Lalu Lintas Ruang

Hari ini orang-orang di rumah saya sedang sibuk mempersiapkan sebuah pameran yang akan diadakan Sabtu ini. Beberapa furniture digeser, beberapa lampu dipasang, beberapa display ditambahkan, dan lainnya. Selain barang-barang yang berpindah, orang-orangnya pun sibuk mengurus beberapa hal: undangan, poster, menghubungi sang seniman, menata benda-benda, dan lainnya. Singkat kata, agak semerawutlah ruangan yang dulunya ruang tamu kini menjadi galeri.

Lalu dimanakah sekarang ruang tamu? Ruang tamu bercampur dengan ruang keluarga, kadang di ruang duduk-duduk yang kadang menjadi tempat nongkrong jadi-jadian. Lalu dimanakah ruang keluarga? Kadang tidak ada yang namanya ruang keluarga karena jika ada kunjungan ke rumah atau pengunjung galeri datang, ruang keluarga tiba-tiba tidak ada karena orang lain bisa hilir mudik dengan mudahnya. Ia hanya menjadi ruang dengan tempat duduk, beberapa meja, dan televisi. Atau jika saya dan teman-teman saya datang bermain band, maka ruang keluarga berubah menjadi ruang musik.

Pun begitu dengan garasi yang kini menjadi toko keramik namun jika malam hari kembali menjadi garasi karena barang-barang disingkirkan dan mobil dimasukkan. Begitu juga taman yang diisi dengan kos-kosan, atau lapangan parkir yang diisi juga dengan tempat workshop keramik. Bahkan ada kantor fotografi yang ikut beroperasi sana.

Jadi, jika ada kamu datang ke rumah saya, mungkin kamu akan bertanya seperti teman-teman saya yang sudah kemari: Ini rumah atau apa?

Bahkan kadang nama 'rumah' sebagai 'tempat yang nyaman' hilang karena terlalu banyak orang asing yang hilir mudik. Bahkan kadang yang si yang punya rumah harus merelakan privasinya demi orang asing yang lebih berkepentingan. Misalnya di sebuah tempat tongkrongan (kami menyebutnya cafe -- walaupun tidak seperti itu juga) dimana orang-orang berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu, lalu datanglah saya dan teman-teman saya dan melihat bahwa ruang 'cafe' sudah terpakai, maka saya jadi tidak bisa berada disana walaupun saya yang punya rumah.

Mengenai 'ruang', teman saya pernah menulis di blog-nya.

Ketika si pemilik mencanangkan bahwa sebuah ruangan difungsikan, menjadi sesuatu yang bisa digunakan, maka seiring dengan waktu, tercipta “nama ruang”. Memberi nama, kata Saussure, adalah sekaligus membedakan. Memberi nama kamar tidur, adalah sekaligus membedakan ia dari kamar mandi, restoran, gedung konser, dan galeri. Membedakan berdasarkan nama, maupun maknanya.

Dalam konteks tertentu, memang seringkali ada kegiatan “lintas-fungsi ruang”, seperti dalam restoran, ada juga musik klasik. Dalam tempat tidur, ada juga lukisan yang disimpan. Bahkan dalam kamar mandi pun, kadang ada lukisan ... Memang kombinasi tersebut menghasilkan estetika yang sangat memuaskan indrawi. Hanya saja, kegiatan lintas fungsi-ruang kurang menghasilkan kedalaman, akibat dikikisnya fungsi “profesional” ruangan.


Kalau dalam kasus lintas ruang di rumah saya, ibarat lalu lintas kota Jakarta, pasti sudah semerawut. Ruang keluarga tidak hanya menjadi ruang tamu, ruang kunjungan, bahkan ruang musik. Dan memang betul bahwa berkurangnya kedalaman membuat saya kurang "intim" dengan ruang dimana saya berada -- hingga semuanya mengecil dan menuju yang tidak pernah berganti fungsi yaitu ruang tidur.

Dalam pameran yang akan diselenggarakan nanti, saya yakin bahwa lalu lintas ruang akan begitu hiruk pikuk akan fungsi maupun penghuni. Orang-orang asing akan masuk dari depan hingga ke belakang, memerawani ruang-ruang.

Comments

Sundea said…
Keren, Ni ... tapi lagunya galau juga, ya ... hehehe ...

Video ini jadi nyambung sama apa yg lo tulis di bawahnya, "Lalu Lintas Ruang". Soalnya pas ada orang berransel lewat dengan cuek, suasana mencekamnya tau2 berubah dan gua nyadar kalo video itu diambil di rumah yg heterogen banget isinya.

Udah lama gua tau elu pemain piano, tapi baru di sini ini gua liat lo main piano ... hehehe ...
Nia Janiar said…
Haha, malah gue nggak ngeh, De, sama kenyambungan video dan tulisan padahal 2-2nya dibuat dalam tujuan yang berbeda.

Kalo denger, pas di awal video ada bunyi krat softdrink yang beradu gara2 si ponakan yang bawa ransel itu mau ambil minum. Di deket piano ada ruang tv yang dibelakang pintunya ada barang2 buat jualan makanan. Hehehe. Pokoknya ganggu banget.

De, mungkin lain kali lo posting di blog pas elo main piano. Gue juga belom liat :D

Popular Posts