Alkisah Bram #2 Dan Dea

Bram, yang pernah saya ceritakan akan memulai misinya di dunia nyata, meminta saya untuk mencarikan narasumber untuk workshop tulis acaranya. Maka saya merekomendasikan teman saya, Dea, yang merupakan seorang penulis eksperimentalis dan sudah menelurkan tiga buah buku. Dengan latar belakang sastra Indonesia, Dea pastinya memiliki kerangka teoritis yang mumpuni dan lebih tahu seluk beluk dunia tulis.

Maka bertemulah kami dalam sebuah kedai fast food dibilangan Simpang Dago. Ketika saya datang, Bram sudah duduk di sebelah patung McDonald's (eh disebut juga) sambil menguap lebar-lebar. Begitu saya datang, saya langsung berkata, "Tutup dong." Bram berkata bahwa ia kurang tidur dan baru dari rumah sakit. Oh teganya saya.

Bagian kecil dari diri Bram

Lalu, setelah mencari tempat duduk yang lebih nyaman ketimbang bersebelahan dengan patung, Dea pun datang. Saya memperkenalkan Dea dengan Bram. Bram yang awalnya agak kikuk pun segera melancarkan misinya setelah ada adegan kode-kodean buruan-elo-ngomong-oi. Awalnya dari membicarakan masalah tulis menulis, Bram melancarkan misi keagamaan, lama-lama berbau sosial, lama-lama berbau politik, lama-lama berbau sayap kiri, lama-lama berbau Marx dan Nietzsche, lama-lama ... saya mikir agaknya Bram ini mabuk fungus. Ia orangnya serius. Dan kadang-kadang beringus.

Bagian kecil dari Dea

Runtut punya runtut, rupanya Dea kenal dengan adiknya Bram dan Bram pernah lihat Dea sebelumnya di komunitas filsafatnya UNPAR. Runtut punya runtut, rupanya humasnya Dea waktu launching buku Salamatahari #2 adalah adiknya Bram yang saya temui di Taman Lalu Lintas namun kenapa kok saya tidak ingat padahal sudah lama kenal (justru karena sudah lama) dan masih tidak ingat juga ketika bertemu di Braga Festival. Ah, memori.

Agaknya ajang perkenalan ini hanya mengkaribkan dua tali yang sudah kepalang tersambung. Semoga bisnis kedua teman ini berjalan lancar.

Comments

Sundea said…
Amiiin ... semoga bisa berbisnis dengan lancar ...

Popular Posts