Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2010

Tarot

Tadi siang saya menghadiri undangan ngobrol di salah satu rumah makan santai di daerah Dago bersama kedua teman saya: Tiwi dan Tegar. Mereka adalah teman kuliah saya yang sudah lama tidak bertemu. Jika kami bertemu pun, seringkali diisi dengan obrolan-obrolan psikologis, filsafati, nabati, dan hewani.

Ah, bercanda.

Sambil makan siang (saya memesan makanan dan minuman yang enak, serta cemilannya pun enak - tempat ini saya rekomendasikan), kami mengobrol hal-hal keseharian seperti pekerjaan, keinginan untuk sekolah lagi, konstruk kecantikan yang berangkat dari diskusi drama Korea yang digemari Tiwi, juga draft novel yang sedang ditulis Tegar.

Pada saat itu hujan, kami memesan makanan lagi. Setelah selesai dan berbasa-basi menunggu hujan berhenti, Tegar mengeluarkan sesuatu dari tas batiknya. "Saya sudah lama tidak main ini." Ia mengeluarkan cincin dikaitkan dalam sebuah untaian benang sehingga bentuknya seperti gantungan cincin. Maka dipegangnya benang itu sehingga cincinnya terj…

Mengapresiasi Bulan

Dulu, bulan pernah dianalogikan dengan kecantikan dan kegombalan. Untuk membuat senang pasangannya, biasanya orang menganalogikan 'kau cantik ibarat rembulan'. Mungkin karena cahayanya, mungkin karena bentuknya. Namun seiring dengan perkembangan zaman - terutama teknologi - terlihatlah wajah bulan yang karadakan alias tidak rata. Sekarang, kalau orang dibilang mirip bulan, pasti akan marah.

Kasihan si bulan, sekarang banyak yang tidak menyanjungnya dan melambangkannya sebagai kecantikan. Padahal bulan harus berburuk rupa untuk mempertahankan ketangguhannya berada di alam semesta.

Karadak yang secara alamiah biasa (ya gak biasa juga sih) disebut kawah-kawah di bulan terjadi karena tertabrak oleh meteorit. Beruntung dia, setelah dihujam beberapa kali, tidak hancur menjadi serpihan-serpihan bebatuan lainnya. Tidakkah kasihan kalau si tangguh yang kagak punya pelindung atau atmosfer itu harus dihina karena karadakan?

Agaknya manusia sulit menerima apapun yang jelek-jelek, tanpa mau m…

Menamai Benda-Benda

Untuk apa manusia hidup di dunia?
Mudah. Jawabannya adalah untuk menamakan benda-benda. Setidaknya ini jawaban yang diungkapkan Aristoteles. Selain menjawab, ia pun berhasil mengkategori dan mengklasifikasikan spesies biologi secara sistematis. Beri selamatlah pada Aristoteles.
Setelah dipikir-pikir, jangan-jangan memang benar kalau manusia hidup di dunia untuk menamakan benda-benda. Ini kursi, ini meja, ini hewan, ini tumbuhan. Karena - coba bayangkan - jika manusia bertemu dengan "sesuatu" di luar kategori atau klasifikasi, manusia cenderung menghindari "sesuatu" tersebut. Coba bayangkan sekali lagi kalau manusia tiba-tiba bertemu dengan sebuah makhluk kenyal yang berbulu, bertangan banyak dan bermata satu, kemudian makhluk itu bertanya 'halo, apa kabar?' mungkin manusia bisa terkejut.
Bahkan, saking manusia tidak tahu, manusia bersikukuh menamakan. Saya sadar ini ketika saya baca-baca buku tentang tata surya dan UFO. Menghayati kalimat unidentified flying o…

Kantung

Aku punya kantung di perutku, yang bisa kau titipkan benihmu, kemudian bersatu, membentuk darah yang menggumpal.
Aku punya kantung di perutku, yang bisa menyimpan manusia, dari kecil hingga besar, sambil berenang-renang.
Aku punya kantung di perutku, dimana si manusia ikut makan makananku, menyerap sari-sariku, dan juga tenagaku.
Aku punya kantung di perutku, namun kantung aku tutup, lalu aku angkat dan kubuang, agar kau tidak bisa menitipkan.

Maka Akulah Saci

Maka akulah Saci, yang membangun sebuah istana mewah bernama Vijayanta, untukmu, di tengah kota Amaravati.
Maka akulah Saci, yang memberi makan ternakmu, merawat tamanmu, mengambil minuman dan buah-buahan untukmu.
Maka akulah Saci, kini termanggu di Nanadana yang bercitra rasa surgawi, namun kau terlalu sibuk membuat kereta perang Suravithi.
Maka akulah Saci, tetap menunggumu pulang, tetap membasuh kedua kakimu, tetap membanggakanmu, Surapati - rajadiraja -
Raja para Dewa.


Alkisah Bram #2 Dan Dea

Bram, yang pernah saya ceritakan akan memulai misinya di dunia nyata, meminta saya untuk mencarikan narasumber untuk workshop tulis acaranya. Maka saya merekomendasikan teman saya, Dea, yang merupakan seorang penulis eksperimentalis dan sudah menelurkan tiga buah buku. Dengan latar belakang sastra Indonesia, Dea pastinya memiliki kerangka teoritis yang mumpuni dan lebih tahu seluk beluk dunia tulis.

Maka bertemulah kami dalam sebuah kedai fast food dibilangan Simpang Dago. Ketika saya datang, Bram sudah duduk di sebelah patung McDonald's (eh disebut juga) sambil menguap lebar-lebar. Begitu saya datang, saya langsung berkata, "Tutup dong." Bram berkata bahwa ia kurang tidur dan baru dari rumah sakit. Oh teganya saya.

Bagian kecil dari diri Bram

Lalu, setelah mencari tempat duduk yang lebih nyaman ketimbang bersebelahan dengan patung, Dea pun datang. Saya memperkenalkan Dea dengan Bram. Bram yang awalnya agak kikuk pun segera melancarkan misinya setelah ada adegan kode-kodean…