Alkisah Bram

Waktu itu pukul sepuluh pagi. Kakak sepupu saya memanggil saya dan mengatakan bahwa ada seorang pria yang berdiri di pintu masuk mencari saya. Saya intip dari ruangan yang agak jauh. Oh, ternyata dia teman lama saya. Namanya Abraham. Bram, singkatnya. Ia melihat saya melambaikan tangan dari pintu masuk. "Sini. Masuk lewat pintu yang ini saja," ujar saya.

Lalu saya persilahkan ia duduk dan saya menawarkan minum jika ia mau. Ternyata ia menolak. "Cuma sebentar. Gue mau ke Gema."

"Apa itu Gema?"

"Gereja mahasiswa."

"Ohh ..."

Bram ingin membicarakan sebuah bisnis menulis. Saya tidak menawarkan diri saya karena saya belum kompeten dalam bidang menulis. Maka saya tawarkan teman saya yang sudah mempublikasikan bukunya. "Gue belum bisa bayar," ujarnya kecil.

Agak lucu karena Bram memperhitungkan masalah keuangan. Dia pernah sombong tentang apa yang namanya uang. Ia tidak tabu, blak-blakan, dan kalimat yang saya ingat betul: 'gue bisa menghasilkan sekian juta setiap bulan!' Mengapa saya ingat betul? Karena pada saat itu saya masih kuliah sementara ia baru pulang dari luar negeri kemudian mencoba berbagai usaha di negerinya sendiri. Saya masih gelap tentang kerja, ia terang benderang!

Ia bukanlah tipe orang kantoran. Ia hanya anak muda yang bersemangat tinggi dan nekat. Segala kesempatan untuk mendapatkan uang pun ia ambil: bertindak sebagai EO, manager band, sewa peralatan, hingga jual ular! Mengapa jual ular? Begini awal mulanya.

Alkisah saya memiliki sebuah jejaring pada seorang pemimpin LSM yang cukup baik dibilangan Bandung Selatan. Ingat, saya pernah tergila-gila dengan dunia sosial (hingga kegilaan itu mulai berhenti ketika saya bekerja sekarang). Bram sedang mencari LSM, maka saya tawarkan nomer kontak si pemimpin LSM itu. Beberapa bulan kemudian, setelah saya lulus, Bram menghubungi saya bahwa ia akan bekerja di LSM itu - sebagai relawan untuk korban trafickking - dan ia menawari saya untuk bergabung. Tergiur? Jelas, saya tergiur. Namun label relawan agaknya cukup mendapat perhatian penting bagi saya, mengingat pada saat itu saya baru lulus kuliah dan ingin mendapatkan penghasilan sendiri. Semenjak ia menjadi relawan dan saya mencari kerja, kami tidak berhubungan.

Hingga pada suatu hari, ia datang ke rumah saya, mendekati kakak sepupu saya untuk menawarkan sebuah bisnis. Setelah negosiasi dan kakak sepupu saya mulai respek terhadapnya, ia bertanya kepada saya, "Mau beli ular?"

Saya melongo. Pikiran saya merayap liar tentang membeli kandang, membeli tikus kecil untuk makanan, berpikir kalau saya sedang pergi ... siapa yang akan menjaga ular saya. Alih-alih berpikir seperti itu, mulut saya malah berkata, "Sejak kapan lo jualan ular?"

"Gue butuh dana buat LSM gue, Nia. Ikut gue cari ular yuk?"

Saya melongo dua kali. "Dimana??"

"Di kawasan Dago Pakar 'kan banyak ular, Nia. Biasanya gue sama temen gue hunting malam. Ternyata temen-temen gue di Jakarta banyak yang mau beli ular. Maka gue dan ular pun pergi ke Jakarta."

"Ke Jakarta pakai apa?"

"Pakai travel! Biasanya gue simpen di karung, ambil travel paling pagi. Tapi sebelumnya gue kasih makan tikus dulu. Ular kalau sudah makan, dia bakal diem!"

