Skip to main content

Living Free

Manusia itu terjebak dalam rutinitas namun dinamis. Artinya setiap waktu yang dilewatinya (walau itu-itu juga), tapi manusia bisa mengisinya dengan apa saja. Dengan kegiatan-kegiatan, dengan pekerjaan, dengan pertemanan ... dengan cinta.

Maaf para pembaca, namun saya akan membahas cinta yang masuk ke dalam rutinitas kali ini. Tentunya tema cinta tidak tercetus dari saya, melainkan hasil pembicaraan antara saya dan teman-teman saya pada suatu malam. Agaknya lucu, oleh karena itu saya tulis disini.

Pernahkah kamu bercinta, wahai pembaca? Kamu menemukan orang lain yang mampu membuat hatimu naik turun tidak penting, membuatmu memikirkannya, membuatmu ingin memiliki, dan tidak ingin kehilangan. Dua sahabat saya sedang mengalaminya. Diawali proses pendekatan: komunikasi rutin dan seterusnya. Rutin. Konsistensi membuat orang itu mulai masuk ke kehidupanmu, membuatmu begitu kehilangan ketika rutinitas terhenti karena ia sudah menjadi bagian sehari-hari. Proses keluarnya ia dari rutinitas merupakan proses yang menyebalkan benar - percayalah. Kadang tidak bisa sendiri, butuh distraksi, butuh orang lain.

Agaknya saya sedikit waswas dengan kedua sahabat saya di atas karena pasti akan ada saatnya orang-orang yang mereka suka itu keluar dari kehidupannya. Kalau gagal, jangan menangis! Sepertinya saya agak bersyukur - walaupun hambar - bahwa saya sedang tidak melewati rutinitas itu, yang artinya saya akan terbebas dari rasa menyebalkan itu, saya tidak akan menyakiti siapapun, saya tidak perlu khawatir kalau dia tidak menghubungi saya, dan lainnya. Terdengar defensif? Tapi ini melegakan! :D


"You don't need to know what I do all day,
It's as much as I know watch it waste away,
Cause I'll tell you everything about living free."

Wolfmother - Vagabond

Comments

Popular posts from this blog

Hi, Mucocele

Jadi, belakang ini saya bolak-balik rumah sakit karena ada sebuah benjolan di bibir bawah saya. Biasalah, saya ini tipikal orang lama, yang mudah menganggap benjolan sama dengan kanker, makanya saya periksakan diri ke dokter. Sebagai wartawan yang sering wawacara masalah kesehatan, saya menyadari kalau deteksi dini lebih baik daripada terlambat karena bisa ditangani dengan cepat. Walaupun hasil diagnosisnya menggetarkan hati, setidaknya jadi tahu apa yang dilakukan.

Dulu bibir bawah saya pernah bengkak. Saya pergi ke dokter umum di RS Pondok Indah Puri Indah. Bengkak lho ya, bukan benjol. Kata dokternya ini perpaduan sariawan sama pembengkakan jerawat di daerah dagu. Kebetulan saya lagi jerawatan. Duh, malu. Sama dokternya dikasih obat minum dan obat oles yang berbentuk gel dan rasanya manis. Hanya beberapa hari saja, bengkak sudah mengempis dan yang penting udah enggak sakit lagi. Ah, ini mah manja aja pengen buang-buang jatah asuransi. Cis.

Nah, kalau yang kemarin ini adalah benjola…

Pap Smear Pertama Kali. Menakutkan 'Kah?

Jadi saya mau cerita pengalaman saya tes pap smear untuk pertama kali. Karena tulisannya akan bercerita tentang vagina, tolong disikapi secara ilmiah ya. Haha. Eh ini berbahaya lho, jadi tidak boleh tabu.

Pap smear adalah hal yang perlu dilakukan oleh semua wanita, terutama yang sudah berhubungan seks. Bukan setelah menikah saja, karena banyak 'kan yang sudah berhubungan seks sebelum menikah? Hehe. Pap smear berguna sebagai pemeriksaan awal apakah seseorang mengidap kanker serviks (mulut rahim) atau tidak. Nah, kanker serviks dan kanker payudara ini adalah penyakit yang banyak merenggut nyawa wanita. Jadi sebaiknya deteksi dini dilakukan sebelum terlambat!

Jadi, sebelumnya saya sudah tahu info tentang bahaya kanker serviks karena saya pernah liputan tentang berbagai penyakit di kandungan dan wawancara dokter kandungan di sebuah rumah sakit di Jakarta Utara. Banyak wanita yang datang terlambat ke dokter karena kanker ini tidak berasa. Nyeri, terutama di daerah panggul, baru dirasak…

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Heh…