Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2009

Mengubah Paradigma Dari Dago Hingga Braga

Pada suatu sore, saya mengantarkan teman saya potong rambut di sebuah salon di Dago Plaza. Salon ini tidak pakai acara dikeramas atau diblow, hanya dicukur. Mirip seperti barber shop namun lebih bergaya - dengan penuh barang bertema rock n roll, pemudi dan pemuda. Model rambutnya pun bukan cepak saja, tapi mohawk, poni lempar, emo bagaimana, dan lainnya. Lebih mengejutkan, yang memotong rambut teman saya adalah seorang perempuan muda.

Teman saya menunjuk sebuah model rambut di majalah. Perempuan muda itu mengiyakan. Agak khawatir sebenarnya karena baru memotong beberapa helai rambut, perempuan itu melihat buku. Ya ... semacam pemain musik yang terus-terusan lihat partitur. Salah lihat not ya bisa salah juga mencetnya. Salah lihat model ya bisa salah juga motongnya. Namun untungnya hasil potongan rambutnya bagus.

Teman saya mengeluhkan kalau ia selalu pakai belahan pinggir kanan hingga terlihat agak kebotakan. "Ubah belahannya, yang semula kanan menjadi kiri, Mbak." Maka teman …

Spasi

Sore itu hujan. Dengan kuyup, seorang perempuan yang berusia 10 tahun mencari perlindungan. Agak susah mencari perlindungan karena ia sedang tersesat di belantara hutan. Ketika ia mencoba berlindung di bawah pohon beringin yang besar, tanpa disadari ia bersandar pada ranting-ranting yang menutupi sebuah lubang di batang. Tidak kuasa menahan berat badan, ranting-ranting hancur dan masuklah ia ke dalam lubang.
Beberapa menit kemudian, sebelum ia membuka matanya, ia merasakan sebuah hangat menjalar dari kaki hingga kepala. Belum lagi aroma sup ayam menelusup masuk ke hidungnya. Dibuka matanya perlahan-lahan, samar-samar ia melihat cahaya kuning kecokelatan yang menerangi seisi ruangan.
"Halo, sudah bangun?” tanya seseorang kepadanya. Dari suaranya, ia tidak bisa mengetahui suara itu berasal dari seorang perempuan atau laki-laki.

Perempuan itu terbangun. Dilihatnya seseorang berwajah merah dan berbintik tepat dihadapannya. Tingginya – mungkin – hanya 75 cm. Orang itu menyeringai. Lalu s…

Living Free

Manusia itu terjebak dalam rutinitas namun dinamis. Artinya setiap waktu yang dilewatinya (walau itu-itu juga), tapi manusia bisa mengisinya dengan apa saja. Dengan kegiatan-kegiatan, dengan pekerjaan, dengan pertemanan ... dengan cinta.

Maaf para pembaca, namun saya akan membahas cinta yang masuk ke dalam rutinitas kali ini. Tentunya tema cinta tidak tercetus dari saya, melainkan hasil pembicaraan antara saya dan teman-teman saya pada suatu malam. Agaknya lucu, oleh karena itu saya tulis disini.

Pernahkah kamu bercinta, wahai pembaca? Kamu menemukan orang lain yang mampu membuat hatimu naik turun tidak penting, membuatmu memikirkannya, membuatmu ingin memiliki, dan tidak ingin kehilangan. Dua sahabat saya sedang mengalaminya. Diawali proses pendekatan: komunikasi rutin dan seterusnya. Rutin. Konsistensi membuat orang itu mulai masuk ke kehidupanmu, membuatmu begitu kehilangan ketika rutinitas terhenti karena ia sudah menjadi bagian sehari-hari. Proses keluarnya ia dari rutinitas merupa…

Avatar: Perjuangan Si Inferior

Sudahkah Anda menonton Avatar? Kalau belum, segera tutup halaman ini, matikan internet dan komputer Anda, pergilah ke bioskop! Kenapa? Karena film ini begitu memanjakan secara visual dan plot yang mengalir. Warna-warna di film ini begitu menarik. Sekali lagi, tontonlah. Kalau bisa yang 3D. Namun selain masalah visual, unsur psikologis di film ini cukup kental. Ibarat makan makanan mahal tapi enak, pun film ini. Panjang. Padat. Kenyang.

Hati-hati. Tulisan ini akan menceritakan akhir cerita.

Jake Sully adalah seorang veteran yang memakai kursi roda. Dibawa ke planet Pandora, ia mendapat misi untuk mengusir penduduk pribumi Omaticaya karena pihak militer mau mengambil sumber daya alam di dalamnya. Jake Sully yang tidak bisa berjalan itu ditransfer ke dalam sebuah tubuh. Tubuh itu bisa berlari, tubuh itu bisa melakukan apapun yang tidak ia bisa.

