilepaskan atau tidak sengaja terlepas berkumpul, saling membicarakan pemiliknya masing-masing. Ada yang dulunya menjadi milik anak-anak, ada yang dulunya milik orang dewasa, ada yang dulunya milik tukang balon, ada yang dulunya milik sebuah instansi yang sengaja melepas ratusan balon untuk acara tertentu.

Balon disana warna warni. Ada yang warnanya merah, ada yang warnanya putih, dan ada juga yang sudah pudar. Ada yang rupanya masih segar, ada yang rupanya sudah kisut. Namun apapun bentuknya, sepertinya mereka senang berada di atas sana. Cukup jauh untuk melihat kehidupan di bawahnya. Cukup jauh untuk melihat teman-temannya yang akan pergi ke atas namun sudah meletus sebelum sampai.

Balon akan terus berada disana. Mereka tidak bisa kembali dan menem…

Petualangan Si Pemburu

Seorang perempuan bertelanjang dada. Ia hanya memakai rumbai dedaunan di pinggang. Tubuhnya kotor dan penuh luka. Diludahinya lalu digosok kasar, dibersihkan ala kadarnya. Dengan tombak runcing di tangan kanannya, ia sibuk berlari kesana kemari di tengah hutan, berburu binatang liar dengan lincahnya.

Adalah sebuah babi hutan dengan taring di dekat mulutnya. Tiga atau empat kali lebih besar badan si babi ketimbang sang perempuan. Sudah beberapa hari ini sang perempuan memburunya namun tidak berhasil. Dibuatlah lubang sebesar badan si babi, ditutupinya dengan ranting dan dedaunan. Cara yang klasik memang, tapi hanya itulah cara yang ia ketahui.

Dicarinya si babi dan diamati sembunyi-bunyi. Si babi sedang makan. Lalu dilemparkanlah sebuah batu pada si babi. Si babi berbalik, mencari darimana batu berasal. Matanya awas. Lalu diperlihatkanlah diri sang perempuan pada si babi hingga si babi balik memburunya. Dengan sigap, maka berlarilah sang perempuan ke tempat jebakan. Dan ... graass ... si…

Domba

Baru saja saya melihat sekumpulan domba yang lehernya dijerat oleh tambang dan tambang itu diikatkan kepada bilih bambu yang ditancapkan ke tanah. Waktu itu saya melihat dari jendela kelas lantai tiga dan waktu itu hujan deras mengguyur Bandung. Si domba sepertinya ingin berlari mencari tempat yang teduh, tapi tidak bisa. Kasihan sekali. Sebentar lagi mereka akan disembelih, sementara sekarang harus kehujanan.

Saya pernah melihat domba yang disembelih di leher. Tidak langsung mati, ia menggelepar. Parahnya ada yang masih bisa berdiri dan berlari sementara kepala mau putus. Tidakkah penyembelihan itu menjijikan dan mengerikan sekali?

Terlepas dari agama Islam tentang penyembelihan domba sebagai kompensasi penyembelihan Ismail, bagaimanapun membunuh itu kejam. Mamalia yang besar, terutama. Namun saya juga tidak peduli dengan serangga kecil macam nyamuk atau semut - karena saya tidak melihat mereka menggelepar ketika saya injak atau saya gepengkan diantara kedua tangan saya. Intinya, saya…

Berumur Panjang

Dalam perjalanan pulang kantor, saya dan teman-teman saya ngobrol tentang orang tua yang berumur panjang.

Salah satu teman saya berkata, "Enggak enak juga ya berumur panjang. Mungkin temen-temen kita nanti sudah pada mati, kita yang masih hidup sendiri."

Disana saya jadi berpikir, betul juga. Memangnya kita enggak capek gitu menghadapi kehidupan? Selain itu, kita memang hidup di dunia, namun dunia berkembang lebih jauh dan lebih pesat ketimbang diri kita - oleh karena itu, kita kelihatannya jadi mundur ke belakang, padahal tidak. Ini masalah lingkungan yang berkembang lebih cepat.

Teman saya berkata, "Oleh karena itu, orang tua kalau ngomong, kadang enggak nyambung. Kalau ngomong, pasti selalu tentang masa lalu." Lalu dengan jahatnya ia meneruskan, "Mending saya tinggalkan orang yang sudah tua di panti jompo."

Tentu yang lain langsung protes. Dia menanggapi, "Bukannya karena tidak sayang, tapi agar orang tua yang berumur panjang itu bertemu dengan teman-…

Filosofi Metamorfosis

Jika arti sederhana metamorfosis adalah perubahan, pernahkah terpikirkan mengapa ketika manusia membicarakan tentang metamorfosis, mereka selalu membicarakan tentang kupu-kupu? Bukankah katak juga mengalami perubahan ketika ia kecil hingga besar? Lalu mengapa manusia tidak membicarakan tentang diri kita sebagai bentuk metamorfosis yang jelas-jelas manusia berubah dari kecil hingga besar?

Mungkin karena kupu-kupu adalah salah satu bentuk binatang yang metamorfosisnya sempurna dan perubahannya begitu signifikan. Bayangkan, perubahan terjadi dari seekor ulat menjadi seekor kupu-kupu cantik. Bagaimana tidak signifikan?

Di Singapura ada taman kupu-kupu. Orang rela berdatangan dan mengantri untuk melihat taman kupu-kupu. Lalu mengapa Singapura tidak membuat taman ulat? Apakah orang masih rela berdatangan dan mengantri untuk melihat ulat? Mungkin ada beberapa orang yang tidak jijik dengan ulat. Namun bukan berarti orang akan histeris senang jika melihat ulat - seperti orang histeris ketika mel…

Mencoba Merendah Bersama Gatot

"Menahan Kepala, Menekan Hati"
Gatot Pudjiarto

Lagi-lagi saya menghadiri pameran tunggal seorang seniman di Selasar Sunaryo. Kali ini senimannya bernama Gatot Pudjiarto. Dua puluh menit terlambat dari waktu pembukaan yang direncanakan, rupanya pengunjung masih terlihat sepi. Mungkin sebenarnya tidak sepi karena saya yang membandingkan dengan pengunjung pameran sebelumnya, Agus Suwage, yang sangat membludak. Sambil menunggu pembukaan, saya membaca handout yang berisi karya-karya dengan sedikit interpretasi dari kurator. Saya berburuk sangka.

Seniman ini berasal dari Malang. Ia hanya artis lokal yang baru pameran di dalam negeri saja. Penghargaan yang diterima hanya satu: Juara III Pameran Peksiminas. Latar belakang pendidikannya adalah lulusan jurusan seni rupa di IKIP Malang. Sang kurator mengakui bahwa ia dan seniman tersebut - walaupun sama-sama dari IKIP Malang - mendapat pengaruh yang kuat dari ITB karena beberapa pengajar disana berasal dari ITB.

Acara pembukaan pun tidak m…