Skip to main content

Hikayat Buku Harian


Gambar diatas adalah buku harian ibu saya. Saya menemukannya tergeletak di atas tempat tidur. Sejenak saya tertegun mengapa ia membiarkan buku hariannya di tempat yang bisa dilihat orang lain. Rupanya ibu melihat saya kemudian ia berkata, "Baca saja."

Maka bacalah saya. Isi buku harian ibu sangat berbeda dengan buku harian saya. Tulisannya tegak bersambung, kaku, dan begitu tertata. Isinya tentang riwayat keluarga dan hal-hal pribadi lainnya. Selain itu, isinya penuh dengan berbagai tema. Oh, saya jadi mengerti, sepertinya ibu suka menulis. Jangan-jangan ketertarikan pada dunia menulis ini diturunkan dari ibu - karena setahu saya, ibu mempunyai buku harian lain yang lebih tebal.

Buku harian. Entah mengapa namanya harus buku harian, buku buku jam-an, bukan buku mingguan, bukan buku bulanan. Suatu benda pasti diciptakan karena ada kebutuhan yang mendasari. Lalu memangnya manusia butuh apa sehingga harus menciptakan buku harian lalu mengisinya dengan hal-hal pribadi yang tidak boleh dibagi kepada orang lain?

Saya memiliki banyak sekali buku harian semenjak SD. Kejadian paling parah adalah saya pernah membawa buku harian saya ke sekolah lalu dibaca oleh teman-teman. Isinya tentang rasa suka dengan salah satu teman laki-laki dan rasa sebal dengan salah satu teman perempuan. Tentu anak laki-laki yang mengambil buku harian saya menyebarluaskan isinya ke orang-orang yang ada di dalam buku harian. Maka si laki-laki ke-gr-an dan si perempuan marah.

Saya pribadi merasa senang sekali memiliki buku harian. Maka mulailah saya menciptakan tokoh khalayan dan berkomunikasi melalui buku harian. Ya, 'dear diary' itu pernah saya tuliskan, seolah-olah saya menulis surat kepada seseorang. Saya tumpahkan semua rasa di buku harian, tanpa ditutup-tutupi, tanpa malu, tanpa takut, dan lainnya.

Namun semenjak saya kuliah, saya sudah jarang mengisi buku harian karena saya sudah mengenal blog. Lalu saya menciptakan blog yang memang isinya layaknya buku harian yang kemudian dibaca oleh teman-teman saya. Lalu lama-lama saya merasa sok sekali karena buat apa juga tulisan format buku harian harus dituliskan ke sebuah media dengan maksud untuk dibaca oleh orang lain? Maka saya tutuplah blog itu. Sempat saya pergi ke toko buku dan mengisinya secara manual. Namun sayang, sekarang saya tidak punya waktu untuk mengisinya.

Kembali lagi ke buku harian ibu saya, sepertinya hampir semua orang pernah memiliki buku harian. Sepertinya betapa kesusahannya manusia untuk menganggung semua cerita tentang dirinya. Betapa pengalaman hidup itu tumpah ruah dalam hatinya sehingga harus melalui sebuah proses penyampaian emosi - tidak hanya pada buku harian saja, mungkin pada media yang lain. Katarsis.

Maka, teruskanlah menulis secara harian (walaupun tidak buku harian) karena sepertinya itu bisa menjadi media manusia untuk lepas dari dirinya, terutama ketika ia membaca kembali buku harian masa kecilnya, masa remajanya, masa dewasanya, menemukan hal-hal yang memalukan, dan mencoba untuk mengubahnya.

Comments

--- said…
dang, wish i can play musical instruments! >.<
andika said…
Sampul buku hariannya jadul banget, hehehe. Dulu ibu juga rajin menulis buku harian. Selain catatan keseharian, ibu juga nyimpan copy surat-surat yang dia tulis.

Gw juga punya buku harian yang ditulis on and off. Kalo mbaca lagi suka nyesel karena terlalu banyak halaman terbuang dengan ditulisi cerita tentang orang yang waktu itu lagi disuka.
Nia Janiar said…
@--- : Mbak Putri yah? Wish I can capture the world like you. Hehe.

@Andika: Wah, seru banget nyimpen copy surat-surat! Sama tuh, kadang jadi garing dan malu sendiri kalo bacanya. Kayaknya dulu - istilahnya - lebay.
M said…
wow. Kalau kita nanti pada punya anak, mereka bakalan suka nulis juga gak ya? :P
muhahaha

@Andika: copy surat? tulis tangan? berarti dia nulis pakai karbon dong? menarik.

Gimana kalau menulis jurnal atau surat jadi tema latihan menulis, gitu
Nia Janiar said…
Kalau enggak salah, latihan nulis surat tuh udah pernah deh.
saya.tika said…
seneng baca tulisan Nia yang satu ini. Saya punya 15 buku yang isinya perjalanan hidup saya dari jaman SMA sampai April taun ini -setelah itu gag semept nulis lagi-. Lumayan buat dibaca2 klo lagi suntuk... Bisa ketawa2 sampe nangis bacanya..

Saya ingin bs nulis pengalaman pribadi di blog -kaya Nia gitu-. Tapi belum bisa euy... kasih tips dong... gmn caranya biar gag terlalu terbuka, tapi ttp asli ceritanya ;)
Nia Janiar said…
Waduh, kalo masalah filter hal2 personal mah gak bisa diajarin, itu tergantung values yang kita miliki :)

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…