Skip to main content

Tersesat di Jakarta Bersama Eliana

Tadi malam, saya dan teman-teman Reading Lights Writer's Circle pergi ke Rumah Buku. Kami menonton screening Eliana, Eliana (2002) karya Riri Riza bersama Prima Rusdi. Tentunya teman-teman saya - dan juga saya - yang mayoritas penyuka film itu, tidak mau melewati screening filmnya, ditambah kehadiran kedua orang besar dibalik layar.

Ketika menerima undangan, saya mulai khawatir. Movie screening di Rumah Buku selalu dilakukan di halaman belakang, beralaskan rumput dan beratapkan langit, dan sekarang sedang musim hujan. Saya agak malas jika pantat saya basah akibat rumput yang terkena air hujan atau memang kehujanan beneran. Namun - seperti yang Budi (salah satu pengurus Rumah Buku yang setiap movie screening bertindak sebagai MC dan ini nama yang sebenarnya, bukan nama samaran) bilang - marilah kita berdoa sama-sama agar tidak hujan, maka tidak hujanlah malam itu. Sungguh, sepertinya ia bukan seorang MC biasa.

Eliana, Eliana bercerita tentang seorang perempuan bernama Eliana (tentunya) - diperankan oleh Rachel Maryam - yang kabur dari kota asalnya, Padang, karena dijodohkan oleh ibunya (Jajang C. Noer) oleh seorang diplomat. Lima tahun berada di Jakarta yang tidak jelas rimbanya, Eliana berkenalan dengan seorang perempuan yang bernama Heni (Henidar Amroe) yang kini menjadi sahabatnya. Ketika ia pulang kerja, ia menemukan ibunya sudah ada di rumah kontrakannya. Tentu aksi diam setelah lima tahun tidak bertemu dan hubungan pernah buruk terjadi antara Eliana dengan ibunya. Namun sebelum ngobrol panjang dengan ibunya, ia dihadapkan dengan konflik dengan sang pemilik kontrakan. Karena ia tidak bisa bayar, maka ia mengajak ibunya untuk melarikan diri.

Singkat kata, Heni menghilang entah kemana dan Eliana pergi keliling Jakarta untuk mencari Heni. Dihubungi beberapa kali ke handphone-nya, selalu tidak diangkat. Dalam pencarian Heni, ia dan ibunya melewati beberapa kenyataan tentang hubungan mereka yang sebenarnya. Aksi keras sang ibu membuat Eliana ini menjadi anak yang pemberontak. Dan, seperti yang dikatakan Riri Riza, mereka jadi saling menyadari bahwa mereka yang terlihat bertolak belakang itu memiliki kesamaan: sama-sama keras dan sama-sama ditinggalkan. Eliana yang ditinggal Heni dan ibunya yang ditinggal suaminya.

Maka akhir kata, bertemulah ia dengan Heni akibat kenyataan yang dibilang oleh ibunya. Apa kenyataan itu? Silahkan tonton sendiri. Selain itu banyak fakta menarik yang diucapkan oleh Riri Riza yang mungkin akan dituliskan oleh teman saya di website Rumah Buku. Tunggu saja update-annya. Saya kurang bagus di auditori.

Eliana, Eliana ini memiliki latar belakang tempat Blok M, Melawai, dan sekitarnya. Kehidupan keras ala Jakarta sungguh tercermin di film ini. Kota yang kotor, kota yang terus hidup 24 jam, kota yang penduduknya sibuk dengan profesi dan urusan sendiri-sendiri, kota yang didatangi banyak pendatang, kota yang bangunannya penuh dengan coretan, dan kota tempat orang mencari sesuatu. Entah uang, entah jiwa, entah sesuatu yang ingin ia buktikan di Jakarta. Saya jadi bertanya-tanya, apakah hal itu juga yang dirasakan teman-teman saya yang bekerja di Jakarta? Apa rasanya ketika menyadari bahwa mereka tua di jalan? Apa rasanya ketika weekend tiba lalu mereka berlomba-lomba update status Facebook mereka dan menyatakan 'Bandung, here I come. I'm home'?

Namun tidak selamanya menjadi buruk di ibukota. Banyak orang yang kehidupannya mungkin lebih baik setelah tinggal disana. Mungkin kalau di kota asal hanya jadi buruh biasa, ya di ibukota bisa jadi supir taksi. Mungkin kalau di kota asal hanya jadi pegawai biasa, ya di ibukota bisa memimpin sebuah divisi atau departemen di perusahaan. Mengadu nasib, istilahnya. Diadu sama siapa? Berapa taruhannya?

Sekitar pukul setengah 10 malam, diskusi dengan Riri Riza dan Prima Rusdi masih berlanjut. Banyak penonton yang hadir dan mengajukan pertanyaan. Namun saya dan teman saya sudah keburu lelah, mengantuk, dan kemalaman. Ganjalan kopi hitam Rumah Buku kurang ampuh untuk memompa mata saya hingga malam. Maka, pulanglah kami. Berjalan di Jalan Hegarmanah yang sepi dan gelap sambil membicarakan topik yang lebih menyenangkan.

Comments

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…