Spasi

Sore itu hujan. Dengan kuyup, seorang perempuan yang berusia 10 tahun mencari perlindungan. Agak susah mencari perlindungan karena ia sedang tersesat di belantara hutan. Ketika ia mencoba berlindung di bawah pohon beringin yang besar, tanpa disadari ia bersandar pada ranting-ranting yang menutupi sebuah lubang di batang. Tidak kuasa menahan berat badan, ranting-ranting hancur dan masuklah ia ke dalam lubang.


Beberapa menit kemudian, sebelum ia membuka matanya, ia merasakan sebuah hangat menjalar dari kaki hingga kepala. Belum lagi aroma sup ayam menelusup masuk ke hidungnya. Dibuka matanya perlahan-lahan, samar-samar ia melihat cahaya kuning kecokelatan yang menerangi seisi ruangan.


"Halo, sudah bangun?” tanya seseorang kepadanya. Dari suaranya, ia tidak bisa mengetahui suara itu berasal dari seorang perempuan atau laki-laki.


Perempuan itu terbangun. Dilihatnya seseorang berwajah merah dan berbintik tepat dihadapannya. Tingginya – mungkin – hanya 75 cm. Orang itu menyeringai. Lalu si perempuan menebarkan pandangannya ke seisi ruangan. Tampaknya ini bukan ruangan yang terdiri dari empat sisi dinding yang terbuat dari batu bata atau pasir. Ini adalah isi dari sebuah pohon beringin yang sangat besar!

“Kamu lapar?” tanya orang itu yang dibalas dengan gelengan kepala si perempuan.

“Kamu berasal dari mana? Dari atas?” tanyanya sekali lagi.

“Dari atas?”

“Iya, dari atas. Tempat dimana makhluk-makhluk besar seperti kamu berasal.”

“Oh, ya. Saya berasal dari atas.”

“Apa yang kamu lakukan di tengah hutan seperti ini?”

“Kalau tidak salah karena saya kehujanan lalu saya mencari tempat untuk berlindung.”

“Bukan, aku enggak tanya itu. Aku tanya kenapa kamu berada di tengah hutan?”

“Oh, aku mencari teman!”

“Memangnya tidak punya teman?”

“Ya ada sih. Hanya terkadang teman mempunyai waktu dengan kehidupan masing-masing yang harus dijalani sendiri-sendiri, tidak dibagi dengan teman lain.”

“Ayah dan ibumu?”

“Punya kehidupan masing-masing juga.”

“Oh,” tanggap orang kecil itu singkat.

“Kok cuman ‘oh’?” Perempuan itu merajuk jawaban yang lebih panjang.

“Karena aku membutuhkan spasi untuk aku berpikir.”

“Spasi?”

“Iya, spasi. Di otakku ini.” Ia mengetuk kepalanya. Agak berbunyi seperti kelapa yang diketuk oleh tangan. Bunyinya tuk … tuk …

“Mungkin teman-temanmu dan orang tuamu butuh spasi, kamu tahu itu?”

Si perempuan itu menggeleng.

“Kamu juga terkadang butuh spasi, kan?” tanya si orang kecil itu memastikan.

“Tapi daripada spasi, saya membutuhkan teman.”

“Oh.”

Lama kemudian, si perempuan bertanya lagi kepada orang kecil itu, “Kamu disini sendirian? Kamu tidak punya teman?”

“Aku punya teman. Tidak seperti teman-temanmu yang meninggalkanmu, temanku ini sangat lekat denganku. Saking dekatnya, aku butuh jarak, aku butuh spasi. Oleh karena itu, aku meninggalkannya. Agaknya jika dua orang terlalu dekat pun tidak baik.”

“Oh.” Gantian perempuan itu yang memberi tanggapan pendek. “Agak lucu ya. Kamu menjauh dari seorang temanmu, sementara saya mencari seorang teman.”

“Ya, memang lucu,” ujarnya sambil memindahkan sup ayamnya dari panci ke dalam sebuah mangkok yang kecil sekali. “Sebaiknya kamu makan karena kamu baru kehujanan dan kamu pasti kedinginan.”

“Enak sekali.” Si perempuan menyicipi sup ayamnya. Setelah menghabiskan sup ayamnya, ia mengobrol dengan orang kecil itu hingga ia merasa ngantuk dan tidur pulas. Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara gaduh, suara dua orang yang saling berteriak, dan suara benda-benda yang dibanting.

Ia membuka matanya, dilihatnya sebuah ruangan yang begitu dikenalinya. Ini adalah kamarnya.


Comments

Sundea said…
Dari cerita, sadar ada di kamar.
.Spasi.
Nia Janiar said…
Yang ini bahas spasi, yang itu bahas titik ;)

Popular Posts