Jangankan ular. Tanpa makan, setelah mendengar ceritanya pun, saya menjadi diam. Kaku. Merinding. Jijik.

Semenjak kasus ular, kami tidak berhubungan lagi hingga ia datang ke rumah saya di hari Minggu pukul sepuluh pagi. Saya hanya mendengar kabar ia sering ke Jakarta untuk mencari donatur atau orang tua asuh untuk anak-anak korban trafickking. Lalu saya bertanya, "Elu masih kerja di LSM?"

Serta merta ia menjawab, "Gue udahan! Gue capek! Idealisme kalau enggak ada duit itu nothing! Realistis aja, laah ..."

Saya serasa mendapat angin segar. Kata 'realistis' yang ia ucapkan dianggap sebagai klimaks dari pertaubatan dia untuk me-reset ulang kehidupannya lagi dari nol. Seperti yang saya bilang, ia orangnya bersemangat dan nekat. Namun ia sama sekali tanpa perencanaan. Sudah saya katakan semenjak dahulu, tampaknya ia tidak mendengar. Hingga sekarang - entah apa yang membuatnya - ia insyaf. Taubat setelah khilaf.

"Gue belajar banyak dari LSM, terutama sikap toleransinya. Misalnya ketika LSM mengadakan acara dengan target peserta X, target yang lain X, dan X-X lainnya, kemudian kami tidak dapat mencapai target, maka itu bukanlah sebuah bencana ala perusahaan. Kami jadikan itu pelajaran. Tidak ada konsekuensi, hanya mengambil sisi baik dari kegagalan."

"Terus kegiatan elo apa sekarang?"

"Kuliah."

Ya itulah. Ia kembali lagi ke rumah saya, setelah me-reset ulang kehidupannya. Urusan di kampus yang membawanya. Mungkin saya bisa bantu karena - jangan lupa akan kata klimaks tadi - Bram sudah realistis.

Oh ya, saya baru ingat. Setelah bertahun-tahun kami berteman, kami tidak memiliki foto dimana kami berada di dalam satu frame. Maka, saya gambar perbandingan saya dan Bram. Mudah-mudahan terbayang.


Comments

Andika said…
Hahaha, jadi penasaran kelanjutan hidup Bram di dunia bisnis yang realistis ini.
muftisany said…
bukankah bram seharunys dikatakan tidak insyaf...idealisme harus berbenturan dengan realitas ya selamanya ?
Nia Janiar said…
@Andika: Konon katanya Bram akan ke klab hari Sabtu ini. Jadi, mgkn lo bisa tanya bgmn prediksinya di dunia yang realistis ini.

@Mufti: Harus dikoreksi bahwa saya tidak mengatakan bahwa idealisme Bram berbenturan dengan realitas SELAMANYA.

Begini,

Seperti yang sudah dijelaskan, Bram memang idealis (dan bersemangat) namun ia nekat dan tanpa perencanaan. Menurut saya itu salah dan saya menyebutnya khilaf. Bram dibilang insyaf karena ia sadar pada realitas 'idealisme nekat tanpa perencanaan'. Namun saya yakin, kalau Bram sudah punya perencanaan, Bram akan kembali ke idealismenya.

Lagipula kita hidup di realita, tidak melulu tentang ide.
muftisany said…
great, kali ini saya yang harus insyaf di bagian itu..nda cermat. semoga bram itu fact (karena mau ke klab he), salam..
astiti said…
Idealisme pasti terbentur dengan duit... hehe!
ya begitulah...
kita harus jadi orang separuh-separuh kalo mau banyak duit dan terlihat mulia.

Tapi ga ada yang salah dengan idealisme.
Itu kan pilihan.... cuma rencana memang harus matang supaya ga cuma idealisme ngotot tapi modal cuma dengkul. :)
Nia Janiar said…
idealisme ngotot tapi modal cuma dengkul.. saya setuju banget! :D

Popular Posts