Ketika di hutan, ia dikejar binatang buas sehingga menghantarkan pada Neytiri, seorang perempuan pribumi. Melalui proses penolakan oleh sukunya, pro…

Alkisah Bram

Waktu itu pukul sepuluh pagi. Kakak sepupu saya memanggil saya dan mengatakan bahwa ada seorang pria yang berdiri di pintu masuk mencari saya. Saya intip dari ruangan yang agak jauh. Oh, ternyata dia teman lama saya. Namanya Abraham. Bram, singkatnya. Ia melihat saya melambaikan tangan dari pintu masuk. "Sini. Masuk lewat pintu yang ini saja," ujar saya.
Lalu saya persilahkan ia duduk dan saya menawarkan minum jika ia mau. Ternyata ia menolak. "Cuma sebentar. Gue mau ke Gema."
"Apa itu Gema?"
"Gereja mahasiswa."
"Ohh ..."
Bram ingin membicarakan sebuah bisnis menulis. Saya tidak menawarkan diri saya karena saya belum kompeten dalam bidang menulis. Maka saya tawarkan teman saya yang sudah mempublikasikan bukunya. "Gue belum bisa bayar," ujarnya kecil.
Agak lucu karena Bram memperhitungkan masalah keuangan. Dia pernah sombong tentang apa yang namanya uang. Ia tidak tabu, blak-blakan, dan kalimat yang saya ingat betul: 'gue bisa m…

1999 - 2004

Waktu itu tahun 1999, umur saya masih 12 tahun. Saya masih cuek-cueknya, saya masih hitam-hitamnya. Kakaknya ibu saya mengenalkan saya pada seorang laki-laki yang sepertinya sebaya namun penampilannya agak lebih tua. Menyenangkan, kesan pertamanya. Sepertinya reaksi cepat akrab ini diperhatikan oleh keluarga sehingga keluarga saya mengarahkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Dilegalkan. Dikomitmenkan.
Setiap hari, semakin saya berhubungan dengannya, semakin berkurang kesenangannya dan semakin terlihat arogansinya. Ia seringkali menyuruh saya menyanyikan lagu-lagu yang belum pernah saya kenal. Suaranya indah namun kaku dan terlalu terstruktur. Kekakuannya membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa jika ia tidak ada di samping saya. Ini terus berlangsung hingga awal kuliah, hingga legalisasi ini resmi diselesaikan.
Hingga sekarang ia masih ada, orang-orang disekitar saya yang menuntut dia untuk selalu ada. Komitmen yang menjalankan kami berdua. Lalu saya mulai merasa ia membelengg…

Amor Fati

Konon katanya manusia yang hidup di dunia sudah diskenariokan jalan hidupnya namun masih bisa diubah itu namanya nasib. Kalau saya bisa ke rumah Tuhan, masuk ke dalam perpustakaan atau ruang arsip-Nya, hanya untuk melihat sebundel kertas yang berisi skenario hidup saya dan bagaimana saya nantinya, pasti akan seru sekali karena saya bisa merubah diri agar saya tidak gagal di kemudian hari.
Lalu pada kenyataannya, saya tidak bisa melihat skenario hidup saya dan tidak tahu saya nantinya bagaimana, padahal ini bisa diubah dengan pengembangan diri dan pilihan-pilihan yang saya buat. Tapi bagaimana jika pada prakteknya saya sudah berusaha merubah nasib namun lagi-lagi nasib membawa saya ke titik awal - ke titik yang tidak saya inginkan -- sehingga ada sebuah istilah: dimainkan oleh nasib? Malah sekarang, saya mulai mengibarkan bendera putih saya kepada nasib karena saya lelah pada harapan untuk berubah untuk mencapai suatu tujuan itu tidak tercapai dan saya pun menyerah. Terserah nasib mau m…

Lalu Lintas Ruang

Hari ini orang-orang di rumah saya sedang sibuk mempersiapkan sebuah pameran yang akan diadakan Sabtu ini. Beberapa furniture digeser, beberapa lampu dipasang, beberapa display ditambahkan, dan lainnya. Selain barang-barang yang berpindah, orang-orangnya pun sibuk mengurus beberapa hal: undangan, poster, menghubungi sang seniman, menata benda-benda, dan lainnya. Singkat kata, agak semerawutlah ruangan yang dulunya ruang tamu kini menjadi galeri.

Lalu dimanakah sekarang ruang tamu? Ruang tamu bercampur dengan ruang keluarga, kadang di ruang duduk-duduk yang kadang menjadi tempat nongkrong jadi-jadian. Lalu dimanakah ruang keluarga? Kadang tidak ada yang namanya ruang keluarga karena jika ada kunjungan ke rumah atau pengunjung galeri datang, ruang keluarga tiba-tiba tidak ada karena orang lain bisa hilir mudik dengan mudahnya. Ia hanya menjadi ruang dengan tempat duduk, beberapa meja, dan televisi. Atau jika saya dan teman-teman saya datang bermain band, maka ruang keluarga berubah menja…