Skip to main content

Avatar: Perjuangan Si Inferior

Sudahkah Anda menonton Avatar? Kalau belum, segera tutup halaman ini, matikan internet dan komputer Anda, pergilah ke bioskop! Kenapa? Karena film ini begitu memanjakan secara visual dan plot yang mengalir. Warna-warna di film ini begitu menarik. Sekali lagi, tontonlah. Kalau bisa yang 3D. Namun selain masalah visual, unsur psikologis di film ini cukup kental. Ibarat makan makanan mahal tapi enak, pun film ini. Panjang. Padat. Kenyang.

Hati-hati. Tulisan ini akan menceritakan akhir cerita.

Jake Sully adalah seorang veteran yang memakai kursi roda. Dibawa ke planet Pandora, ia mendapat misi untuk mengusir penduduk pribumi Omaticaya karena pihak militer mau mengambil sumber daya alam di dalamnya. Jake Sully yang tidak bisa berjalan itu ditransfer ke dalam sebuah tubuh. Tubuh itu bisa berlari, tubuh itu bisa melakukan apapun yang tidak ia bisa.

Ketika di hutan, ia dikejar binatang buas sehingga menghantarkan pada Neytiri, seorang perempuan pribumi. Melalui proses penolakan oleh sukunya, proses pembelajaran, maka diterimalah Jake Sully di kelompok tersebut hingga ia dihormati karena mendapatkan posisi tertinggi.

Jake Sully yang menderita paraplegia (gangguan fungsi sensori motor karena terganggunya sistem saraf pusat) dan tidak bisa berjalan tentunya membuat ia menjadi inferior. Ada sebuah konsep inferior yang dikemukakan Adler bahwa inferior tidak hanya masalah kecacatan tubuh tetapi perasaan-perasaan yang muncul akibat kekurangan psikologis atau sosial yang dirasakan secara subjektif maupun perasaan-perasaan yang muncul dari kelemahan atau cacat tubuh yang nyata. Bayangkan Jake Sully dalam kondisi seperti itu, ia berada di situasi yang menuntut kesempurnaan dan kekuatan fisik, pastinya ini berimbas pada sisi psikologisnya.

Ketika mendapatkan kesempatan transformasi ke tubuh yang lebih sempurna, tentunya ia tidak menyia-nyiakan. Adler berpendapat bahwa orang yang memiliki organ yang cacat seringkali berusaha mengkompensasikan kelemahan itu dengan jalan memperkuatnya melalui latihan insentif. Dalam kasus Jake Sully, ia melakukan pelatihan diri yang sistematis bersama Neytiri.

Bagian yang paling menarik adalah ketika Jake Sully merasakan bahwa dunia ini terasa terbalik. Dunia maya menjadi nyata baginya dan dunia nyata menjadi maya baginya. Terutama ketika ia bisa mendapatkan hormat pribumi setelah menaklukan binatang terbuas bernama Toruk dan Jake Sully menjadi pemimpin panglima disana hingga ia memutuskan untuk tinggal di Omaticaya selamanya.

Mengapa ia mau saja merelakan meninggalkan dunia nyata demi hal yang maya?

Adler percaya bahwa apa diperjuangkan manusia adalah kekuasaan yang melalui tiga tahap: menjadi agresif, menjadi berkuasa, dan menjadi superior. Adler berkata, "Mereka (manusia) berjuang mendambakan kemenangan, kekuasaan, rasa aman, peningkatan, entah dalam arah yang benar atau salah." Dorongan ke arah yang superioritas itu dapat menjelma dengan beribu-ribu cara yang berbeda. Menjadi avatar adalah cara Jake Sully yang -sayangnya - tidak konkrit.

Banyak sisi psikologis lain seperti reaksi melarikan diri (escape) dari nyata dan maya. Namun biarlah itu dibahas nanti saja (atau oleh orang lain) karena jika disatukan akan tumpang tindih.

Secara keseluruhan, ini film yang menarik.

Comments

M said…
menarik. menarik. aku mau memperpanjang itu maya dan nyata. bantu2 edit ya :D ahahah
Nia Janiar said…
Siaaap.
Neni said…
Wawww nia, ini tulisan bagus gt, saya selalu suka ilmu psikologi...

Kita nonton film yg sama, tp apresiasi sy hy sebatas: efek film nya keren, hutannya keren banget--bercahaya!! dll.

Btw, gw nonton dlm bhs jerman, jd hy mengerti aksi tdk ngerti dialog. dan mgkn krn itu, pas tmn gw nangis (usianya 13 thn tapi, eh ngaruh ya?), gw mah ti'is...
Nia Janiar said…
Huahahahaha.. Neniii.. kok masih belom bisa aja siih bahasa Jerman :P sok gini gue.

Bahasanya subtitle-nya aja, 'kan? Kalo ngmgnya tetep bahasa Inggris 'kan?
Brahm said…
Visualnya emang menakjubkan sih.
Nia Janiar said…
Kok pake 'sih'? :D
agee_gee said…
aku suka filmnya dan tulisan mu bu...

hei kawand mampirlah sesekali ke blog 'acak-kadut' ku(ga sah malu-2)...kao akan menemukan sesuatu yg ku 'iri'kan dr mu hihih...

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…