Skip to main content

1999 - 2004

Waktu itu tahun 1999, umur saya masih 12 tahun. Saya masih cuek-cueknya, saya masih hitam-hitamnya. Kakaknya ibu saya mengenalkan saya pada seorang laki-laki yang sepertinya sebaya namun penampilannya agak lebih tua. Menyenangkan, kesan pertamanya. Sepertinya reaksi cepat akrab ini diperhatikan oleh keluarga sehingga keluarga saya mengarahkan hubungan kami ke jenjang yang lebih serius. Dilegalkan. Dikomitmenkan.

Setiap hari, semakin saya berhubungan dengannya, semakin berkurang kesenangannya dan semakin terlihat arogansinya. Ia seringkali menyuruh saya menyanyikan lagu-lagu yang belum pernah saya kenal. Suaranya indah namun kaku dan terlalu terstruktur. Kekakuannya membuat saya tidak bisa berbuat apa-apa jika ia tidak ada di samping saya. Ini terus berlangsung hingga awal kuliah, hingga legalisasi ini resmi diselesaikan.

Hingga sekarang ia masih ada, orang-orang disekitar saya yang menuntut dia untuk selalu ada. Komitmen yang menjalankan kami berdua. Lalu saya mulai merasa ia membelenggu saya, mengikat rantai-rantai di kedua tangan saya. Namun ia bisa membungkus perilakunya dengan baik sehingga kami terlihat akur. Keakuran ini yang membuat orang lain begitu ingin melihat saya dengannya. Cocok, katanya.

Lama kelamaan saya jadi bertanya-tanya, apakah laki-laki yang bersama saya selama bertahun-tahun itu cinta pertama saya ataukah tuntutan dari keluarga? Jika ini adalah sebuah tuntutan, agak hebat karena saya bisa tahan tujuh tahun bersamanya. Kini saya sedang melepas diri perlahan-lahan darinya namun tidak akan sepenuhnya saya tinggalkan. Dulu saya dilegalkan secara tidak sadar. Mungkin saya bisa mencari distraksi lain yang saya pilih dengan sadar - agar saya bisa sadar juga melepaskannya jika saya tidak kerasan.

Tapi, biarlah, akan terus kujaga ia.

Saya dan dia

Comments

Blup! said…
love is social construction? wahaha..
Nia Janiar said…
No, it's a metaphor.

Popular posts from this blog

Mirna.Sabrina.RealitaMedia

[Untuk mengenali tokoh, silahkan baca post sebelumnya]
Hari ini aku menghabiskan hari dengan menonton vcd di komputerku. Film yang aku tonton adalah film-film thriller psikologi. Bejo meminjamkan beberapa untuk satu minggu. Mataku terasa lelah, aku memutuskan untuk tidur. Namun sebelum aku sempat menutup mata, pintu kamarku diketuk.
Tok.. tok..
“Ya?” Aku bangun dari tempat tidur lalu melangkah gontai ke pintu lalu membukanya. Ada seulas senyum disana. Senyum sahabatku. Senyum yang hiperbola. Senyum yang menandakan butuh sesuatu. Senyumnya Sabrina.
Sabrina langsung membuka sepatunya dan menjatuhkan diri ke tempat tidurku.
“Ya ampuuunn.. siang bolong gini tidur.”
“Ralat.. hampir tidur!”
“Kok hampir sih? Tidur kok nanggung?”
“Ya kalau gue tidur, siapa yang mau buka pintu lo?”
Sabrina tertawa.
Sabrina adalah sahabat baikku. Aku, Sabrina dan Bejo selalu bersama-sama. Seperti Bejo, Sabrina dari Jakarta. Seperti Bejo, Sabrina pernah kuliah. Tapi ia mengambil jurusan yang berbeda dikampusnya sekarang.
“…

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…